Monday, June 17, 2024

Menanamkan Karakter Keberagaman dan Sikap Toleran melalui Pembacaan Dongeng

 Oleh: Meila Rosianika - Fasilitator Bhineka Provinsi Jambi 2024

     Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dongeng diartikan sebagai cerita yang tidak benar-benar terjadi. Dongeng dapat bermakna sebuah cerita fiktif yang bersifat imajinatif. Artinya, kejadian dalam dongeng merupakan hasil cipta imaginasi penulisnya. Tujuan dari dongeng adalah memberikan penanaman nilai-nilai karakter pada pembaca lewat kisah yang diceritakan dalam dongeng. Sasaran pembacaan dongeng adalah pembaca dini dan pembaca awal dengan pendampingan orang dewasa di sekitarnya. Salah satu teknik membaca dongeng adalah read aloud. Read aloud atau dikenal pula dengan sebutan membaca nyaring merupakan kegiatan membacakan cerita maupun dongeng secara nyaring kepada anak. Kegiatan ini dilakukan terus menerus secara rutin dan berkelanjutan dari orang dewasa di sekitar anak usia dini baik oleh guru maupun orang tua. 



    Ada beberapa manfaat yang didapat melalui pembacaan secara nyaring ini, diantaranya adalah dapat memperkaya kosakata anak, melatih pola komunikasi dua arah dan menumbuhkan minat pada bidang literasi. Membacakan dongeng juga dapat melatih kemampuan berpikir kritis pada anak usia dini. Sajian kosakata dan masalah sederhana yang diangkat dalam dongeng dapat melatih anak untuk berpikir kritis. Pembaca nyaring perlu mengarahkan pembacaan pada penekanan-penekanan kalimat tertentu pada dongeng agar lebih menarik. Salah satu referensi bagi orang tua dalam membacakan dongeng adalah buku panduan yang merupakan salah satu produk kebinekaan dan telah dikeluarkan oleh Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbudristek). Puspeka sesuai dengan Permendikbudristek No. 28 Tahun 2021 adalah sebuah unit organisasi di Kemendikbudristek yang bertugas menyiapkan kebijakan teknis dan program penguatan karakter. 

    Penguatan karakter seseorang sebaiknya dimulai sedini mungkin dengan berbagai teknik dan pendekatan berkelanjutan sebagai tindakan preventif pada perilaku negatif. Pemerintah telah melakukan penyusunan enam seri dimensi, yaitu: 1) beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia; (2) berkebinekaan global; (3) bergotong royong, (4) bernalar kritis, (5) kemandirian dan (6) kreatif. Buku panduan yang dikeluarkan oleh Puspeka Kemendikbud ini adalah panduan bagi orang tua jenjang Pendidikan Anak Usia Dini. Materi yang terdapat di dalam buku ini adalah materi yang berkaitan dengan Profil Pelajar Pancasila. Bahasanya mudah dipahami dan dapat digunakan secara interaktif antara orang tua dengan anak-anaknya di usia dini. Buku panduan orang tua ini dapat diakses pada laman resmi Puspeka Kemendikbud pada tautan https://cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id/jenjang-paud/#1



    Buku panduan ini dapat menjadi pegangan bagi orang tua dalam mengenalkan keragaman dan toleransi untuk anak usia dini. Lembar interaksi dalam buku panduan ini dapat dipakai pula untuk melakukan aktivitas pembelajaran menyenangkan bersama anak. Selain buku panduan, Puspeka Kemendikbudristek juga mengeluarkan seri pembacaan dongeng pada tautan resmi kumpulan dongeng https://bit.ly/dongengpaudpedia yang berisi pembacaan dongeng. Orang tua dapat menjadikan laman ini sebagai referensi praktis dalam pembacaan dongeng pada anak usia dini. Tujuannya adalah agar orang tua dapat menjadi agen perubahan dan meningkatnya pemahaman mengenai konsep keberagaman dan sikap toleran. 

