Friday, October 04, 2024

Menanamkan Karakter Keberagaman dan Sikap Toleran melalui Pembacaan Dongeng

 

Oleh: Meila Rosianika


 

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dongeng diartikan sebagai cerita yang tidak benar-benar terjadi. Dongeng dapat bermakna sebuah cerita fiktif yang bersifat imajinatif.  Artinya, kejadian dalam dongeng merupakan hasil cipta imaginasi penulisnya. Tujuan dari dongeng adalah memberikan penanaman nilai-nilai karakter pada pembaca lewat kisah yang diceritakan dalam dongeng. Sasaran pembacaan dongeng adalah pembaca dini dan pembaca awal dengan pendampingan orang dewasa di sekitarnya.

Salah satu teknik membaca dongeng adalah read aloud. Read aloud atau dikenal pula dengan sebutan membaca nyaring merupakan kegiatan membacakan cerita maupun dongeng secara nyaring kepada anak. Kegiatan ini dilakukan terus menerus secara rutin dan berkelanjutan dari orang dewasa di sekitar anak usia dini baik oleh guru maupun orang tua. Ada beberapa manfaat yang didapat melalui pembacaan secara nyaring ini, diantaranya adalah dapat memperkaya kosakata anak, melatih pola komunikasi dua arah dan menumbuhkan minat pada bidang literasi.

Membacakan dongeng juga dapat melatih kemampuan berpikir kritis pada anak usia dini. Sajian kosakata dan masalah sederhana yang diangkat dalam dongeng dapat melatih anak untuk berpikir kritis. Pembaca nyaring perlu mengarahkan pembacaan pada penekanan-penekanan kalimat tertentu pada dongeng agar lebih menarik. Salah satu referensi bagi orang tua dalam membacakan dongeng adalah buku panduan yang merupakan salah satu produk kebinekaan dan telah dikeluarkan oleh Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbudristek).

Puspeka sesuai dengan Permendikbudristek No. 28 Tahun 2021 adalah sebuah unit organisasi di Kemendikbudristek yang bertugas menyiapkan kebijakan teknis dan program penguatan karakter. Penguatan karakter seseorang sebaiknya dimulai sedini mungkin dengan berbagai teknik dan pendekatan berkelanjutan sebagai tindakan preventif pada perilaku negatif. Pemerintah telah melakukan penyusunan enam seri dimensi, yaitu: 1) beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia; (2) berkebinekaan global; (3) bergotong royong, (4) bernalar kritis, (5) kemandirian dan (6) kreatif.

Buku panduan yang dikeluarkan oleh Puspeka Kemendikbud ini adalah panduan bagi orang tua jenjang Pendidikan Anak Usia Dini. Materi yang terdapat di dalam buku ini adalah materi yang berkaitan dengan Profil Pelajar Pancasila. Bahasanya mudah dipahami dan dapat digunakan secara interaktif antara orang tua dengan anak-anaknya di usia dini.  Buku panduan orang tua ini dapat diakses pada laman resmi Puspeka Kemendikbud pada tautan https://cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id/jenjang-paud/#1. Buku panduan ini dapat menjadi pegangan bagi orang tua dalam mengenalkan keragaman dan toleransi untuk anak usia dini. Lembar interaksi dalam buku panduan ini dapat dipakai pula untuk melakukan aktivitas pembelajaran menyenangkan bersama anak.

Selain buku panduan, Puspeka Kemendikbudristek juga mengeluarkan seri pembacaan dongeng pada tautan resmi kumpulan dongeng https://bit.ly/dongengpaudpedia yang berisi pembacaan dongeng. Orang tua dapat menjadikan laman ini sebagai referensi praktis dalam pembacaan dongeng pada anak usia dini. Tujuannya adalah agar orang tua dapat menjadi agen perubahan dan meningkatnya pemahaman mengenai konsep keberagaman dan sikap toleran.

Indonesia memiliki keberagaman etnis, suku, budaya dan agama. Keberagaman ini bukan alasan kita untuk bersikap intoleran pada sesama. Sikap intoleransi merupakan sebuah tindakan yang dilakukan untuk menghalangi kelompok tertentu untuk mendapatkan hak-hak dasar hidupnya yang dijamin oleh konstitusi. Semua dari kita memiliki peran dalam membentuk karakter keberagaman dan sikap toleransi. Keluarga merupakan elemen dasar penting yang menjadi salah satu landasan pembentukan karakter generasi berikutnya. Sebagai orang tua, mari kita mengambil peran untuk menyuarakan praktik baik penanaman karakter keberagaman dan sikap toleran terhadap sesama. Salah satunya dengan rutin membacakan dongeng bermuatan karakter keberagaman untuk membentuk sikap toleran pada anak-anak kita.

 

Wednesday, October 02, 2024

Menebar Kebermanfaatan

 Hallo,

Pink Ranger di sini. Rasanya sudah lama tak menulis blog dengan cerita sehari-hari. Bersyukur blog ini masih eksis di layar maya. Blog ini dibuat dulu awalnya untuk mendokumentasikan tulisan-tulisan selama bekerja di gedung biru. Sudah hampir lima belas tahun berlalu. Ternyata keasyikan menulis berbagai hal random di sini. Sekarang platform ini juga digunakan untuk mengabadikan portofolio digital sebuah program pendidikan pemerintah yang sedang saya ikuti.

