Cerpen
KARTINI, JANGAN MENANGIS !
OLEH; MEILA R
Aku menepi di antara percikan gerimis. Kedinginan membuatku harus merapatkan tubuh di tepi tembok tempat ku berteduh. Hujan turun di tengah senja. Aku yang tadinya ingin segera pulang setelah menanti di batas lelah seharian memonitor di ruang kerja terpaksa menghentikan laju motor matic ku. Kukira dengan berteduh di halaman ruko ini adalah satu-satunya pilihan kalau tidak mau tubuh ku kuyup oleh air yang mengucur dari kanvas langit
Lamat-lamat ku dengar suara sayup berita di televisi. Si pemilik ruko yang kulihat sekilas adalah keturunan Tionghoa ini ternyata sedang memantapkan retina matanya menonton sajian berita. Telingaku tanpa kuperintah lagi mampu menangkap audio dari TV itu. Berita ternyata masih seputar itu-itu saja. Mungkin memang tak ada yang paling up to date belakangan ini selain partai partai politik yang terus berkualisi, rejeki dokter jiwa yang mengalami peningkatan mendadak akibat lahannya semakin lebar setelah caleg kalah yang membutuhkan jasanya, serta hingar bingar KPU yang masih memperhitungkan hasil quick count pada tiap Daftar Pemilih Tetap tiap wilayah. Ruang politik semakin menganga semenjak penduduk negeri ini berpesta demokrasi. Burung Garuda boleh saja tertawa karena falsafah pancasila yang ia junjung masih berkibar seperti merah putih di ujung tiang tinggi. Tapi tunggu, ada seorang menangis tak berapa jauh dari tempat ku berteduh,
“sudah ibu bilang kartini, jangan main hujan !”
“kartini bukan main hujan bu, kartini hanya mengamen tapi tiba-tiba hujan, uangnya belum cukup!”
Gadis kecil itu meretaskan air matanya menyatu dengan bulir hujan, bajunya lusuh debu basah yang liat.
“pulang
“tapi uang ini masih belum cukup bu! Bayaran sekolah Tini gimana! Besok Tini ujian!”
Ku kira wanita paruh baya ibunya itu akan sejenak menghiburnya atau paling tidak memberi pengertian bahwa obat bapaknya memang lebih penting. Tapi tidak, dengan sambil lalu ia malah berkata, “kau pikirkan saja sekolah mu itu kalau ingin bapak mu mati!”
Kartini terdiam, ibunya berlalu dengan cepat. Gadis kecil itu menimang wadah kecil di tangannya. Melihat kearah apotek di seberang jalan. Dan mungkin pikirannya telah terbingkai begitu penuh pilihan yang tak seharusnya ia pilih.
Air di ujung mataku pun jatuh juga. Teringat betapa mudah episode hidup ku jika dibandingkan dengan Kartini. Itu saja kadang aku kurang bersyukur. Dulu sewaktu aku seusia Kartini aku pernah merengek pada ibuku di belikan kebaya merah muda dan tusuk konde untuk memperingati hari Kartini di sekolah ku.
Dari tahun baholak dan mungkin sampai sekarang peringatan hari Kartini adalah sama. Wanita memakai kebaya dan jarik. Dan bagi laki-laki memakai blankon atau paling tidak celana panjang dengan baju batik. Event yang hanya terjadi satu tahun sekali itu, tepatnya pada 21 April. Setahu ku karena dihari itu beliau, pahlawan nasional kita, Raden Ajeng Kartini dilahirkan. Ibu ku pernah bercerita bahwa Kartini seorang wanita cerdas yang alam pikirannya mampu menembus alam pikir barat dan membentuknya menjadi wanita yang protes. Dalam terjemahan peninggalan surat-suratnya terbitan balai pustaka Armijn pane memberi judul “habis gelap terbitlah terang”. Di
Dan sekarang ada banyak perempuan terinspirasi olehnya.
Wahai ibu kita kartini, putri yang mulia*. Aku tahu kau disana menangis. Karena bukan perayaan kebangsaan berbau nasionalisme saja yang kau inginkan. Bukan hanya imej kebangkitann wanita saja yang kau ajarkan. Tapi lebih dari semua itu. Aku tahu kau disana pedih, melihat kartini kecilmu disini. Tapi bunda kartini, tentu saja bukan hanya kartini kecil itu yang menangis. Masih banyak kartini-kartini yang akan kau hibur jika kau melihatnya. Walaupun di tingkat dunia, sekjen PBB dalam pidato di New York menandai pembukaan sesi Commision on the sattus of women menandai 10 tahun setelah konferensi Beijing menyatakan, meskipun 10 tahun setelah Konforensi Beijing meletakkan rangkaian program aksi untuk mempercepat kesetaraan bagi perempuan, tetapi masih diperluikan aksi terfokus untuk memotung situasi masyarakat yang menempatkan perempuan pada posisi tertinggal.
Bunda kartini, masih banyak kartini yang menangisi nasibnya yang teraniaya menjadi TKW di negeri sana, kartini yang menjadi objek atas jual beli perempuan yang hampir membudidaya, dan Kartini yang terjebak dalam batas dunia malam akibat terjebak pula akan batas pendidikan. Dan sebagian mereka disini kerap menyalah artikan emansipasimu dengan cara mengukir karir setinggi jingga langit ketujuh, penyetaraan jender yang kebablasan, bahkan mengorbankan kodratnya sebagai perempuan. Bukankah dengan begitu, perempuan justru akan kalah dengan konsep emansipasi yang diciptakannya sendiri.
Kartini, jangan menangis dengan air mata retorika klise. Menangislah dengan hati.
. . .
*lirik lagu ibu kita Kartini karangan WR supratman
(penulis adalah mahasiswa FKIP b.indo UNJA)
No comments:
Post a Comment