     Indonesia memiliki keberagaman etnis, suku, budaya dan agama. Keberagaman ini bukan alasan kita untuk bersikap intoleran pada sesama. Sikap intoleransi merupakan sebuah tindakan yang dilakukan untuk menghalangi kelompok tertentu untuk mendapatkan hak-hak dasar hidupnya yang dijamin oleh konstitusi. Semua dari kita memiliki peran dalam membentuk karakter keberagaman dan sikap toleransi. Keluarga merupakan elemen dasar penting yang menjadi salah satu landasan pembentukan karakter generasi berikutnya. Sebagai orang tua, mari kita mengambil peran untuk menyuarakan praktik baik penanaman karakter keberagaman dan sikap toleran terhadap sesama. Salah satunya dengan rutin membacakan dongeng bermuatan karakter keberagaman untuk membentuk sikap toleran pada anak-anak kita.

Sunday, June 16, 2024

PENERAPAN LITERASI KEUANGAN UNTUK BERTAHAN SECARA FINANSIAL


Oleh: Meila Rosianika

 

Wabah Covid-19 telah ditetapkan sebagai bencana nasional sejak Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2020. Namun laju penyebaran wabah tersebut masih ada sampai sekarang. Dampak munculnya virus ini bukan hanya dalam bidang kesehatan, tapi juga keuangan. Maraknya pengurangan tenaga kerja dan banyaknya lingkup bisnis yang gulung tikar menjadi tantangan tersendiri bagi setiap individu untuk tetap bertahan secara finansial di masa pandemi. Kondisi ini semakin menguatkan pentingnya literasi keuangan pada setiap individu. Pemanfaatan alur informasi digital yang saya peroleh dari berbagai sumber menyebutkan bahwa dengan memanfaatkan pengetahuan literasi keuangan yang baik, seseorang akan mampu mengelola kondisi finansialnya sendiri.

OJK atau Otoritas Jasa Keuangan telah melakukan edukasi agar bisa meningkatkan pemahaman masyarakat terkait daya keuangannya. Melalui data survei yang dikeluarkan oleh OJK dalam publikasi di situs ojk.go.id, didapatkan hasil bahwa  21,84% masyarakat termasuk bagian well literate atau memiliki pengetahuan serta memiliki keterampilan dalam menggunakan produk dan jasa keuangan, 75,69% termasuk sufficient literate atau memiliki pengetahuan dan keyakinan tentang produk dan jasa keuangan, 2,06% tergolong  less literate atau hanya memiliki pengetahuan saja, dan 0,14% masuk kebagian not literate atau tidak memiliki pengetahuan dan keyakinan terhadap produk dan jasa keuangan. Dapat kita simpulkan bahwa pengetahuan masyarakat Indonesia sudah dinilai cukup untuk bisa menggunakan fitur, risiko, hak, dan berbagai kewajiban yang ada terkait produk jasa keuangan.

Menurut lembaga Otoritas Jasa Keuangan (2013) menyatakan bahwa secara defenisi literasi diartikan sebagai kemampuan memahami, jadi literasi keuangan adalah kemampuan mengelola dana yang dimiliki agar berkembang dan hidup bisa lebih sejahtera di masa yang akan datang, OJK juga menyatakan bahwa misi penting dari program literasi keuangan ini adalah pemberian edukasi di bidang keuangan pada masyarakat agar dapat mengelola keuangan secara cerdas. Hal ini tentu bertujuan agar rendahnya pengetahuan tentang industri keuangan dapat diatasi serta masyarakat tidak mudah tertipu pada produk-produk investasi yang menawarkan keuntungan tinggi dalam jangka pendek tanpa mempertimbangkan risikonya. The Presidents Advisory Council Of Financial Literacy juga mendefinisikan bahwa literasi keuangan sebagai kemampuan untuk menggunakan pengetahuan serta keahlian untuk mengelola sumber daya keuangan agar tercapai kesejahteraan. Dapat disimpulkan dari dua pendapat tersebut bahwa literasi keuangan merupakan keahlian seseorang dalam menerapkan pengetahuannya di bidang keuangan untuk mengatasi permasalahan hidup sehari-hari. Berikut beberapa cara yang saya terapkan dengan memanfaatkan arus informasi digital dan beberapa buku pengetahuan untuk bertahan secara finansial di masa pandemi ini.