Namun kali ini, hanya ingin menuangkan pikiran di kepala yang penuh dengan cerita. Setiap hari saya menantang diri untuk menulis, membaca dan belajar. Entah banyak atau sedikit, entah yang berkaitan dengan profesional maupun personal, hitung-hitungan melatih diri untuk terus berpikir kritis. Aslinya diri ini kan agak sedikit lemot ya. Orang-orang sekitar yang sering berinteraksi dengan saya pasti tahu. Walaupun ada beberapa yang bilang pinter dan punya prestasi, tapi aslinya saya sebenarnya agak payah dalam menganalisis sesuatu. Makanya harus terus mengasah diri. Semoga dengan kebiasaan baik itu Allah ridho.

Hari ini senang sekali bisa bantu rekan sejawat yang melaksanakan ujian kinerja PPG. Sebenarnya dari kemarin-kemarin sudah ikut kontribusi bantuin buat modul, bahan tayang sampai pengambilan video. Bukan itu saja, beberapa hari terakhir memang disibukan juga dengan review naskah dan video pejuang HGN yang akan bertarung di Jambore GTK Hebat 2024. Senang rasanya bisa menebar manfaat yang banyak. Namun tentu harus ada beberapa yang saya tolak halus karena sudah kebanyakan. Keinginan untuk menebar manfaat juga harus disesuaikan dengan kapasitas diri dan waktu. Biar bagaimanapun, tugas domestik diri ini juga banyak. Hehe.

Mengawali pagi dengan membaca hampir tiga puluh halaman buku Kemarau-nya AA Navis. Insyaa Allah besok siap produksi tulisan untuk resensi tulisan AA Navis di KBPJ. Bismillah, semoga lancar. Setelahnya mengajar seperti biasa. Pink Ranger masih mengabdi di tempat yang sama setelah sembilan tahun lamanya. Sebuah desa yang banyak mengajarkan tentang kebermanfaatan. Tadi pagi senang rasanya disapa mahasiswa Pink Ranger di jalan. Ada beberapa mahasiswa UT juga tinggal di desa ini. Siapa yang tidak senang disapa dengan hangat. Semacam mood booster untuk memulai hari. 

Oh ya, kemarin Pink Ranger mendapatkan WA dari seorang siswa bernama Fahri untuk mengingatkan sholat dzuhur. Saat WA itu tiba, saya dan rekan sejawat sedang makan-makan di kantin sekolah. Ada alumni kami juga  bernama Yosi yang bersyukur telah mendapatkan pekerjaan di sebuah rumah makan. Saking beryukurnya, ia mengirimkan traktiran makan siang untuk kami guru-gurunya di sekolah. Wah romantis ya. Di tengah hiruk pikuk dunia yang kadang suka tak berjalan sesuai rencana, ternyata saya punya Yosi dan Fahri. Mengingat mereka saja sudah membuat sejuk. Terimakasih ya, Nak. Terimakasih sudah menjadi bagian dari cerita baik dalam hidup ibu.

Hari ini pulang ke rumah, masih sempat tidur siang. Sebuah waktu berharga yang layak pula disyukuri. Walaupun impian kerja di gedung-gedung tinggi belum tercapai, tapi Allah ganti kenikmatan hidup dengan indahnya punya waktu bisa tidur siang. Sepertinya tak banyak orang sibuk yang memilikinya. Tidur siang tadi mengembalikan energi yang terkuras habis sejak subuh. Yup, no one said parenthood was easy. Salah satu yang menguras tenaga adalah mengurus dua bocil. Setelah tidur siang, kualitas sabar biasanya menebal kembali. Lalu sorenya bertarung di dapur sejenak untuk masak dan menghabiskan makan malam bersama si ayang dan anak-anak. Setelah makan malam selesai, kita seperti biasa berbagi tugas. Bunda mencuci piring, ayah membacakan cerita adik dan kakak membereskan meja makan. Dari dapur bunda dengar, ayah membacakan buku berjudul "Rania Begawak Dup-Dup Api". Wah itu karya bunda. Karya itu diterbitkan dan menjadi milik negara. Salah satu pencapaian yang indah dalam hidup saya karena berhasil mengabadikan sebuah permainan tradisional dari tanah pengabdian ini dalam bentuk buku cerita anak. Kontribusi saya di bidang literasi ternyata bukan hanya sekedar membaca, menulis dan berdaya, tapi bersyukur kerap dilibatkan sebagai narsumber maupun fasilitator literasi baik daerah maupun nasional. Lumayan sebagai selang-seling kegiatan mengajar. Semoga dengan jeda yang manfaat itu menjadi pemantik semangat untuk terus berdaya. Alhamdulillah, banyak bersyukur sering dikelilingi orang-orang baik. 
bonus foto perbandingan Meila yang sekarang dan Meila lima belasan tahun lalu, haha



Love,

Pink Ranger


Thursday, August 08, 2024

Wawancara Mengenai Pengambilan Keputusan Berdasarkan Nilai-Nilai Kebajikan

Meila Rosianika – CGP Angkatan 10 Kabupaten Sarolangun

Tugas Demonstrasi Kontekstual Modul 3.1

                                                                                                   

Analisis Hasil Wawancara Terhadap Bapak Indra Sakti, S.Pd - Kepala SMKN 3 Sarolangun dan Bapak Amir Hamzah, M.Pd - Kepala SMAN 6 Tebo

1.     Praktik yang selama ini dijalankan

            Pimpinan-pimpinan sekolah yang saya wawancarai menyebutkan bahwa praktik yang selama ini dijalankan dalam pengambilan keputusan adalah berdasarkan nilai-nilai kebajikan yang luhur. Pak Indra mengatakan bahwa setiap sekolah memiliki karakteristik masalah tersendiri sehingga membutuhkan waktu untuk mengenal dan mengambil tindakan nyata atas permasalahan tersebut. Sedangkan Pak Amir melakukan tindakan pengambilan keputusan berdasrkan manfaat yang paling banyak untuk instansi yang dipimpinnya.

