Malaikat ku,
Cinta kita mungkin sebatas hawa dingin yang menyelimuti pagi itu. Semua berawal dari tatapan coklat mata mu yang tak pernah ku inginkan. Aku tahu semua ini hanya permainan. Cinta sesuatu yang terlalu langka bagi kita. Rasa itu ada, menyergap bak tentara padang hijau yang datang menyerukan sejuta nama mu. Bagaimana bisa aku mrnghalaunya. Kau mengetuk parau pada malaikat bersepedamu. Tapi tiba-tiba kau meragukan aku. Kau bilang kau telah tak sanggup mengayuh pedal sepedamu. Terlalu rapuh kah engkau? Takutkah engkau pada pautan usia kita. Dan aku… , aku tersesat pada belukar hutan pinus yang membuat ku semakin terjerumus. Di sana, ketika aku tak tahu jalan kembali, kutemukan cahaya malaikat lain. Dia menuntunku pulang dengan seberkas kilau yang nyaris padam di terpa badai duri dingin malam. Tapi ia berhasil meluluhlantakkan semua. Kau tak tahu betapa dilemanya aku saat ia menawarkan cintanya. Bahkan yang menyakitkan adalah saat kau malah ingin aku bersamanya. Kau mengatakan itu saat sjuta kekuatan telah ku kumpulkan untuk mengungkapkan rasa. Sekarang, telah ku pilih dia menjadi dawai dalam melodi yang pernah kau petik. Meski aku tak bisa menjadi peri untuk malaikat bersepeda mu. Tapi rasa yang dulu pernah ku katakan adalah nyata. Semoga aku bisa belajar mencintainya, seperti aku pernah mencintaimu…
No comments:
Post a Comment