Oleh: Meila
Rosianika
Wabah Covid-19 telah ditetapkan
sebagai bencana nasional sejak Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2020. Namun
laju penyebaran wabah tersebut masih ada sampai sekarang. Dampak munculnya
virus ini bukan hanya dalam bidang kesehatan, tapi juga keuangan. Maraknya
pengurangan tenaga kerja dan banyaknya lingkup bisnis yang gulung tikar menjadi
tantangan tersendiri bagi setiap individu untuk tetap bertahan secara finansial
di masa pandemi. Kondisi ini semakin menguatkan pentingnya literasi keuangan
pada setiap individu. Pemanfaatan alur informasi digital yang saya peroleh dari
berbagai sumber menyebutkan bahwa dengan memanfaatkan pengetahuan literasi
keuangan yang baik, seseorang akan mampu mengelola kondisi finansialnya
sendiri.
OJK
atau Otoritas Jasa Keuangan telah melakukan edukasi agar bisa meningkatkan
pemahaman masyarakat terkait daya keuangannya. Melalui data survei yang
dikeluarkan oleh OJK dalam publikasi di situs ojk.go.id, didapatkan hasil
bahwa 21,84% masyarakat termasuk bagian well literate atau memiliki pengetahuan serta memiliki keterampilan
dalam menggunakan produk dan jasa keuangan, 75,69% termasuk sufficient literate atau memiliki
pengetahuan dan keyakinan tentang produk dan jasa keuangan, 2,06%
tergolong less literate atau hanya memiliki pengetahuan saja, dan 0,14%
masuk kebagian not literate atau
tidak memiliki pengetahuan dan keyakinan terhadap produk dan jasa keuangan.
Dapat kita simpulkan bahwa pengetahuan masyarakat Indonesia sudah dinilai cukup
untuk bisa menggunakan fitur, risiko, hak, dan berbagai kewajiban yang ada
terkait produk jasa keuangan.
Menurut
lembaga Otoritas Jasa Keuangan (2013) menyatakan bahwa secara defenisi literasi
diartikan sebagai kemampuan memahami, jadi literasi keuangan adalah kemampuan
mengelola dana yang dimiliki agar berkembang dan hidup bisa lebih sejahtera di masa
yang akan datang, OJK juga menyatakan bahwa misi penting dari program literasi
keuangan ini adalah pemberian edukasi di bidang keuangan pada masyarakat agar
dapat mengelola keuangan secara cerdas. Hal ini tentu bertujuan agar rendahnya
pengetahuan tentang industri keuangan dapat diatasi serta masyarakat tidak
mudah tertipu pada produk-produk investasi yang menawarkan keuntungan tinggi
dalam jangka pendek tanpa mempertimbangkan risikonya. The Presidents Advisory Council Of Financial Literacy juga
mendefinisikan bahwa literasi keuangan sebagai kemampuan untuk menggunakan
pengetahuan serta keahlian untuk mengelola sumber daya keuangan agar tercapai
kesejahteraan. Dapat disimpulkan dari dua pendapat tersebut bahwa literasi
keuangan merupakan keahlian seseorang dalam menerapkan pengetahuannya di bidang
keuangan untuk mengatasi permasalahan hidup sehari-hari. Berikut beberapa cara
yang saya terapkan dengan memanfaatkan arus informasi digital dan beberapa buku
pengetahuan untuk bertahan secara finansial di masa pandemi ini.
Gaya Hidup Minimalis
Salah satu metode
dalam buku Seni Hidup Minimalis yang ditulis oleh Francine Jay mengajarkan
prinsip trash, treasure, or transfer (buang,
simpan, atau berikan). Trash untuk
barang-barang yang sudah tidak memberikan manfaat lagi, treasure hanya untuk barang yang benar-benar kita butuhkan dan
pakai, serta transfer untuk
barang-barang yang masih dapat digunakan namun tidak kita pakai lagi. Dengan
menerapkan hal-hal tersebut, kita akan lebih cermat melakukan pembelian di masa
yang akan datang. Selain itu, mendonasikan barang-barang kita yang masih layak
pakai akan memperluas kebermanfaatannya bagi orang lain.
Membeli Sesuatu karena Kebutuhan
Durasi
waktu yang cukup lama saat melakukan aktivitas dari rumah saja menyebabkan
peluang dan waktu yang cukup besar untuk menggunakan jasa dari platform belanja online. Adanya tawaran diskon, gratis ongkir dan fasilitas kredit
bayar kemudian membuat kecendrungan pembelian barang bergeser dari yang tadinya
membeli karena kebutuhan menjadi membeli karena keinginan mengikuti sesuatu
yang sedang trend atau viral. Sebenarnya beberapa fasilitas pendukung dalam
aplikasi belanja online tersebut
dapat membantu pemenuhan kebutuhan sehari-hari tanpa harus berinteraksi dengan
penjual secara langsung guna mengurangi penyebaran virus corona. Namun kita
perlu lebih cermat lagi dalam membeli barang-barang yang memang kita butuhkan.
Selalu Sisihkan Dana Darurat
“If you fail to prepare, you are preparing to
fail.”
Kutipan dari Benjamin Franklin tersebut berarti kalau kita gagal melakukan
persiapan, maka kita sedang bersiap untuk gagal. Dapat dikatakan bahwa, dalam
hal apapun, melakukan persiapan itu sangat penting termasuk dalam persiapan
finansial. Selalu sisihkan dana darurat setiap kita mendapatkan penghasilan.
Dana darurat merupakan dana yang disediakan secara khusus guna menghadapi
kondisi keuangan yang tak terduga di masa yang akan datang. Kisaran jumlahnya bisa
berbeda pada setiap orang, tergantung risiko pekerjaan dan jumlah tanggungan.
Namun, setidaknya paling sedikit jumlah dana darurat kita sejumlah tiga kali
pengeluaran pokok bulanan.
No comments:
Post a Comment