Friday, February 20, 2026

Apa yang Terjadi Ketika Emosi Kolektif di Media Sosial Bergerak Lebih Cepat daripada Literasi?



Ramainya perdebatan antara sebagian K-Netz (netizen Korea Selatan) dan SEA-Bling (istilah media sosial untuk menyebut netizen Asia Tenggara yang dianggap “bersatu” dalam solidaritas digital lintas negara) membuat jagad maya diwarnai saling balas komentar yang cukup hangat. Isu ini bermula dari konser Day6 di Axiata Arena yang menarik penonton dari berbagai negara Asia Tenggara, lalu berkembang menjadi perdebatan lintas negara di media sosial.

Sejumlah komentar bernada stereotip dan merendahkan pun muncul, mulai dari membandingkan infrastruktur, sistem pemerintahan, hingga warna kulit dan isu rasis lainnya. Di tengah perdebatan tersebut, oknum warganet bahkan mendorong narasi untuk menjauh atau memboikot budaya populer Korea Selatan atas nama nasionalisme. Fenomena ini menunjukkan bagaimana emosi kolektif di ruang digital dapat dengan cepat berubah menjadi sikap reaktif yang mengatasnamakan identitas bangsa.

Perlu digarisbawahi: komentar-komentar tersebut bukanlah sikap resmi pemerintah Korea Selatan ataupun representasi masyarakatnya secara keseluruhan. Ia berasal dari sebagian pengguna media sosial, sebagaimana terjadi di banyak negara lain. Seperti biasa, suara yang ekstrem dan provokatif lebih cepat viral dibandingkan suara yang tenang dan moderat.

Di sinilah urgensi Global Citizenship Education (GCED) menjadi nyata. Di kelas-kelas saya di Korea, isu-isu seperti ini justru kami jadikan bahan diskusi kritis: bagaimana membedakan antara kebanggaan nasional dan eksklusivisme, antara solidaritas dan polarisasi. Kami membahas bagaimana sentimen digital dapat memperkuat bias, bagaimana stereotip terbentuk, serta bagaimana menjadi warga negara yang bertanggung jawab.

Saya memperkenalkan Indonesia bukan hanya melalui bahasa dan cerita, tetapi melalui nilai gotong royong, toleransi, dan kebinekaan. Hal yang sama saya tekankan di kelas-kelas saya di Indonesia: menghormati budaya lain tidak berarti kehilangan identitas. Nasionalisme yang matang tidak dibangun di atas penolakan, melainkan pada rasa percaya diri terhadap nilai dan karakter bangsa sendiri. Justru dengan memahami budaya lain, kita memiliki ruang untuk memperkenalkan budaya kita secara lebih bermartabat. Bahasa asing bukan ancaman; ia adalah jembatan untuk memperkenalkan budaya kita kepada dunia.

Saya meyakini bahwa dialog lintas budaya di ruang kelas jauh lebih produktif daripada debat di kolom komentar. Pendidikan memberi kita ruang untuk berpikir sebelum bereaksi. Meskipun hasil pendidikan memang tidak instan.

Mencintai Indonesia berarti menunjukkan bahwa kita adalah bangsa yang bermartabat, santun, dan cinta damai. Nasionalisme sejati bukan tentang siapa yang paling keras bersuara, melainkan siapa yang paling bijak menjaga martabat bangsanya.


Salam peace, love, and gaul.

Day 2 Ramadhan Mubarak.


Lampiran Dokumentasi Kegiatan IKTE 2025 di Korea Selatan;

























































































Jatuh Cinta

  Jika ada perasaan yang paling indah di dunia, mungkin salah satunya adalah jatuh cinta. Perasaan ini membuat seseorang tersenyum tanpa ala...