 

2.     Analisis praktik pengambilan keputusan dilema etika dengan 4 paradigma, 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan keputusan

Pada kepemimpinan dua tokoh yang saya wawancarai, baik Pak Indra ataupun Pak Amir telah menerapkan tiga prinsip pengambilan keputusan yaitu berpikir berdasarkan peraturan (rule based thinking), berpikir berdasarkan rasa peduli (end based thinking) dan berpikir berdasarkan hasil akhir (end based thinking). Adapun aspek paradigma yang ada dalam kepemimpinan tokoh ini adalah individu lawan kelompok. Hal ini terlihat pada beberapa kutipan wawancara bahwa tidak semua guru menyukai kepemimpinannya dan hasil keputusannya. Sebagai seorang pemimpin, kita juga tida bisa disenangi oleh semua orang. Kita harus tegas dalam menentukan batasan.

 

Pengambilan keputusan melalui sembilan langkah dilakukan oleh Pak Indra dengan cara terstruktur melalui identifikasi dan pengenalan masalah terlebih dahulu. Begitu juga dengan Pak Amir. Kedua tokoh ini sepakat dengan budaya sharing dan mendengar masukan dari anggota timnya. Setelah tahap identifikasi masalah, tahapan berikutnya dalam pengambilan keputusan adalah menentukan siapa yang terlibat dan mengumpulkan fakta yang relevan. Hal ini sejalan dengan apa yang dikatakan oleh Pak Indra melalui proses hearing atas kendala bersama. Tahapan keempat dalam pengambilan keputusan adalah pengujian benar salah seperti uji legal, uji regulasi, uji publikasi dan uji tokoh yang belum tampak pada hasil wawancara saya. Berbeda dengan tahapan paradigma berpikir dan prinsip resolusi yang sudah kentara pada hasil wawancara karena Pak Indra memaparkan proses berpikirnya berdasarkan peraturan dan Pak Amir berdasarkan kebermanfaatannya. Prinsip resolusi yang dilakukan kedua tokoh ini adalah berpikir berbasis rasa peduli (care-based thinking). Selanjutnya investigasi opsi trilemma belum secara eksplisit dipaparkan dalam wawancara, namun sudah terlihat pada tahapan pengambilan keputusan dan refleksi.

 

3.     Analisis dan refleksi atas hasil wawancara

Setelah melakukan wawancara bersama dua tokoh kepala sekolah ini, saya dapat mengambil kesimpulan bahwa kedua tokoh kepala sekolah ini sudah piawai dalam melaksanakan tugasnya sebagai seorang pemimpin. Adapun tantangan pada setiap profesi pasti ada. Tinggal bagaimana kita menyikapinya. Saya mendapatkan pelajaran bahwa keputusan yang kita ambil sebagai pemimpin harus berdasarkan nilai-nilai kebajikan dan kemanusiaan.

 

4.     Hal Menarik dan Mengganjal

Dari hasil wawancara, banyak hal menarik yang muncul diantaranya saya mendapatkan inspirasi bagaimana menjadi seorang pemimpin dalam mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai kebajikan. Selain itu, saya semakin tajam dalam mengasah kemampuan dan pemahaman mengenai perbedaan antara bujukan moral dan dilema etika. Hal yang mengganjal dalam diri setelah wawancara adalah mengetahui lebih banyak lagi contoh kasus di lapangan mengenai dilema etika.

 

5.     Persamaan dan Perbedaan

Persamaan dari kedua pemimpin yang saya wawancarai adalah sama-sama mengambil keputusan berdasarkan proses pengumpulan data terlebih dahulu. Jadi keputusan diambil bukan atas dasar pemilik kekuasaan melainkan berdasarkan beberapa pendapat aktor pendukung yang ada di sekolah sesuai dengan kapasitas diri dan peran masing-masing. Adapun perbedaan kedua pemimpin ini adalah Pak Indra mengambil keputusan berdasarkan nilai-nilai kemanusiaan sementara Pak Amir mengambil keputusan berdasarkan kebermanfaatannya yang paling banyak.

6.     Rencana

Melalui hasil wawancara saya menyimpulkan bahwa rencana kedua pimpinan ini adalah tetap menjaga kualitas dirinya dalam memimpin suatu instansi. Hal ini dapat diukur dengan cara yang bijak dalam proses pengambilan keputusan

 

7.     Penerapan

Saya sendiri berencana menerapkan prinsip dan paradigma pengambilan keputusan ini dengan siswa dan rekan sejawat dalam waktu yang paling dekat. Saya berharap pada bulan berikutnya, saya sudah dapat mengambil keputusan dengan teori akademis dan berdasarkan nilai-nilai kebajikan yang luhur.

