Menurut Kamus Besar Bahasa
Indonesia, dongeng diartikan sebagai cerita yang tidak benar-benar
terjadi. Dongeng dapat bermakna sebuah cerita fiktif yang bersifat
imajinatif. Artinya, kejadian dalam
dongeng merupakan hasil cipta imaginasi penulisnya. Tujuan dari dongeng adalah
memberikan penanaman nilai-nilai karakter pada pembaca lewat kisah yang
diceritakan dalam dongeng. Sasaran pembacaan dongeng adalah pembaca dini dan
pembaca awal dengan pendampingan orang dewasa di sekitarnya.
Salah satu teknik
membaca dongeng adalah read aloud. Read aloud atau dikenal pula
dengan sebutan membaca nyaring merupakan kegiatan membacakan cerita maupun
dongeng secara nyaring kepada anak. Kegiatan ini dilakukan terus menerus secara
rutin dan berkelanjutan dari orang dewasa di sekitar anak usia dini baik oleh
guru maupun orang tua. Ada beberapa manfaat yang didapat melalui pembacaan
secara nyaring ini, diantaranya adalah dapat memperkaya kosakata anak, melatih
pola komunikasi dua arah dan menumbuhkan minat pada bidang literasi.
Membacakan
dongeng juga dapat melatih kemampuan berpikir kritis pada anak usia dini.
Sajian kosakata dan masalah sederhana yang diangkat dalam dongeng dapat melatih
anak untuk berpikir kritis. Pembaca nyaring perlu mengarahkan pembacaan pada
penekanan-penekanan kalimat tertentu pada dongeng agar lebih menarik. Salah
satu referensi bagi orang tua dalam membacakan dongeng adalah buku panduan yang
merupakan salah satu produk kebinekaan dan telah dikeluarkan oleh Pusat
Penguatan Karakter (Puspeka) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik
Indonesia (Kemendikbudristek).
Puspeka sesuai
dengan Permendikbudristek No. 28 Tahun 2021 adalah sebuah unit organisasi di
Kemendikbudristek yang bertugas menyiapkan kebijakan teknis dan program penguatan
karakter. Penguatan karakter seseorang sebaiknya dimulai sedini mungkin dengan
berbagai teknik dan pendekatan berkelanjutan sebagai tindakan preventif pada
perilaku negatif. Pemerintah telah melakukan penyusunan enam seri dimensi,
yaitu: 1) beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dan berakhlak mulia;
(2) berkebinekaan global; (3) bergotong royong, (4) bernalar kritis, (5)
kemandirian dan (6) kreatif.
Buku panduan
yang dikeluarkan oleh Puspeka Kemendikbud ini adalah panduan bagi orang tua
jenjang Pendidikan Anak Usia Dini. Materi yang terdapat di dalam buku ini
adalah materi yang berkaitan dengan Profil Pelajar Pancasila. Bahasanya mudah
dipahami dan dapat digunakan secara interaktif antara orang tua dengan
anak-anaknya di usia dini. Buku panduan
orang tua ini dapat diakses pada laman resmi Puspeka Kemendikbud pada tautan https://cerdasberkarakter.kemdikbud.go.id/jenjang-paud/#1.
Buku panduan ini dapat menjadi pegangan bagi orang tua dalam mengenalkan keragaman
dan toleransi untuk anak usia dini. Lembar interaksi dalam buku panduan ini
dapat dipakai pula untuk melakukan aktivitas pembelajaran menyenangkan bersama
anak.
Selain buku
panduan, Puspeka Kemendikbudristek juga mengeluarkan seri pembacaan dongeng
pada tautan resmi kumpulan dongeng https://bit.ly/dongengpaudpedia
yang berisi pembacaan dongeng. Orang tua dapat menjadikan laman ini sebagai
referensi praktis dalam pembacaan dongeng pada anak usia dini. Tujuannya adalah
agar orang tua dapat menjadi agen perubahan dan meningkatnya pemahaman mengenai
konsep keberagaman dan sikap toleran.
Indonesia
memiliki keberagaman etnis, suku, budaya dan agama. Keberagaman ini bukan
alasan kita untuk bersikap intoleran pada sesama. Sikap intoleransi merupakan
sebuah tindakan yang dilakukan untuk menghalangi kelompok tertentu untuk
mendapatkan hak-hak dasar hidupnya yang dijamin oleh konstitusi. Semua dari
kita memiliki peran dalam membentuk karakter keberagaman dan sikap toleransi.
Keluarga merupakan elemen dasar penting yang menjadi salah satu landasan
pembentukan karakter generasi berikutnya. Sebagai orang tua, mari kita
mengambil peran untuk menyuarakan praktik baik penanaman karakter keberagaman
dan sikap toleran terhadap sesama. Salah satunya dengan rutin membacakan
dongeng bermuatan karakter keberagaman untuk membentuk sikap toleran pada
anak-anak kita.
No comments:
Post a Comment