Tuesday, April 22, 2025

Kampung Tekuyung

Cerita Dongeng oleh: Meila Rosianika

 

Alkisah di sebuah desa bernama Desa Lubuk Resam yang ada di Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi, berdirilah sebuah kerajaan di bawah aliran Sungai Saluang. Kerajaan itu disebut dengan Kampung Tekuyung. Tekuyung adalah hewan air sejenis siput yang memiliki cangkang lebih keras.  Hewan ini hanya di temui di beberapa tempat. Salah satunya di Desa Lubuk Resam. Kampung Tekuyung dipimpin oleh raja yang arif bijaksana. Sang Raja sangat dicintai oleh rakyatnya. Ia juga dikenal sebagai seorang raja yang rajin berderma dan membantu sesama. Raja menggunakan kekuasaan dan kekayaannya untuk berbagi jika ada rakyat di kampungnya yang kelaparan.

Namun ternyata, suatu hari sekumpulan labi-labi menyerang Kampung Tekuyung. Kampung terlihat porak-poranda. Rumah-rumah warga tekuyung hancur tak bersisa. Sang Raja yang kebingungan lalu memanggil penasihat istana.

“Apa yang terjadi di kampungku?” tanya raja pada penasihatnya. Penasihat istana bercerita mengenai kronologi penyerangan labi-labi di kampungnya. Kemakmuran Kampung Tekuyung tersebar ke seluruh kampung di bawah aliran sungai. Tak semua warga kampung senang mendengarnya. Sekumpulan labi-labi ternyata telah lama menghimpun kekuatan untuk melakukan penyerangan. Raja di kampung sana sepertinya semena-mena. Hidup sekumpulan labi-labi penyerang tak semakmur warga tekuyung.

Penasihat istana menawarkan dua solusi atas permasalahan yang dihadapi di Kampung Tekuyung. Solusi pertama adalah melakukan serangan balas dendam pada labi-labi. Kerusakan yang dialami beberapa rumah warga tekuyung cukup parah. Harta istana akan terkuras untuk memperbaiki hunian para warga tekuyung yang terkena dampak serangan ini. Warga labi-labi harus diberikan pelajaran atas tindakannya ini.

Penasihat istana juga menawarkan solusi kedua. Solusi tersebut adalah fokus pada membangun kembali rumah-rumah warga tekuyung yang hancur dengan mengajak mereka saling bergotong-royong. Penasihat juga menyarankan raja bernegosiasi dengan raja di kampung labi-labi. Meminta raja labi-labi memberikan konsekuensi pada sekumpulan warganya yang menyerang kampung tekuyung. Penasihan berpikir tindakan tersebut akan memberikan efek jera pada sekumpulan labi-labi yang melakukan penyerangan.

“Aku marah sekali atas kejadian ini.” ungkap Raja Tekuyung. “Bagaimana bisa aku memaafkan penyerangan itu?” ungkap Sang Raja dengan geram.

Sang raja kemudian meminta waktu sejenak untuk berdiam diri di perpustakaan kerajaan. Ia harus memikirkan solusi yang akan ia ambil dalam keadaan tenang. Setelah tak berapa lama, Raja Tekuyung keluar dari perpustakaan istana. Ia menghampiri penasihat istana.

“Kita akan bergotong royong saja.” ujar Sang Raja pada penasihatnya. Raja Tekuyung memberikan imbauan kepada rakyatnya untuk saling bahu-membahu dalam membangun kembali rumah-rumah warga yang hancur akibat penyerangan labi-labi. Ia juga melakukan negosiasi dengan mendatangi Kampung Labi-Labi untuk membicarakan permasalahn tersebut. Menurutnya, para penyerang harus diberikan konsekuensi atas tindakannya sendiri. Raja Tekuyung juga menawarkan donasi ke Kampung Labi-Labi yang berasal dari dana kerajaannya.

Raja Tekuyung berpikir daripada uangnya dihabiskan untuk melakukan serangan balas dendam, lebih baik ia fokus pada akar masalahnya. Penyerangan terjadi karena perbedaan kemakmuran hidup antara rakyat tekuyung dan labi-labi. Siapa tahu, dengan berdonasi secara rutin ke Kampung Labi-Labi, kemakmuran warga di sana dapat terbantu. Sehingga tak ada lagi kecemburuan sosial di antara warga kampung yang satu dan lainnya.

Peristiwa penyerangan ini juga membawa hikmah yang besar bagi Kampung Tekuyung. Begitu mendengarkan imbauan Sang Raja, rakyat tekuyung saling bahu-membahu untuk mendirikan kembali rumah-rumah warga yang rubuh akibat penyerangan. Ketika Sang Raja meninjau langsung kondisi warga, mereka semua terlihat saling menghibur dan menyemangati satu sama lain.

Memang, ada beberapa warga tekuyung yang datang menemui Sang Raja. Beberapa tekuyung tersebut menyatakan kehendaknya untuk memberikan serangan balasan pada warga labi-labi. Namun, hal ini masih bisa diatasi dengan memberikan pengertian kepada rakyatnya bahwa penyerangan kali ini masih bisa dimaafkan karena tak ada korban jiwa. Lagi pula, jika kita ikuti kehendak untuk membalas penyerangan, tak menutup kemungkinan warga labi-labi lainnya akan menyerang kembali.

Tindakan saling menyerang antara warga tekuyung dan labi-labi hanya akan memicu kehancuran yang lebih banyak. Jika tekuyung dan labi-labi saling menyerang terus-terusan, kondisi bawah Sungai Saluang akan semakin kacau. “Kita harus saling bekerjasama menjaga kedamaain sungai ini,” ungkap Sang Raja. “Musuh sejati kita adalah manusia-manusia penambang illegal di atas sana.” tambahnya.

Menurut Sang Raja, manusia-manusia penambang illegal adalah perusak sungai yang sesungguhnya. Raja Tekuyung dan Raja Labi-Labi harus berkonsentrasi pada masalah yang lebih besar. Mereka perlu saling bekerja sama untuk menciptakan kedamaian dan kebersihan Sungai Saluang. Bukan malah memperkeruh keadaan yang diakibatkan oleh beberapa oknum labi-labi.

Semenjak saat itu, suasana kampung mulai berangsur membaik. Rumah-rumah warga yang menjadi korban penyerangan mulai tegak berdiri kembali. Proses pembangunan ini terjadi begitu cepat kerena warga tekuyung saling berkolaborasi dan bergotong-royong dalam membangunnya. Raja akhirnya juga memutuskan untuk memanggil penasihatnya kembali.

Menurut Sang Raja, kurikulum bergotong-royong perlu dimasukan dalam sekolah-sekolah yang ada di Kampung Tekuyung. Budaya ini sangat baik dan positif. Sang Raja tak ingin budaya yang damai ini hilang ditelan zaman. Budaya bergotong royong perlu ditanamkan sedini mungkin bagi para penerus dan anak-anak tekuyung di bangku sekolah. Ide ini juga disambut baik oleh penasihat istana. Penasihat menyebarkan informasi ini ke seluruh sekolah-sekolah di Kampung Tekuyung.

Kampung Tekuyung semakin makmur. Warga Kampung Labi-Labi tak pernah melakukan penyerangan kembali. Mereka hidup damai berdampingan di bawah tenangnya arus Sungai Saluang.

 

 


Jatuh Cinta

  Jika ada perasaan yang paling indah di dunia, mungkin salah satunya adalah jatuh cinta. Perasaan ini membuat seseorang tersenyum tanpa ala...