 

 

Lampiran Wawancara 1 – Indra Sakti, S.Pd, Kepala SMKN 3 Sarolangun

 

Selama ini, bagaimana anda dapat mengidentifikasi kasus kasus yang merupakan dilema etika, atau bujukan moral?

 

Jawaban:

“Tentunya, setiap masing masing sekolah mempunyai karakter masalah tersendiri dan individu kepala sekolah memiliki strategi tersendiri untuk itu. Sebagai rujukan, ada tiga prinsip yang dapat membantu saat menghadapi pilihan-pilhan yang penuh tantangan, yakni berpikir berdasarkan hasil akhir nantinya, berpikir berdasarkan peraturan-peraturan dan tata tertib yang sudah ada dan di sepakati, serta tak kalah penting kita sebagai atasan berpikir berdasarkan rasa peduli.”

 

Selama ini , Bagaimana anda menjalankan pengambilan Keputusan di sekolah Anda, terutama kasus kasus dimana ada dua kepentingan yang sama sama benar atau sama sama mengandung nilai kebijakan?

 

Jawaban:

“Saya sebagai kepala sekolah untuk membuat sebuah keputusan harus memahami bahwa keputusan yang akan diambil hasilnya akan berdampak positif dengan berpegang teguh pada peraturan dan mempertimbangkan sisi kebajikan atau kemanusiaan”

 

Langkah-langkah atau prosedur seperti apa yang biasa Anda lakukan selama ini?

 

Jawaban:

“Dalam mengambil kebijakan tidak semata-mata memutuskan sendiri tanpa mengidentifikasi fakta-fakta dari permasalahan yang terjadi, seperti  pengalaman saya di sekolah Kepala sekolah tidak sendirian, misalkan saya; jika ada masalah saya mesti berkonsultasi dengan bawahan yang kompeten, dan juga untuk mendapatkan hasil identifikasi yang valid sangat

dibutuhkan keterangan keterangan dari orang orang yang dekat dengan orang yang mempunyai kasus, sebagai pertimbangan dalam pengambilan keputusan”

 

Hal hal apa saja yang selama ini anda anggap efektif dalam mengambil keputusan pada kasus kasus dilema etika?

 

Jawaban:

Sharing Masalah, kolaborasi pengambilan keputusan atau musyawarah merupakan salah satu kunci yang efektif di sekolah saya dalam mengatasi dilema etika maupun bujukan moral.”

 

Hal hal apa saja selama ini yang merupakan tantangan dalam pengambilan keputusan pada dilema kasus-kasus etika?

 

Jawaban:

“Alhamdulilah selang hampir lima tahun saya memimpin sekolah ini tantangan tantangan itu boleh tidak begitu berarti. Waktu waktu lima tahun ini saya rasa sudah cukup untuk memahami karakter karakter yang individu yang ada di sekolah ini, meski tidak semua keputusan disukai oleh seluruh warga sekolah.”

 

Apakah Anda memiliki suatu tatkala atau jadwal tertentu dalam sebuah penyelesaian kasus dilema etika, apakah anda langsung menyelesaikan di tempat, atau memiliki sebuah jadwal untuk menyelesaikannya, bentuk atau prosedur seperti apa?

 

Jawaban:

Saya sebagai pribadi seseorang yang diberikan tugas tambahan sebagai Kepala Sekolah, berprinsip setiap kasus harus diselesaikan sesegera mungkin, dan harus diidentifikasi sesegera mungkin. Mungkin saja kasus tersebut bisa diselesaiakan di tempat, atau harus dijadwalkan untuk menyelesaikannya sesuai prosedur yang ada.

 

Lampiran 2, Wawancara bersama Kepala SMAN 6 Tebo, Bapak Amir Hamzah, M.Pd

 

  1. Dilema etika itu adalah sebuah keputusan/kasus yang harus dipilih dari dua hal yang sama-sama benar. Misalnya, keputusan antara demi kepentingan guru atau demi murid, demi orang tua atau guru, atau demi pribadi atau sekolah. sedangkan kalau bujukan moral itu biasanya sebuah keputusan/kasus yang harus dipilih antara sesuatu yang benar dengan sesuatu yang salah. Misalnya, antara pergi urusan bisnis dengan urusan sekolah padahal ada jam dinas sekolah, antara pungli dan tidak pungli, antara memukul siswa terlambat dengan tidak memukul siswa terlambat.
  2. Untuk yang sama-sama benar saya ambil keputusan berdasarkan pada yang paling banyak manfaatnya bagi sekolah saya, jika keputusan itu banyak manfaatnya bagi sekolah dan warga sekolah maka itulah yang saya ambil dan putuskan.
  3. Selama ini dalam mengambil keputusan saya akan bertanya kepada beberapa pihak di sekolah secara random, dari hasil jawaban mereka saya akan menarik kesimpulan, kesimpulan saya itu akan saya cocokan dengan teori akademis,lalu saya membandingkanya dengan praktik baik yang sudah pernah ada dilakukan oleh saya atau kepala sekolah yang lain.
  4. Keputusan yang paling efektif adalah keputusan yang dimusyawarahkan bersama-sama, lalu disepakati bersama dan dikerjakan serta dipatuhi bersama. tidak lupa minta petunjuk segala sesuatu kepada Allah tuhan yang maha Kuasa
  5. Tantangannya biasanya penolakan dari beberapa warga sekolah yang merasa keinginan pribadinya tidak terpenuhi.
  6. untuk kasus yang saya anggap berat saya perlu waktu untuk tenang dan rilex sejenak. Saya biasanya berdoa sehabis sholat mengadu pada Allah dan minta petunjuk. (Tuhan penguasa langit dan bumi)
  7. Ada beberapa kawan dan senior tempat saya bertanya jika mau ambil keputusan dilema etika. faktor paling baik yang Allah.
  8. Pembelajaran yang dapat saya ambil dari pengalaman mengambil keputusan dilema etika adalah. “Jika kita ikuti aturan dan prosedur yang berlaku di Negara ini serta peraturan yang berlaku dalam beragama maka segala sesuatu akan terasa mudah dan ringan”

