Thursday, December 29, 2011

I think everyone who loves me may have designed my life,but i am the owner of my own life that have to redesign everything! Love is respect.

Love is work! No need to measure it by calling and texting. Love is working with or without any cost for anything.

 I think decision to marry is not about time,its about readiness each other.

So human if u're getting angry about something, but no excuse for being bad-tempered. My point is:Take ur anger in elegant way!

Our goodness will break the ice and make it melt away.

Playboy has been playing the 'underground' way all the day. Take care of your soul from his hypnotic, Gals!


Saturday, December 17, 2011

Aku merugi setitik air di ujung mataku
Memandangi gaun pernikahan pada panekin etalase toko
Kau tak mengerti, kan?
Payah.
Kau memang payah.
Sama seperti kepayahanku untuk menahan diri untuk tidak mencintaimu

...

Cepatlah pulang.

Friday, December 16, 2011

Biar Resolusi Kita Terwujud



Mungkin kita pernah denger kalimat bahwa "Action speaks louder than words". Yup bener banget. Kita boleh aja punya resolusi di awal tahun, tapi resolusi bakal tetap jadi barisan kata kalo cuma jadi daftar dalam agenda tanpa do something! Nah, ada beberapa tips yang semoga bisa membantu agar resolusi kita bisa accomplished di akhir tahun nanti. Bet this year is going to be so much fun!



1. Realistis

Sehebat-hebatnya rencana adalah rencana yang realistis. Nggak pengen kan nanti di akhir tahun kita cuma bisa bengong ngeliatin daftar panjang ekspektasi kita yang belum terwujud. My point is; kita juga harus berdamai dengan yang namanya cita-cita. Bukan berarti gampang nyerah, tapi ada masanya kita berhenti untuk berkhayal pada impian yang nggak mungkin tercapai lagi. Move on! Sekarang eranya mencari pintu lain setelah satu pintu yang kita pengen udah tertutup.



2. First step

Banyak yang bilang kalo langkah awal itu the hardest part at all. Tapi kalo nggak dimulai ya kapan kita bisa majunya. Sesukses-suksesnya orang sukses, mereka pasti pernah melangkah dari titik awal. Dimana pada titik awal itulah kerap datang rasa ragu. Entah itu ragu yang dateng dari diri sendiri maupun keraguan yang mncul dari orang sekitar. But I still believe, the great people can manage it in elegant way! Angkat bahu, melangkah dengan pasti dan lakukan sesuatu yang baik.



3.Pray

Selain kecerdasan emosional dan intelektual, kita juga mengenal kecerdasan spiritual. Kedekatan kita pada sang pencipta ngebuat kita jadi sadar bahwa resolusi sebenernya harus bisa bermanfaat bukan buat kepentingan dunia aja, tapi kepentingan kita selanjutnya. Untuk itu, resolusi yang penting adalah resolusi yang juga memikirkan kepentingan bersama, bukan cuma kepentingan diri sendiri aja. Percaya bahwa kekuatan yang hebat itu akan membawa kita pada jalan yang ingin kita tuju.

Thursday, December 15, 2011

In essence, love is not about understanding it. But also mutual adaptability. I named it with .. flexible.
-Meila R

Tuesday, December 13, 2011

My parents had to design my life, but i am the owner who have to redesign at all.
-Meila R
Inevitable obstacles in life always done if you believe.
-Meila R

Sunday, December 11, 2011

Takoyaki

Kau memang seperti konsultan keuangan ya. Setelah tadi kita makan takoyaki bersama, kau berbicara banyak mengenai manajemen keuangan. Usiaku saat ini 22 tahun. Seharusnya memang aku sudah mulai memikirkan  investasi seperti yang kita diskusikan tadi. Tahukah kau? Kadang aku takut sekali merasa kurang suatu hari nanti. Aku selalu membayangkan pernikahan romantis seperti di film "Breaking Dawn" tadi. Tapi aku tahu, aku sama sekali belum punya apa-apa untuk ke arah sana. Kau pasti bingung apa kaitannya.

Begini, ketika seseorang sudah berpenghasilan dan mulai belajar untuk mandiri mengatur keuangan sendiri, mungkin saat itu orang tersebut harus mulai juga memikirkan masa depan. Berinvestasi dengan deposito, emas, mencicil tanah atau apapun. Akupun juga ingin. Sangat ingin! Agar suatu hari nanti -jika kita berjodoh- aku tak terlalu merepotkanmu membiayai hidupku. Ya, pikiranku memang sudah sejauh itu.

