Meila
Rosianika – CGP Angkatan 10 Kabupaten Sarolangun
Tugas Demonstrasi Kontekstual Modul 3.1
Analisis Hasil Wawancara Terhadap Bapak Indra Sakti, S.Pd - Kepala SMKN
3 Sarolangun dan Bapak Amir Hamzah, M.Pd - Kepala SMAN 6 Tebo
1.
Praktik yang selama ini dijalankan
Pimpinan-pimpinan
sekolah yang saya wawancarai menyebutkan bahwa praktik yang selama ini
dijalankan dalam pengambilan keputusan adalah berdasarkan nilai-nilai kebajikan
yang luhur. Pak Indra mengatakan bahwa setiap sekolah memiliki karakteristik
masalah tersendiri sehingga membutuhkan waktu untuk mengenal dan mengambil
tindakan nyata atas permasalahan tersebut. Sedangkan Pak Amir melakukan
tindakan pengambilan keputusan berdasrkan manfaat yang paling banyak untuk
instansi yang dipimpinnya.
2.
Analisis praktik pengambilan
keputusan dilema etika dengan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan
keputusan
Pada
kepemimpinan dua tokoh yang saya wawancarai, baik Pak Indra ataupun Pak Amir telah
menerapkan tiga prinsip pengambilan keputusan yaitu berpikir berdasarkan
peraturan (rule based thinking), berpikir berdasarkan rasa peduli (end
based thinking) dan berpikir berdasarkan hasil akhir (end based thinking).
Adapun aspek paradigma yang ada dalam kepemimpinan tokoh ini adalah individu
lawan kelompok. Hal ini terlihat pada beberapa kutipan wawancara bahwa tidak
semua guru menyukai kepemimpinannya dan hasil keputusannya. Sebagai seorang
pemimpin, kita juga tida bisa disenangi oleh semua orang. Kita harus tegas
dalam menentukan batasan.
Pengambilan
keputusan melalui sembilan langkah dilakukan oleh Pak Indra dengan cara
terstruktur melalui identifikasi dan pengenalan masalah terlebih dahulu. Begitu
juga dengan Pak Amir. Kedua tokoh ini sepakat dengan budaya sharing dan
mendengar masukan dari anggota timnya. Setelah tahap identifikasi masalah,
tahapan berikutnya dalam pengambilan keputusan adalah menentukan siapa yang
terlibat dan mengumpulkan fakta yang relevan. Hal ini sejalan dengan apa yang
dikatakan oleh Pak Indra melalui proses hearing atas kendala bersama. Tahapan
keempat dalam pengambilan keputusan adalah pengujian benar salah seperti uji
legal, uji regulasi, uji publikasi dan uji tokoh yang belum tampak pada hasil
wawancara saya. Berbeda dengan tahapan paradigma berpikir dan prinsip resolusi
yang sudah kentara pada hasil wawancara karena Pak Indra memaparkan proses
berpikirnya berdasarkan peraturan dan Pak Amir berdasarkan kebermanfaatannya.
Prinsip resolusi yang dilakukan kedua tokoh ini adalah berpikir berbasis rasa
peduli (care-based thinking). Selanjutnya investigasi opsi trilemma belum
secara eksplisit dipaparkan dalam wawancara, namun sudah terlihat pada tahapan
pengambilan keputusan dan refleksi.
3.
Analisis dan refleksi atas hasil
wawancara
Setelah
melakukan wawancara bersama dua tokoh kepala sekolah ini, saya dapat mengambil
kesimpulan bahwa kedua tokoh kepala sekolah ini sudah piawai dalam melaksanakan
tugasnya sebagai seorang pemimpin. Adapun tantangan pada setiap profesi pasti
ada. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Saya mendapatkan pelajaran bahwa
keputusan yang kita ambil sebagai pemimpin harus berdasarkan nilai-nilai
kebajikan dan kemanusiaan.
4.