Ice Breaking - Senam

 Hallo, berikut rekomendasi senam kolaborasi saya bersama siswa-siswa di SMKN 3 Sarolangun dan mahasiswa-mahasiswa saya di Universitas Terbuka Pokjar Sarolangun. Senam ini cocok kita lakukan di sela pembelajaran/ pelatihan :) Semangat bergerak!





Supervisi Akademik Berbasis Coaching

 


Alhamdulillah, telah menyelesaikan aksi nyata modul 2.3 berupa supervisi akademik berbasis percakapan coaching. Semoga bermanfaat :)

Monday, June 17, 2024

Menanamkan Karakter Keberagaman dan Sikap Toleran melalui Pembacaan Dongeng

 Oleh: Meila Rosianika - Fasilitator Bhineka Provinsi Jambi 2024

     Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dongeng diartikan sebagai cerita yang tidak benar-benar terjadi. Dongeng dapat bermakna sebuah cerita fiktif yang bersifat imajinatif. Artinya, kejadian dalam dongeng merupakan hasil cipta imaginasi penulisnya. Tujuan dari dongeng adalah memberikan penanaman nilai-nilai karakter pada pembaca lewat kisah yang diceritakan dalam dongeng. Sasaran pembacaan dongeng adalah pembaca dini dan pembaca awal dengan pendampingan orang dewasa di sekitarnya. Salah satu teknik membaca dongeng adalah read aloud. Read aloud atau dikenal pula dengan sebutan membaca nyaring merupakan kegiatan membacakan cerita maupun dongeng secara nyaring kepada anak. Kegiatan ini dilakukan terus menerus secara rutin dan berkelanjutan dari orang dewasa di sekitar anak usia dini baik oleh guru maupun orang tua. 



    Ada beberapa manfaat yang didapat melalui pembacaan secara nyaring ini, diantaranya adalah dapat memperkaya kosakata anak, melatih pola komunikasi dua arah dan menumbuhkan minat pada bidang literasi. Membacakan dongeng juga dapat melatih kemampuan berpikir kritis pada anak usia dini. Sajian kosakata dan masalah sederhana yang diangkat dalam dongeng dapat melatih anak untuk berpikir kritis. Pembaca nyaring perlu mengarahkan pembacaan pada penekanan-penekanan kalimat tertentu pada dongeng agar lebih menarik. Salah satu referensi bagi orang tua dalam membacakan dongeng adalah buku panduan yang merupakan salah satu produk kebinekaan dan telah dikeluarkan oleh Pusat Penguatan Karakter (Puspeka) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemendikbudristek). Puspeka sesuai dengan Permendikbudristek No. 28 Tahun 2021 adalah sebuah unit organisasi di Kemendikbudristek yang bertugas menyiapkan kebijakan teknis dan program penguatan karakter. 

    Penguatan karakter seseorang sebaiknya dimulai sedini mungkin dengan berbagai teknik dan pendekatan berkelanjutan sebagai tindakan preventif pada perilaku negatif. Pemerintah telah melakukan penyusunan enam seri dimensi, yaitu: 1) beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia; (2) berkebinekaan global; (3) bergotong royong, (4) bernalar kritis, (5) kemandirian dan (6) kreatif. Buku panduan yang dikeluarkan oleh Puspeka Kemendikbud ini adalah panduan bagi orang tua jenjang Pendidikan Anak Usia Dini. Materi yang terdapat di dalam buku ini adalah materi yang berkaitan dengan Profil Pelajar Pancasila. Bahasanya mudah dipahami dan dapat digunakan secara interaktif antara orang tua dengan anak-anaknya di usia dini. Buku panduan orang tua ini dapat diakses pada laman resmi Puspeka Kemendikbud pada tautan https://cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id/jenjang-paud/#1



    Buku panduan ini dapat menjadi pegangan bagi orang tua dalam mengenalkan keragaman dan toleransi untuk anak usia dini. Lembar interaksi dalam buku panduan ini dapat dipakai pula untuk melakukan aktivitas pembelajaran menyenangkan bersama anak. Selain buku panduan, Puspeka Kemendikbudristek juga mengeluarkan seri pembacaan dongeng pada tautan resmi kumpulan dongeng https://bit.ly/dongengpaudpedia yang berisi pembacaan dongeng. Orang tua dapat menjadikan laman ini sebagai referensi praktis dalam pembacaan dongeng pada anak usia dini. Tujuannya adalah agar orang tua dapat menjadi agen perubahan dan meningkatnya pemahaman mengenai konsep keberagaman dan sikap toleran. 