 

Gaya Hidup Minimalis

Salah satu metode dalam buku Seni Hidup Minimalis yang ditulis oleh Francine Jay mengajarkan prinsip trash, treasure, or transfer (buang, simpan, atau berikan). Trash untuk barang-barang yang sudah tidak memberikan manfaat lagi, treasure hanya untuk barang yang benar-benar kita butuhkan dan pakai, serta transfer untuk barang-barang yang masih dapat digunakan namun tidak kita pakai lagi. Dengan menerapkan hal-hal tersebut, kita akan lebih cermat melakukan pembelian di masa yang akan datang. Selain itu, mendonasikan barang-barang kita yang masih layak pakai akan memperluas kebermanfaatannya bagi orang lain.

 

Membeli Sesuatu karena Kebutuhan

Durasi waktu yang cukup lama saat melakukan aktivitas dari rumah saja menyebabkan peluang dan waktu yang cukup besar untuk menggunakan jasa dari platform belanja online. Adanya tawaran diskon, gratis ongkir dan fasilitas kredit bayar kemudian membuat kecendrungan pembelian barang bergeser dari yang tadinya membeli karena kebutuhan menjadi membeli karena keinginan mengikuti sesuatu yang sedang trend atau viral. Sebenarnya beberapa fasilitas pendukung dalam aplikasi belanja online tersebut dapat membantu pemenuhan kebutuhan sehari-hari tanpa harus berinteraksi dengan penjual secara langsung guna mengurangi penyebaran virus corona. Namun kita perlu lebih cermat lagi dalam membeli barang-barang yang memang kita butuhkan.

 

Selalu Sisihkan Dana Darurat

“If  you fail to prepare, you are preparing to fail.” Kutipan dari Benjamin Franklin tersebut berarti kalau kita gagal melakukan persiapan, maka kita sedang bersiap untuk gagal. Dapat dikatakan bahwa, dalam hal apapun, melakukan persiapan itu sangat penting termasuk dalam persiapan finansial. Selalu sisihkan dana darurat setiap kita mendapatkan penghasilan. Dana darurat merupakan dana yang disediakan secara khusus guna menghadapi kondisi keuangan yang tak terduga di masa yang akan datang. Kisaran jumlahnya bisa berbeda pada setiap orang, tergantung risiko pekerjaan dan jumlah tanggungan. Namun, setidaknya paling sedikit jumlah dana darurat kita sejumlah tiga kali pengeluaran pokok bulanan.

 

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.4

 

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan ini saya buat dengan mendeskripsikan peristiwa (fact), perasaan (feeling), pembelajaran (finding) dan juga penerapan (future) dari modul 1.4 tentang budaya positif yang terdiri dari beberapa materi seperti pergeseran paradigma pendidikan, lima positif control guru, disiplin positif, segitiga restitusi, kebutuhan dasar manusia dan teori motivasi.

1.       Peristiwa (fact)

Pada kegiatan modul 1.4 kami CGP harus mengenal ekplorasi konsep mengenai disiplin positif, teori motivasi, kebutuhan dasar manusia, lima posisi kontrol guru dan segitiga restitusi. Saya banyak mendapat ilmu tentang bagaimana menciptakan pembelajaran yang positif. Beberapa yang saya ingat adalah mengenai pembelajaran penerapan disiplin dalam menumbuhkan kesadaran peserta didik. Diantaranya adalah melalui pembuatan keyakinan kelas dan penanaman budaya positif.

 

2.       Perasaan (feeling)

Awalnya saya memiliki beberapa kekhawatiran mengenai penerapan materi pada modul 1.4 yang padat ini. Namun kemudian saya merasa materi di modul ini banyak sekali manfaatnya. Diantaranya saya jadi lebih mengetahui mengenai kebutuhan dasar manusia dari the choice theory Dr William Glasser. Teori tersebut memberikan pemahaman bagi saya bahwa manusia memiliki kebutuhan dasar yang harus dipenuhi sebelum dapat berlanjut pada pemenuhan kebutuhan lanjutan lainnya.

 

3.       Pembelajaran (Finding)

Pembelajaran yang saya dapatkan dari modul ini adalah materi mengenai keyakinan kelas. Sebelumnya saya belum pernah menerapkan keyakinan kelas. Setelah belajar pada modul ini saya mencoba menerapkan implimentasi pembuatan keyakinan kelas. Saya berharap melalui Langkah sederhana ini dapat menciptakan budaya positif di satuan pendidikan tempat saya mengabdi.