But on the other hand, aku cukup minder karena di usiaku sekarang aku belum bisa berinvestasi sedemikian. Pilihanku justru jatuh pada investasi untuk pendidikan. Ah, hampir 80% penghasilanku perbulan terserap untuk biaya kuliah pasca. Kalaupun bisa liburan, paling aku hanya bisa mendompleng karya wisata yang dilakukan sekolah tempatku mengajar. Selebihnya, liburanku adalah hari Kamis-Jumat ketika mengerjakan tulisan untuk JE, atau di hari Sabtu ketika mengudara pada sebuah frekuensi radio, atau juga menghibur diri bersama komunitas SIJ saat di panti. Aku tak menyesal memilih tak mengambil jeda ketika melanjutkan program kuliah lagi terlalu dini. Semua berjalan begitu saja.

Maka itu setelah perbincangan tadi, aku berharap agar kau tak menikahiku dalam beberapa tahun ini. Aku malu belum punya investasi seperti yang kita diskusikan tadi. Maaf, aku hanya bisa berinvestasi di hatimu saja, lebih tidak.
Semakin banyak makan, semakin kita kenyang. Semakin banyak belajar, semakin kita (harusnya) merasa lapar.
-Meila R
I don't like to love you in virtual way, because i love your virtual in my way.
-Meila R

Friday, December 09, 2011

Love is work. No need to measure it by calling nor texting. Love is working with or without any cost for anything.
-Meila R

Sunday, November 27, 2011

Sunday Out


I had some fun with the child of my neighbor named Sabila and accompanied by my Black Ranger too



















Of all, I am happy on this day can hone my maternal soul. I hope one day I also have a beautiful family. Me, him and kids.

Friday, November 04, 2011

Queue, patience and talk with each other



Kebanyakan dari kita memang sangat tidak suka menunggu. Bahkan muncul paradigma bahwa "menunggu itu membosankan". Well, memang ada benarnya. Saat mengantri di bank atau di pom bensin memang saat-saat yang cukup menjenuhkan. Apalagi kalo antriannya lama. Pilihan selingan untuk baca majalah atau mendengarkan musik sambil mengantri memang bisa saja jadi solusi. Tapi tetep aja, berada pada situasi mengantri membuat kita berasa, "duh males banget!". So why do we have to queue?

As we know, kita hidup dalam lingkungan sosial. Justru karena dunia ini "rame" makanya kita berasa jadi lebih hidup. Nggak kebayang kan kalo kita cuma hidup sendirian di dunia yang segede ini tanpa ada orang lain sebagai partner kita buat ngantri untuk melakukan sesuatu. Sikap acuh yang sering salah dengan mengabaikan lingkungan sekitar ini yang kadang ngebuat kita berasa sendiri di tengah keramean. Kalo kita mau sedikit jeli memandang fenomena ngantri, kita mungkin bisa ngambil -minimal- dua pelajaran dibaliknya.

First, saat dalam antrian of course we learn more about patience. Melatih diri dengan kesabaran bisa meningkatkan kualitas sikap kita sendiri ke orang lain. Terbiasa sabar juga bagus agar kita mampu melihat segala sesuatu bukan pada orientasi hasilnya aja. Tapi juga semua butuh proses. Proses inilah yang kadang jadi penentu suksesnya seseorang. Biar hasilnya bagus, tapi prosesnya salah kan mencerminkan diri kita sendiri yang nggak punya kualitas diri. Misalnya aja kalo ada orang yang nyelonong dari antrian. Okelah, dia bisa dapet bagian yang cepet, tapi tentu aja orang yang seperti nggak bisa dapet penghargaan publik. Nggak mau kan jadi public enemey?

On the other hand, pelajaran kedua yang kita dapetin dari kesabaran adalah saling tegur sapa. Kalo kondisinya ngantri di bank atau ngantri buat bayaran kuliah, coba lihat kanan-kiri. Walopun nggak ada yang kenal, kayaknya nggak masalah juga kalo kita nyapa duluan dengan sikap yang 'friendly'. Ramah bukan berarti sok kenal ya. Kita bisa mulai dengan, "Nganti juga ya?" atau "Udah lama jadi nasabah sini?". Dari permulaan seperti itu kita bisa mengalirkan obrolan selanjutnya. Ya itung-itung nyari temen. Inget, orang yang gaul itu bukan cuma bisa bergaul dengan satu kalangan aja. Tapi juga bisa menyesuaikan sikap dimanapun dan sangat suka bertemen. Makin banyak temen, katanya makin banyak rezeki lho =)

Thursday, November 03, 2011

Complain Less, Learn More!