     Indonesia memiliki keberagaman etnis, suku, budaya dan agama. Keberagaman ini bukan alasan kita untuk bersikap intoleran pada sesama. Sikap intoleransi merupakan sebuah tindakan yang dilakukan untuk menghalangi kelompok tertentu untuk mendapatkan hak-hak dasar hidupnya yang dijamin oleh konstitusi. Semua dari kita memiliki peran dalam membentuk karakter keberagaman dan sikap toleransi. Keluarga merupakan elemen dasar penting yang menjadi salah satu landasan pembentukan karakter generasi berikutnya. Sebagai orang tua, mari kita mengambil peran untuk menyuarakan praktik baik penanaman karakter keberagaman dan sikap toleran terhadap sesama. Salah satunya dengan rutin membacakan dongeng bermuatan karakter keberagaman untuk membentuk sikap toleran pada anak-anak kita.

Sunday, June 16, 2024

PENERAPAN LITERASI KEUANGAN UNTUK BERTAHAN SECARA FINANSIAL


Oleh: Meila Rosianika

 

Wabah Covid-19 telah ditetapkan sebagai bencana nasional sejak Keputusan Presiden Nomor 12 Tahun 2020. Namun laju penyebaran wabah tersebut masih ada sampai sekarang. Dampak munculnya virus ini bukan hanya dalam bidang kesehatan, tapi juga keuangan. Maraknya pengurangan tenaga kerja dan banyaknya lingkup bisnis yang gulung tikar menjadi tantangan tersendiri bagi setiap individu untuk tetap bertahan secara finansial di masa pandemi. Kondisi ini semakin menguatkan pentingnya literasi keuangan pada setiap individu. Pemanfaatan alur informasi digital yang saya peroleh dari berbagai sumber menyebutkan bahwa dengan memanfaatkan pengetahuan literasi keuangan yang baik, seseorang akan mampu mengelola kondisi finansialnya sendiri.

OJK atau Otoritas Jasa Keuangan telah melakukan edukasi agar bisa meningkatkan pemahaman masyarakat terkait daya keuangannya. Melalui data survei yang dikeluarkan oleh OJK dalam publikasi di situs ojk.go.id, didapatkan hasil bahwa  21,84% masyarakat termasuk bagian well literate atau memiliki pengetahuan serta memiliki keterampilan dalam menggunakan produk dan jasa keuangan, 75,69% termasuk sufficient literate atau memiliki pengetahuan dan keyakinan tentang produk dan jasa keuangan, 2,06% tergolong  less literate atau hanya memiliki pengetahuan saja, dan 0,14% masuk kebagian not literate atau tidak memiliki pengetahuan dan keyakinan terhadap produk dan jasa keuangan. Dapat kita simpulkan bahwa pengetahuan masyarakat Indonesia sudah dinilai cukup untuk bisa menggunakan fitur, risiko, hak, dan berbagai kewajiban yang ada terkait produk jasa keuangan.

Menurut lembaga Otoritas Jasa Keuangan (2013) menyatakan bahwa secara defenisi literasi diartikan sebagai kemampuan memahami, jadi literasi keuangan adalah kemampuan mengelola dana yang dimiliki agar berkembang dan hidup bisa lebih sejahtera di masa yang akan datang, OJK juga menyatakan bahwa misi penting dari program literasi keuangan ini adalah pemberian edukasi di bidang keuangan pada masyarakat agar dapat mengelola keuangan secara cerdas. Hal ini tentu bertujuan agar rendahnya pengetahuan tentang industri keuangan dapat diatasi serta masyarakat tidak mudah tertipu pada produk-produk investasi yang menawarkan keuntungan tinggi dalam jangka pendek tanpa mempertimbangkan risikonya. The Presidents Advisory Council Of Financial Literacy juga mendefinisikan bahwa literasi keuangan sebagai kemampuan untuk menggunakan pengetahuan serta keahlian untuk mengelola sumber daya keuangan agar tercapai kesejahteraan. Dapat disimpulkan dari dua pendapat tersebut bahwa literasi keuangan merupakan keahlian seseorang dalam menerapkan pengetahuannya di bidang keuangan untuk mengatasi permasalahan hidup sehari-hari. Berikut beberapa cara yang saya terapkan dengan memanfaatkan arus informasi digital dan beberapa buku pengetahuan untuk bertahan secara finansial di masa pandemi ini.

 

Gaya Hidup Minimalis

Salah satu metode dalam buku Seni Hidup Minimalis yang ditulis oleh Francine Jay mengajarkan prinsip trash, treasure, or transfer (buang, simpan, atau berikan). Trash untuk barang-barang yang sudah tidak memberikan manfaat lagi, treasure hanya untuk barang yang benar-benar kita butuhkan dan pakai, serta transfer untuk barang-barang yang masih dapat digunakan namun tidak kita pakai lagi. Dengan menerapkan hal-hal tersebut, kita akan lebih cermat melakukan pembelian di masa yang akan datang. Selain itu, mendonasikan barang-barang kita yang masih layak pakai akan memperluas kebermanfaatannya bagi orang lain.