 

        4.Penerapan (Future)

Setelah pembelajaran pada Modul 1.1 selesai, saya sudah mulai berusaha menerapkan   budaya positif pada tempat saya mengajar. Saya mengimplementasikan keyakinan kelas dan menerapkan segitiga restitusi. Saya berharap semoga penerapan ini dapat saya lakukan secara berkelanjutan dan memberikan dampak positif dalam ruang lingkup yang lebih luas.

 

Demikian Jurnal Refleksi Dwi mingguan ini saya buat. Semoga banyak ilmu dan pembelajaran yang akan saya dapatkan lagi. Semangat bergerak dan memberi dampak.

Salam dan Bahagia!

Meila Rosianika

 

      

 

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.3

 



 

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan ini saya buat dengan mendeskripsikan peristiwa (fact), perasaan (feeling), pembelajaran (finding) dan juga penerapan (finding) dari modul 1.3 tentang Kanvas Bagja.

1.       Peristiwa (FACT)

Pembelajaran modul ini dimulai pada tanggal 3 April yaitu mulai dari diri dan ekplorasi konsep-mandiri. Pada LMS Mulai dari diri terdapat forum diskusi tentang Visi Guru Penggerak. Setiap Calon Guru Penggerak menuliskan visi masing-masing. Ruang kolaborasi dimulai tanggal 1-2 mei 2024 untuk berdiskusi tentang visi guru penggerak dan Pembuatan kanvas BAGJA. Kami dibagikan dua kelompok untuk berdiskusi pembuatan BAGJA. Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi masing-masing. Suasana diskusi kelompok sangat seru sekali karena setiap kelompok aktif dalam bertanya dan memberi saran. Kemudian pada tanggal 4 Mei 2024 kami Lokakarya 1 bertempat di SMK Negeri 13 Sarolangun. Kegiatan Lokakarya menurut saya sangat seru karena disini kami berkolaborasi dengan teman-teman CGP yang dari kelas lain yang sebelumnya kami belum kenal setelah dilokakarya 1 kami saling kenal dan bertukar pendapat tentang kesan selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak ini.

 

2.       Perasaan (feeling)

Perasaan saya setelah mempelajari modul 1.3 saya banyak mendapat ilmu karena disini kami belajar cara membuat Visi,Pernyataan Prakarsa Perubahan dan BAGJA dari ibu fasilitator dan ibu PP yang sangat luar biasa,dimana seorang Guru penggerak harus mempunyai Visi atau tujuan yang ingin dicapainya kemudian akan diterapkan di sekolah masing-masing.

 

3.Pembelajaran (Finding)

Pembelajaran yang saya dapatkan dari modul 1.3 tentang Tahapan pembuatan BAGJA:

a. Buat pertanyaan: digunakan sebagai penentu arah perubahan apa yang di inginkan

b. Ambil pelajaran: dalam melakukan tahapan ini, pengalaman individu,atau kelompok dapat diambil

c. Gali Mimpi: Menggali mimpi tentang perubahan yang ingin kita capai, mimpi haruslah realistis dan dapat dicapai.

d. Jabarkan rencana: Gambaran yang ingin kita capai kedepannya.

e. Atur eksekusi: Membantu tranformasi rencana menjadi nyata.

        4.Penerapan (Future)

Setelah pembelajaran pada Modul 1.2 selesai, saya sudah mulai berusaha menerapkan   Kanvas Bagja. Selain itu, saya juga menjabarkan rencana berupa Gambaran yang ingin saya capai ke depannya. Saya juga mengatur eksekusi guna membantu transformasi rencana menjadi nyata dalam Pendidikan dan pembelajaran saya.

 

Demikian Jurnal Refleksi Dwi mingguan ini saya buat. Semoga banyak ilmu dan pembelajaran yang akan saya dapatkan lagi. Semangat bergerak dan memberi dampak.

Salam dan Bahagia!