Hal Menarik dan Mengganjal
Dari hasil
wawancara, banyak hal menarik yang muncul diantaranya saya mendapatkan
inspirasi bagaimana menjadi seorang pemimpin dalam mengambil keputusan berdasarkan
nilai-nilai kebajikan. Selain itu, saya semakin tajam dalam mengasah kemampuan
dan pemahaman mengenai perbedaan antara bujukan moral dan dilema etika. Hal
yang mengganjal dalam diri setelah wawancara adalah mengetahui lebih banyak
lagi contoh kasus di lapangan mengenai dilema etika.
5.
Persamaan dan Perbedaan
Persamaan
dari kedua pemimpin yang saya wawancarai adalah sama-sama mengambil keputusan
berdasarkan proses pengumpulan data terlebih dahulu. Jadi keputusan diambil
bukan atas dasar pemilik kekuasaan melainkan berdasarkan beberapa pendapat
aktor pendukung yang ada di sekolah sesuai dengan kapasitas diri dan peran
masing-masing. Adapun perbedaan kedua pemimpin ini adalah Pak Indra mengambil
keputusan berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan sementara Pak Amir mengambil
keputusan berdasarkan kebermanfaatannya yang paling banyak.
Melalui
hasil wawancara saya menyimpulkan bahwa rencana kedua pimpinan ini adalah tetap
menjaga kualitas dirinya dalam memimpin suatu instansi. Hal ini dapat diukur
dengan cara yang bijak dalam proses pengambilan keputusan
Saya sendiri
berencana menerapkan prinsip dan paradigma pengambilan keputusan ini dengan
siswa dan rekan sejawat dalam waktu yang paling dekat. Saya berharap pada bulan
berikutnya, saya sudah dapat mengambil keputusan dengan teori akademis dan
berdasarkan nilai-nilai kebajikan yang luhur.
Lampiran Wawancara 1 – Indra Sakti, S.Pd, Kepala SMKN 3 Sarolangun
Selama ini, bagaimana anda dapat mengidentifikasi kasus kasus yang
merupakan dilema etika, atau bujukan moral?
Jawaban:
“Tentunya,
setiap masing masing sekolah mempunyai karakter masalah tersendiri dan individu
kepala sekolah memiliki strategi tersendiri untuk itu. Sebagai rujukan, ada tiga
prinsip yang dapat membantu saat menghadapi pilihan-pilhan yang penuh
tantangan, yakni berpikir berdasarkan hasil akhir nantinya, berpikir berdasarkan
peraturan-peraturan dan tata tertib yang sudah ada dan di sepakati, serta tak
kalah penting kita sebagai atasan berpikir berdasarkan rasa peduli.”
Selama ini , Bagaimana anda menjalankan pengambilan Keputusan di sekolah
Anda, terutama kasus kasus dimana ada dua kepentingan yang sama sama benar atau
sama sama mengandung nilai kebijakan?
Jawaban:
“Saya
sebagai kepala sekolah untuk membuat sebuah keputusan harus memahami bahwa
keputusan yang akan diambil hasilnya akan berdampak positif dengan berpegang
teguh pada peraturan dan mempertimbangkan sisi kebajikan atau kemanusiaan”
Langkah-langkah
atau prosedur seperti apa yang biasa Anda lakukan selama ini?
Jawaban:
“Dalam
mengambil kebijakan tidak semata-mata memutuskan sendiri tanpa mengidentifikasi
fakta-fakta dari permasalahan yang terjadi, seperti pengalaman saya di sekolah Kepala sekolah
tidak sendirian, misalkan saya; jika ada masalah saya mesti berkonsultasi
dengan bawahan yang kompeten, dan juga untuk mendapatkan hasil identifikasi
yang valid sangat
dibutuhkan
keterangan keterangan dari orang orang yang dekat dengan orang yang mempunyai
kasus, sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan”
Hal hal apa saja yang selama ini anda anggap efektif dalam mengambil keputusan
pada kasus kasus dilema etika?