 

Membeli Sesuatu karena Kebutuhan

Durasi waktu yang cukup lama saat melakukan aktivitas dari rumah saja menyebabkan peluang dan waktu yang cukup besar untuk menggunakan jasa dari platform belanja online. Adanya tawaran diskon, gratis ongkir dan fasilitas kredit bayar kemudian membuat kecendrungan pembelian barang bergeser dari yang tadinya membeli karena kebutuhan menjadi membeli karena keinginan mengikuti sesuatu yang sedang trend atau viral. Sebenarnya beberapa fasilitas pendukung dalam aplikasi belanja online tersebut dapat membantu pemenuhan kebutuhan sehari-hari tanpa harus berinteraksi dengan penjual secara langsung guna mengurangi penyebaran virus corona. Namun kita perlu lebih cermat lagi dalam membeli barang-barang yang memang kita butuhkan.

 

Selalu Sisihkan Dana Darurat

“If  you fail to prepare, you are preparing to fail.” Kutipan dari Benjamin Franklin tersebut berarti kalau kita gagal melakukan persiapan, maka kita sedang bersiap untuk gagal. Dapat dikatakan bahwa, dalam hal apapun, melakukan persiapan itu sangat penting termasuk dalam persiapan finansial. Selalu sisihkan dana darurat setiap kita mendapatkan penghasilan. Dana darurat merupakan dana yang disediakan secara khusus guna menghadapi kondisi keuangan yang tak terduga di masa yang akan datang. Kisaran jumlahnya bisa berbeda pada setiap orang, tergantung risiko pekerjaan dan jumlah tanggungan. Namun, setidaknya paling sedikit jumlah dana darurat kita sejumlah tiga kali pengeluaran pokok bulanan.

 

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.4

 

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan ini saya buat dengan mendeskripsikan peristiwa (fact), perasaan (feeling), pembelajaran (finding) dan juga penerapan (future) dari modul 1.4 tentang budaya positif yang terdiri dari beberapa materi seperti pergeseran paradigma pendidikan, lima positif control guru, disiplin positif, segitiga restitusi, kebutuhan dasar manusia dan teori motivasi.

1.       Peristiwa (fact)

Pada kegiatan modul 1.4 kami CGP harus mengenal ekplorasi konsep mengenai disiplin positif, teori motivasi, kebutuhan dasar manusia, lima posisi kontrol guru dan segitiga restitusi. Saya banyak mendapat ilmu tentang bagaimana menciptakan pembelajaran yang positif. Beberapa yang saya ingat adalah mengenai pembelajaran penerapan disiplin dalam menumbuhkan kesadaran peserta didik. Diantaranya adalah melalui pembuatan keyakinan kelas dan penanaman budaya positif.

 

2.       Perasaan (feeling)

Awalnya saya memiliki beberapa kekhawatiran mengenai penerapan materi pada modul 1.4 yang padat ini. Namun kemudian saya merasa materi di modul ini banyak sekali manfaatnya. Diantaranya saya jadi lebih mengetahui mengenai kebutuhan dasar manusia dari the choice theory Dr William Glasser. Teori tersebut memberikan pemahaman bagi saya bahwa manusia memiliki kebutuhan dasar yang harus dipenuhi sebelum dapat berlanjut pada pemenuhan kebutuhan lanjutan lainnya.

 

3.       Pembelajaran (Finding)

Pembelajaran yang saya dapatkan dari modul ini adalah materi mengenai keyakinan kelas. Sebelumnya saya belum pernah menerapkan keyakinan kelas. Setelah belajar pada modul ini saya mencoba menerapkan implimentasi pembuatan keyakinan kelas. Saya berharap melalui Langkah sederhana ini dapat menciptakan budaya positif di satuan pendidikan tempat saya mengabdi.

 

        4.Penerapan (Future)

Setelah pembelajaran pada Modul 1.1 selesai, saya sudah mulai berusaha menerapkan   budaya positif pada tempat saya mengajar. Saya mengimplementasikan keyakinan kelas dan menerapkan segitiga restitusi. Saya berharap semoga penerapan ini dapat saya lakukan secara berkelanjutan dan memberikan dampak positif dalam ruang lingkup yang lebih luas.

 

Demikian Jurnal Refleksi Dwi mingguan ini saya buat. Semoga banyak ilmu dan pembelajaran yang akan saya dapatkan lagi. Semangat bergerak dan memberi dampak.

Salam dan Bahagia!

Meila Rosianika

 

      

 

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.3

 



 

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan ini saya buat dengan mendeskripsikan peristiwa (fact), perasaan (feeling), pembelajaran (finding) dan juga penerapan (finding) dari modul 1.3 tentang Kanvas Bagja.

1.       Peristiwa (FACT)

Pembelajaran modul ini dimulai pada tanggal 3 April yaitu mulai dari diri dan ekplorasi konsep-mandiri. Pada LMS Mulai dari diri terdapat forum diskusi tentang Visi Guru Penggerak. Setiap Calon Guru Penggerak menuliskan visi masing-masing. Ruang kolaborasi dimulai tanggal 1-2 mei 2024 untuk berdiskusi tentang visi guru penggerak dan Pembuatan kanvas BAGJA. Kami dibagikan dua kelompok untuk berdiskusi pembuatan BAGJA. Setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi masing-masing. Suasana diskusi kelompok sangat seru sekali karena setiap kelompok aktif dalam bertanya dan memberi saran. Kemudian pada tanggal 4 Mei 2024 kami Lokakarya 1 bertempat di SMK Negeri 13 Sarolangun. Kegiatan Lokakarya menurut saya sangat seru karena disini kami berkolaborasi dengan teman-teman CGP yang dari kelas lain yang sebelumnya kami belum kenal setelah dilokakarya 1 kami saling kenal dan bertukar pendapat tentang kesan selama mengikuti Pendidikan Guru Penggerak ini.