Meila Rosianika

 

      

 

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.2


Jurnal Refleksi Dwi Mingguan ini saya buat dengan mendeskripsikan peristiwa (fact), perasaan (feeling), pembelajaran (finding) dan juga penerapan (finding) dari modul 1.2 tentang Nilai dan Peran Guru Penggerak

 

  1. Peristiwa (fact)

Kami memulai pembelajaran pada tanggal 1 April 2024 modul 1.2 tentang nilai dan peran guru penggerak. Di LMS terdapat materi-materi tentang nilai dan peran guru penggerak yang bisa dibaca oleh calon guru pengerak, kemudian di LMS ada topik diskusi antara calon guru penggerak. Ruang kolaborasi modul 1.2 tentang nilai dan peran guru penggerak dilaksanakan pada tanggal 6 dan 7 April 2024 pada bulan ramadhan, diskusi calon guru penggerak dibagi menjadi 3 kelompok yang difasilitatori oleh ibu RUSYIAH,S.Pd,MM. Pada forum diskusi kelompok setiap Calon Guru Penggerak penyampaikan nilai dan peran guru penggerak yang sudah diterapkan di sekolahnya masing-masing.

 

 

  1. Perasaan (feeling)

Perasaan saya setelah mempelajari modul 1.2 saya sangat bahagia bisa mempelajari nilai dan peran guru penggerak,kalau saya jadi guru pengerak yang akan datang saya akan menerapkan nilai dan peran guru penggerak di sekolah saya.pertama yang saya terapkan adalah nilai dan pean guru penggerak yaitu pembelajaran yang berpihak pada murid dimana nilai ini lah adalah nilai yang harus sekali dimiliki oleh seorang guru penggerak untuk melakukan perubahan pembelajaran.

 

  1. Pembelajaran (Finding)

Pembelajaran yang saya dapatkan dari modul 1.2 tentang lima nilai dan peran guru penggerak yaitu: 1. berpihak pada murid, yang selama ini saya belum maksimal dalam menerapkan pembelajaran pada murid. 2. inovatif, seharusnya pendidik selalu inovatif dalam memberi pembelajaran pada murid 3. Mandiri, seorang pendidik harus mandiri dan berdikari pada setiap kegiatan 4. reflektif, seorang pendidik setelah pembelajaran selalu mengevaluasi dirinya 5. kolaboratif, seorang pendidik harus mampu berkolaborasi dengan kepala sekolah, teman sejawat dan unsur yang berkaitan dengan sekolah dengan baik.

 

        4.Penerapan (Future)

Setelah pembelajaran pada Modul 1.2 selesai, saya sudah mulai berusaha menerapkan   nilai-nilai guru penggerak yaitu mandiri, inovatif, berpihak pada murid dan reflektif. Selain itu, saya juga menerapkan pembelajaran yang menyenangkan agar dapat mencapai tujuan keselamatan dan pembelajaran dalam Pendidikan.

 

 

Demikian Jurnal Refleksi Dwi mingguan ini saya buat. Semoga banyak ilmu dan pembelajaran yang akan saya dapatkan lagi. Semangat bergerak dan memberi dampak.

Salam dan Bahagia!

Meila Rosianika

 

      

 

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.1

    Jurnal Refleksi Dwi Mingguan ini saya buat dengan mendeskripsikan peristiwa (fact), perasaan (feeling), pembelajaran (finding) dan juga penerapan (finding) dari modul 1.1 tentang Pemikiran Filosofi Ki Hajar Dewantara.

1.       Peristiwa (FACT)

Program Pendidikan Guru Penggerak (PPGP) dimulai pada tanggal 15 Maret 2023 dengan agenda pembukaan. Kegiatan ini dibuka langsung oleh Dirjen GTK Prof Nunuk Suryani,M.Pd. Setelah pembukaan pendidikan guru penggerak serentak dilakukan di virtual dilanjutkan lagi virtual oleh Balai Guru Penggerak Provinsi Jambi pada pukul 13.00 WIB. Pembukaan dibuka langsung oleh Kepala BGP Jambi, Bapak Budi Hartono dan dilanjutkan pengenalan LMS oleh ibu Rosi Purwati. Kami sebagai Calon Guru Penggerak (CGP) menyimak bagaimana cara mengisi tugas-tugas yang ada di LMS. Kemudian pada kegiatan awal yang kami lakukan di LMS adalah pretest. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui seberapa paham CGP memahami konsep pedagogi dan materi kependidikan lainnya.