Jawaban:
“Sharing
Masalah, kolaborasi pengambilan keputusan atau musyawarah merupakan salah satu
kunci yang efektif di sekolah saya dalam mengatasi dilema etika maupun bujukan
moral.”
Hal hal apa saja selama ini yang merupakan tantangan dalam pengambilan keputusan
pada dilema kasus-kasus etika?
Jawaban:
“Alhamdulilah
selang hampir lima tahun saya memimpin sekolah ini tantangan tantangan itu
boleh tidak begitu berarti. Waktu waktu lima tahun ini saya rasa sudah cukup
untuk memahami karakter karakter yang individu yang ada di sekolah ini, meski
tidak semua keputusan disukai oleh seluruh warga sekolah.”
Apakah Anda memiliki suatu tatkala atau jadwal tertentu dalam sebuah
penyelesaian kasus dilema etika, apakah anda langsung menyelesaikan di tempat,
atau memiliki sebuah jadwal untuk menyelesaikannya, bentuk atau prosedur
seperti apa?
Jawaban:
Saya
sebagai pribadi seseorang yang diberikan tugas tambahan sebagai Kepala Sekolah,
berprinsip setiap kasus harus diselesaikan sesegera mungkin, dan harus
diidentifikasi sesegera mungkin. Mungkin saja kasus tersebut bisa diselesaiakan
di tempat, atau harus dijadwalkan untuk menyelesaikannya sesuai prosedur yang
ada.
Lampiran 2,
Wawancara bersama Kepala SMAN 6 Tebo, Bapak Amir Hamzah, M.Pd
- Dilema
etika itu adalah sebuah keputusan/kasus yang harus dipilih dari dua hal
yang sama-sama benar. Misalnya, keputusan antara demi kepentingan
guru atau demi murid, demi orang tua atau guru, atau demi pribadi atau
sekolah. sedangkan kalau bujukan moral itu biasanya sebuah keputusan/kasus
yang harus dipilih antara sesuatu yang benar dengan sesuatu yang salah. Misalnya,
antara pergi urusan bisnis dengan urusan sekolah padahal ada jam dinas
sekolah, antara pungli dan tidak pungli, antara memukul siswa terlambat
dengan tidak memukul siswa terlambat.
- Untuk
yang sama-sama benar saya ambil keputusan berdasarkan pada yang paling
banyak manfaatnya bagi sekolah saya, jika keputusan itu banyak manfaatnya
bagi sekolah dan warga sekolah maka itulah yang saya ambil dan putuskan.
- Selama
ini dalam mengambil keputusan saya akan bertanya kepada beberapa pihak di
sekolah secara random, dari hasil jawaban mereka saya akan menarik
kesimpulan, kesimpulan saya itu akan saya cocokan dengan teori
akademis,lalu saya membandingkanya dengan praktik baik yang sudah pernah
ada dilakukan oleh saya atau kepala sekolah yang lain.
- Keputusan
yang paling efektif adalah keputusan yang dimusyawarahkan bersama-sama,
lalu disepakati bersama dan dikerjakan serta dipatuhi bersama. tidak lupa
minta petunjuk segala sesuatu kepada Allah tuhan yang maha Kuasa
- Tantangannya
biasanya penolakan dari beberapa warga sekolah yang merasa keinginan
pribadinya tidak terpenuhi.
- untuk
kasus yang saya anggap berat saya perlu waktu untuk tenang dan rilex
sejenak. Saya biasanya berdoa sehabis sholat mengadu pada Allah dan minta
petunjuk. (Tuhan penguasa langit dan bumi)
- Ada
beberapa kawan dan senior tempat saya bertanya jika mau ambil keputusan
dilema etika. faktor paling baik yang Allah.
- Pembelajaran
yang dapat saya ambil dari pengalaman mengambil keputusan dilema etika
adalah. “Jika kita ikuti aturan dan prosedur yang berlaku di Negara ini
serta peraturan yang berlaku dalam beragama maka segala sesuatu akan
terasa mudah dan ringan”