Mungkin kita semua udah pada tahu kalo opportunity will not come twice! Yup, bener banget. Kesempatan itu jarang banget yang datang dua kali. Termasuk kesempatan kita untuk bisa hidup kayak sekarang. Tentu aja, setiap orang dalam hidupnya punya masalah masing-masing. Tapiii, masalah pasti punya tujuan. Diantaranya untuk ngebuat kita jadi dewasa. Terus kapan kita bisa dewasanya kalo setiap ada masalah kita justru mengeluh. Sounds simple but it's true, kita kadang nggak sadar sudah terlalu banyak ngeluh ini itu. Mulai dari penampilan yang kurang perfect sampe ke kondisi dompet yang rada tipis. Well, now we have to say good bye for more and more complain in our life! Kalo kita ngeluh terus, kapan kita mau belajar untuk sedikit elegan mengahadpi masalah?


Mengeluh itu rasanya cuma memperpanjang rasa sakit aja. Energi yang kita pake untuk mengeluh kalo diganti dengan do something real bisa jadi imbas juga lho. Emang perlu banget kita memotifasi diri dengan melihat mereka yang prestasinya jauh di atas kita. Tapi cukup jangan sampai hal-hal itu jadi bomerang yang bakal buat kita kurang bersyukur sama hidup yang kita punya. Masih banyak orang-orang yang kondisinya bisa dibilang jauh "di bawah" dari apa yang kita punya. Don't talk too much but empty, let's learn much and talk with knowledge to fill the empty!

Memaksimalkan Manusia Sebagai Media


Sekolah merupakan tempat berlangsungnya kegiatan belajar-mengajar. Lancar atau tidaknya keberlangsungan kegiatan tersebut bergantung pada warga sekolah dalam menjalankan tugasnya masing-masing. Siswa yang memiliki tugas untuk dapat memenuhi kebutuhannya untuk belajar dan guru yang memiliki tugas dalam profesinya untuk dapat mengajar sekaligus mendidik para peserta didik agar dapat menjadi generasi terdidik yang cakap mengembangkan pengetahuannya. Interaksi belajar-mengajar tersebut kerap terjadi di ruang kelas dimana di tempat tersebut guru menjadi seorang aktor yang memegang peranan terhadap lancar dan tidaknya proses transfer pesan yang bermuatan informasi pelajaran.
Idealnya, seorang guru telah merancang dan bereksperimen terhadap berbagai kendala yang akan muncul selama kegiatan belajar-mengajar berlangsung.  Salah satu upaya mengatasi kendala selama proses belajar adalah penggunaan media yang tepat. Di tengah derasnya arus teknologi, para pendidik kian latah memanfaatkan canggihnya tenaga mesin sebagai media belajar. Hal ini tentu saja merupakan suatu upaya yang baik dalam memanfaatkan perkembangan dunia global yang kian maju. Tapi tentu saja, ada begitu banyak energi manusia yang tak kan bias tergantikan.
Kita sering terlupa bahwa seorang guru harusnya bukan hanya memberi contoh, tapi juga menjadi contoh. semboyan “ING NGARSO SUNG TULODO, ING MADYO MANGUN KARSO, TUT WURI HANDAYANI” (Di depan memberi teladan, di tengah memberi bimbingan, di belakang memberi dorongan) bukanlah filosofi klise yang pantas untuk diabaikan. Guru sebagai figur yang dapat menjadi suri tauladan murid harusnya dapat memaksimalkan potensi dirinya sebagai media belajar yang juga dapat dimanfaatkan .  Untuk itu, kriteria dan prosedur pemilihan media dirasa perlu. Dimana seorang guru memberikan analisis yang kritis terhadap dirinya sendiri dulu dalam memilih media belajar. Petimbangan tersebut dapat dimulai dari karakteristik peserta didik sampai ke karakteristik bahan ajar yang dipadu-padankan dengan variasi media. Variasi media ini dimaksudkan untuk menghilangkan kejenuhan belajar yang digunakan dengan media yang itu-itu saja.
Dalam  kompetensi dasar membacakan berita dengan intonasi, lafal, dan sikap membaca yang baik pelajaran bahasa Indonesia, misalnya. Media ICT atau video mini pembacaan berita dari presenter terkenal yang ditayangkan pada jam belajar memang merupakan sesuatu yang layak untuk dilakukan. Tapi murid tetap saja akan ajuh lebih respect jika gurunya mampu meberikan contoh membaca berita yang baik. Ya, penggunaan manusia sebagai media belajar dirasa perlu guna mengimbangi kebutuhan generasi akan contoh yang datang bukan dari orang lain, tapi dari sang guru sendiri. Untuk itulah, seorang guru memang dituntut serba bisa dalam hal-hal yang basic pada setiap mata pelajaran yang diajarkannya. Kombinasi media seperti pemanfaatan teknologi dan pemanfaatan manusia merupakan kolaborasi yang harus ditanamkan untuk menyuburkan benih unggul dari suatu pendidikan.