Lokakarya orientasi secara luring juga dilakukan pada tanggal 23 maret 2023 di SMK Negeri 13 Sarolangun. Pada lokakarya orientasi, kami bertemu dengan Pengajar Praktik (PP) dan teman-teman CGP pada kegiatan lokakarya ini kami banyak mendapat ilmu dari ibu PP tentang program pendidikan guru penggerak kedepannya. Pada kegiatan modul 1.1 kami CGP harus mengenal ekplorasi konsep Pemikiran KHD. Saya banyak mendapat ilmu tentang filosofi Ki Hajar Dewantara. Beberapa yang saya ingat adalah mengenai pembelajaran harus berpusat pada anak. Pendidik atau guru sebagai pemimpin di kelas maupun di luar. Pendidik sebagai inspirator bagi murid harus dapat berupaya untuk memahami karakter murid sesuai kodratnya.

2.       Perasaan (feeling)

Awalnya saya memiliki beberapa kekhawatiran mengenai keikutsertaan saya dalam program ini. Kekhawatiran itu diantaranya adalah kecemasan mengenai tugas-tugasnya nanti. Selain itu juga khawatir tidak bisa memenuhi ekspektasi atasan dan rekan sejawat di sekolah mengenai keterlibatan saya dalam program ini. Namun pada saat lokakarya orientasi, kami dibimbing untuk mengidentifikasi mengenai kekhawatiran dan strategi mengatasinya. Secara perlahan, saya mulai membangkitkan rasa percaya diri saya mengenai program ini. Semoga saya dapat belajar dengan baik.

 

3.       Pembelajaran (Finding)

Pembelajaran yang saya dapatkan dari Program Pendidikan Guru Penggerak ini adalah mengenai pemikiran Filosofi KHD. Sebelumnya saya melakukan pembelajaran hanya berpusat pada guru. Saya juga sebagai guru belum memahami banyak tentang kodrat alam dan zaman. Setelah mempelajari filosofi pemikiran KHD tenyata pembelajaran harus berpusat pada peserta didik. Tugas pendidik hanya menebalkan garis bawaan pada diri siswa karena siswa bukanlah kertas kosong seperti teori tabula rasa.


4.Penerapan (Future)

Setelah pembelajaran pada Modul 1.1 selesai, saya sudah mulai berusaha menerapkan   pemikiran Filosofi Ki Hajar Dewantara yaitu pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Selain itu, saya juga menerapkan pembelajaran berdasarkan kodrat alam yang ada di lingkungan peserta didik. Misalnya dengan memanfaatkan permainan tradisional dengan metode based game team atau think pair share pada pembelajaran Bahasa dengan muatan kearifan lokal.

 

Demikian Jurnal Refleksi Dwi mingguan ini saya buat. Semoga banyak ilmu dan pembelajaran yang akan saya dapatkan lagi. Semangat bergerak dan memberi dampak.

Salam dan Bahagia!

Meila Rosianika

 

      

 

Nyesel Ikut CGP. Eh, baca dulu sampai selesai ya...

 CGP atau singkatan dari Calon Guru Penggerak merupakan kegiatan pelatihan dari Kemendikbudristek dengan durasi pelatihan yang cukup panjang. Seleksinya juga sangat ketat. Untuk menjadi peserta pelatihan, saya perlu melewati beberapa tahapan seperti seleksi esai dan wawancara. Jujur saja, saya menghindari untuk ikut kegiatan ini. Selain karena mager, di sekitar saya masih ada stigma negatif yang mengatakan bahwa peserta CGP adalah orang-orang yang ambisius untuk menjadi Kepala Sekolah ataupun Pengawas Sekolah. 




Hal ini memang tidak sepenuhnya salah, beberapa lulusan CGP memang diangkat dan dilantik menjadi pemimpin pembelajaran. Saya sendiri mengikuti kegiatan ini karena sedikit 'terpaksa'. Pertama karena saya diminta oleh atasan untuk mengikuti kegiatan ini, dan yang kedua karena sebelumnya saya telah dilibatkan oleh BGP (Balai Guru Penggerak) menjadi fasilitator pembelajaran berdiferensiasi dan tim penyusun modul diklatnya. Wah, malu rasanya saya menghindar terus untuk mengikuti kegiatan ini. Alhasil, saya ikut di angakatan ke-10 Kabupaten Sarolangun. 

Saat ini, saya telah menjalani hampir separuh kegiatan. Banyak hal bahagia yang saya rasakan melalui kegiatan ini. Ilmu dan pengetahuan yang saya dapatkan juga sangat bermanfaat untuk saya terapkan bukan hanya pada siswa-siswa saya, tapi juga sangat bermanfaat diimplementasikan pada mahasiswa-mahasiswa saya di jurusan PGSD UT Pokjar Sarolangun. 