 

2.       Perasaan (feeling)

Perasaan saya setelah mempelajari modul 1.3 saya banyak mendapat ilmu karena disini kami belajar cara membuat Visi,Pernyataan Prakarsa Perubahan dan BAGJA dari ibu fasilitator dan ibu PP yang sangat luar biasa,dimana seorang Guru penggerak harus mempunyai Visi atau tujuan yang ingin dicapainya kemudian akan diterapkan di sekolah masing-masing.

 

3.Pembelajaran (Finding)

Pembelajaran yang saya dapatkan dari modul 1.3 tentang Tahapan pembuatan BAGJA:

a. Buat pertanyaan: digunakan sebagai penentu arah perubahan apa yang di inginkan

b. Ambil pelajaran: dalam melakukan tahapan ini, pengalaman individu,atau kelompok dapat diambil

c. Gali Mimpi: Menggali mimpi tentang perubahan yang ingin kita capai, mimpi haruslah realistis dan dapat dicapai.

d. Jabarkan rencana: Gambaran yang ingin kita capai kedepannya.

e. Atur eksekusi: Membantu tranformasi rencana menjadi nyata.

        4.Penerapan (Future)

Setelah pembelajaran pada Modul 1.2 selesai, saya sudah mulai berusaha menerapkan   Kanvas Bagja. Selain itu, saya juga menjabarkan rencana berupa Gambaran yang ingin saya capai ke depannya. Saya juga mengatur eksekusi guna membantu transformasi rencana menjadi nyata dalam Pendidikan dan pembelajaran saya.

 

Demikian Jurnal Refleksi Dwi mingguan ini saya buat. Semoga banyak ilmu dan pembelajaran yang akan saya dapatkan lagi. Semangat bergerak dan memberi dampak.

Salam dan Bahagia!

Meila Rosianika

 

      

 

Jurnal Refleksi Dwi Mingguan Modul 1.2


Jurnal Refleksi Dwi Mingguan ini saya buat dengan mendeskripsikan peristiwa (fact), perasaan (feeling), pembelajaran (finding) dan juga penerapan (finding) dari modul 1.2 tentang Nilai dan Peran Guru Penggerak

 

  1. Peristiwa (fact)

Kami memulai pembelajaran pada tanggal 1 April 2024 modul 1.2 tentang nilai dan peran guru penggerak. Di LMS terdapat materi-materi tentang nilai dan peran guru penggerak yang bisa dibaca oleh calon guru pengerak, kemudian di LMS ada topik diskusi antara calon guru penggerak. Ruang kolaborasi modul 1.2 tentang nilai dan peran guru penggerak dilaksanakan pada tanggal 6 dan 7 April 2024 pada bulan ramadhan, diskusi calon guru penggerak dibagi menjadi 3 kelompok yang difasilitatori oleh ibu RUSYIAH,S.Pd,MM. Pada forum diskusi kelompok setiap Calon Guru Penggerak penyampaikan nilai dan peran guru penggerak yang sudah diterapkan di sekolahnya masing-masing.

 

 

  1. Perasaan (feeling)

Perasaan saya setelah mempelajari modul 1.2 saya sangat bahagia bisa mempelajari nilai dan peran guru penggerak,kalau saya jadi guru pengerak yang akan datang saya akan menerapkan nilai dan peran guru penggerak di sekolah saya.pertama yang saya terapkan adalah nilai dan pean guru penggerak yaitu pembelajaran yang berpihak pada murid dimana nilai ini lah adalah nilai yang harus sekali dimiliki oleh seorang guru penggerak untuk melakukan perubahan pembelajaran.

 

  1. Pembelajaran (Finding)

Pembelajaran yang saya dapatkan dari modul 1.2 tentang lima nilai dan peran guru penggerak yaitu: 1. berpihak pada murid, yang selama ini saya belum maksimal dalam menerapkan pembelajaran pada murid. 2. inovatif, seharusnya pendidik selalu inovatif dalam memberi pembelajaran pada murid 3. Mandiri, seorang pendidik harus mandiri dan berdikari pada setiap kegiatan 4. reflektif, seorang pendidik setelah pembelajaran selalu mengevaluasi dirinya 5. kolaboratif, seorang pendidik harus mampu berkolaborasi dengan kepala sekolah, teman sejawat dan unsur yang berkaitan dengan sekolah dengan baik.

 

        4.Penerapan (Future)

Setelah pembelajaran pada Modul 1.2 selesai, saya sudah mulai berusaha menerapkan   nilai-nilai guru penggerak yaitu mandiri, inovatif, berpihak pada murid dan reflektif. Selain itu, saya juga menerapkan pembelajaran yang menyenangkan agar dapat mencapai tujuan keselamatan dan pembelajaran dalam Pendidikan.

 

 

Demikian Jurnal Refleksi Dwi mingguan ini saya buat. Semoga banyak ilmu dan pembelajaran yang akan saya dapatkan lagi. Semangat bergerak dan memberi dampak.

Salam dan Bahagia!

Meila Rosianika

 

      

 

Jatuh Cinta

  Jika ada perasaan yang paling indah di dunia, mungkin salah satunya adalah jatuh cinta. Perasaan ini membuat seseorang tersenyum tanpa ala...