Saya sendiri juga sangat ambisius dengan jabatan. Tapi bukan untuk menjadi kepala sekolah, melainkan kepala perpustakaan. Hehe. Sejak awal CPNS saya sudah mengincar jabatan itu. Alhamdulillah, saya berhasil mendapatkannya. Sederhana bagi orang lain, luar biasa bagi saya. Menjadi seorang pendidik sekaligus penggerak di bidang literasi sudah lebih dari cukup bagi saya. Alhamdulillah. Semoga berkah.

Sedikit menyesal ikut CGP. Menyesal kenapa baru ikut sekarang... Ternyata kegiatan ini snagat bermanfaat bagi saya dan lingkungan di sekitar saya. Bismillah, saya siap menyelesaikan apa yang telah saya mulai ini dengan ikhtiar terbaik saya.

Salam,
Pink Ranger yang menyamar dengan seragam hijau lemon di lokakarya dua PPGP Kab. Sarolangun.










Saturday, June 15, 2024

Learning Styles

 There are three type of learning style. Here they are;

1. Visual Learning Style

Is a learning style that emphasizes students in the visual field. Where children understand more about what they see, whether reading or looking at pictures or videos. The characteristics of children with a visual learning style are that they tend to be neat in appearance, speak quickly, often make scribbles, are thorough, are not easily disturbed by noise when studying, and prefer to read rather than being read to.

 

2. Auditory Learning Style

Auditory is a learning style that emphasizes students' audio function more than visual. They understand better if they have heard it, whether it's a teacher's lecture or a personal recording. The characteristics of children with an auditory learning style are that they appear independent and excel in interpersonal intelligence. When joking, they prefer to joke directly rather than having to read funny comics.

 

3. Kinestetic Learning Style

This kind of learning style is a style that utilizes body movements. Students with this type are very disadvantaged if they grow up in an environment that cannot understand them. Kinetic students will not capture information completely if they have to be forced to sit still without doing anything, they tend to move or play with whatever is nearby, speak more slowly than other styles, and are often expressive and full of movement when speaking.

 

 

 

Answer these questions to find your learning style!

1. When studying for daily assessments or tests, mid-semester assessments and end-semester assessments, do you choose:

a. reading notes, reading headings and sub-headings in books, and looking at diagrams and illustrations

b. asking someone to ask you a question, or memorize it silently alone

c. making notes on cards and create models or diagrams

 

2. What do you do when you listen to music?

a. fantasizing (seeing objects that match the music being listened to

b. sing along to the music

c. moving to the music, tap your feet to the rhythm, etc.

 

3. When you are solving a problem, do you:

a. making a list, organize steps, and check them off after the steps have been taken

b. calling a friend or expert to discuss the problem

c. describing (or analyze) the problem or carry out all the steps you think

 

4. If you read for entertainment, would you choose:

a. travel book with lots of pictures in it

b. a mystery story full of conversations in it

c. books that can answer your questions and solve your problems

 

5. To learn how computers work, would you choose:

a. watching a movie about how computers work

b. listening to someone explain how a computer works

c. taking the computer apart and try to find out for yourself how it works

 

6. You have just entered a science museum, such as a smart park, techno park, etc. What do you do first?

a. looked around and found a map showing the location of various objects on display

b. talk to the museum guard and ask him about the objects on display

c. look at the first thing that looks interesting, and only then read clues to the location of other objects

 

7. What type of restaurant or eatery do you not like?

a. a restaurant where the lights are too bright

b. a restaurant where the music is too loud

c. a restaurant where the chairs are uncomfortable

 

8. What do you think you do when you feel happy?

a. smile

b. shouted happily

c. jumping happily

 

9. If you were at a party, whether a wedding or something else, what would you remember most the next day?

a. faces of people in the party, but not their names

b. the names of the people in the party, but not the faces

c. something you do and say during a party

 

10. When you tell a story, do you choose to:

a. writing

b. telling it out loud

c. act it out

 

11. What bothers you the most when you are trying to concentrate?

a. visual disturbances

b. noisy sound

c. other disorders such as hunger, tight shoes, or worry

 

12. What do you think you do when you are angry?

a. pouting or making an angry face

b. shouting or “tantrum”

c. stomped loudly and slammed the door

 

13. What would you think you would do if you were queuing to watch the cinema?

a. looking at other film advertising posters

b. talk to the person next to you

c. tapping your feet or walking in another direction

 

14. Would you prefer to join:

a. painting class

b. music class

c. sport class

 

15. When you’re speaking, your speaking style tends to...

a. Fast

b. Rhythmic

c. Slow

 

16.  I am…

a. Able to plan and organize long-term activities well

b. Able to repeat and imitate the tone, changes and color of the voice

c. Proficient in doing puzzles, riddles, putting pieces together picture

 

17. I can remember well the information...

a. Written on the board or given through reading assignments

b. Conveyed through teacher explanation, discussion, or recording

c. Given by writing it down many times

 

18. I memorize something...

A. By imagining it

B. By saying it in a loud voice

C. While walking and looking around

 

19.  I find it difficult...

A. Remember verbal commands unless they are written down

B. Writes but is good at telling stories

C. Sit quietly for a long time

 

20. I prefer...

a. read rather than be read to

b. listening rather than reading

c. using models and practice or practicum

 

21. I like...

a. Doodling while on the phone, listening to music, or attending meetings

b. Read aloud and listen to music/talk

c. Tapping the pen, fingers, or feet when listening to music/talking

 

22. I prefer to do...

a. Demonstrations rather than giving speeches

b. Discussion and talking at length

c. Physical activity or outdoor activity

 

23. I prefer...

a. Fine arts rather than music

b. Music rather than fine arts

c. Sports and other physical activities

 

24. When working on something, I always...

a. Follow the instructions and pictures provided

b. Talking to other people or talking to yourself out loud

c. Figure out how it works while doing it

 

25. My concentration is disturbed by...

a. Irregularity or movement

b. noise or commotion

c. Activities around

 

26. I learn more easily through activities...

A. Reading

B. Listen and discuss

C. Practice or practicum

 

27. I talked to...

A. Short and not happy listening to long conversations

B. Fast and easy to listen to

C. Using body signals and expressive movements

 

28. To know someone's mood, I...

a. Look at the expression on his face

b. Listen to the tone of voice

c. Pay attention to body movements

 

29. To fill my free time, I prefer…

a. Watch television or see a show

b. Listen to the radio, music, or read

c. Playing games or working with your hands

 

30. When teaching something to others, I prefer ...

a. Show it

b. Tell it

c. Demonstrate it and ask them to try it

 

 
Conclusion and Recommendations

If your answers are mostly ‘a’

• You have a visual learning style

• You will achieve optimal learning if you utilize your visual abilities.

• You can make your own mapping or summary of subject material.

 

If your answers are mostly ‘b’
• You have a tendency towards an auditory learning style.

• Those of you who have a tendency towards an auditory learning style will achieve optimal learning achievement if you study the material by listening, either through direct explanations from the lecturer, discussions with the teacher and fellow students, or through recordings of the material

 

If your answers are mostly ‘c’

• You have a kinesthetic learning style tendency.

• Those of you with a kinesthetic learning style will achieve optimal learning achievements if you are directly physically involved in learning activities.

 

If the answers mostly ‘a’ and ‘b’

·     You have a combination of visual and auditory learning styles.

• There are certain things you will learn effectively if you use a visual learning style, and there are other things you will learn effectively if you use an auditory learning style. In fact, sometimes if both learning styles are used, it will be more optimal.

 

If the answers are mostly ‘a’ and ‘c’

• You have a combination of visual and kinesthetic learning styles.

• There are certain things you will learn effectively if you use a visual learning style, and there are other things you will learn effectively if you use a kinesthetic learning style. In fact, sometimes if both learning styles are used, it will be more optimal.

 

If your answers are mostly ‘c’ and ‘d’

• You have a combination of auditory and kinesthetic learning styles.

• There are certain things you will learn effectively if you use an auditory learning style, and there are other things you will learn effectively if you use a kinesthetic learning style. In fact, sometimes if both learning styles are used, will be more optimal.

Jatuh Cinta

  Jika ada perasaan yang paling indah di dunia, mungkin salah satunya adalah jatuh cinta. Perasaan ini membuat seseorang tersenyum tanpa ala...