Thursday, October 27, 2011

Perfect Life, Perfect Heart


Mungkin sebagian dari kita pernah ngebandingin hidup yang kita punya dengan hidup orang lain. Yup, we as a human kadang emang lirik-lirik ke yang orang lain punya dalam hidupnya. Tampilan yang oke, wajah yang imut atau gadget yang dipunya temen bisa aja ngebuat kita mupeng. Apa sikap itu salah? Nggak sepenuhnya juga sih. Setiap orang pasti pengen hidup yang sempurna. Kita udah nggak asing lagi dengan keinginan kebanyakan orang untuk punya hidup muda bahagia, tua kaya raya dan mati masuk surga. Kehidupan yang seperti itu terasa bener-bener sempurna kalo bisa kita rasain. Tapiii,  every dream has its own price. Tentu aja pada setiap keinginan kita itu ada harganya. Hidup yang sempurna nggak akan ada bagusnya kalo nggak diiringin dengan hati yang sempurna. Ada baiknya, ketika membandingkan hidup kita dengan orang lain itu bukan malah membuat kita jadi kurang bersyukur atas apa yang udah kita punya. Tapi justru sebaliknya. Melihat kehidupan orang lain bisa kita jadiin referensi yang nggak perlu banget dijadiin ajang keluh sana sini. It is life! Nggak mungkin semua orang punya hidup yang sama. Intinya, hati yang sempurna adalah hati yang sabar kalo lagi dapet kesusahan dan bersyukur kalo lagi dapet sesuatu yang nyenengin. Kalo udah punya hati seprti itu, yakin deh, sekalipun uang di dompet tinggal seribu juga kita tetep akan merasa punya hidup yang sempurna. What a perfect! 



Psstt, hidup kita bakal juga terasa sempurna kalo kita punya hati yang ikhlas buat saling tolong menolong lho. Be helpful!

Wednesday, October 19, 2011

Komitmen



Hari ini, Senin 17 Oktober 2011. Aku pulang lebih awal dari mengajar. Bukan karena tugasku telah selesai. Tapi karena punggungku masih terlalu sakit untuk kupaksakan beraktifitas. Aku tidak tahu apakah ini waktu yang tepat untuk beristirahat. Tapi setidaknya seharian ini aku memiliki jeda waktu yang cukup panjang untuk sekedar mengingatmu.

Aku berbaring dengan selimut tebal ke arah langit di seberang jendela. Mataku basah. Di luar hujan. Dan dihatiku lalu lalang tentang keterbacaanku yang buta tentang masa depan. Keinginanku sederhana, aku ingin kau ada di masa itu.

Tadi malam kau dan aku berkomitmen tentang sesuatu. Katakanlah ini usaha dua anak manusia yang ingin menghindari dosa ketika sedang jatuh cinta. Tentu saja bagiku menyenangkan terus ada didekatmu. Sementara malaikat dan setan tetap ada, kita mungkin bisa saja khilaf  suatu hari jika kita tetap bertahan pada nama klise yang dikenal orang-orang sebagai... pacaran.

Istilah itu bukan pada menghidupi, tapi memiliki dengan tanpa hak milik. Sementara kau dan aku manusia biasa yang gampang sekali terbisik oleh sesuatu yang tidak-tidak jika kita biarkan saja semua seperti itu. Maka dari  itulah,  restorasi atas hubungan ini ku rasa perlu. Kita tak butuh ‘pacaran’ untuk saling mencintai.
Aku ingin mencintaimu dengan restu sang pemilik cinta di atas sana. Sebuah pernikahan sederhana yang membuatku bisa terus merasakan ciumanmu di keningku saat kita selesai shalat berjamaah. Tapi sungguh, dengan semua mimpi yang masih menuntut, kita masih belum bisa menuju pada ikatan itu.

Mungkin kau tahu, aku adalah wanita yang tak pernah ingin menjadi biasa. Menjadi seorang pekerja kemudian pulang. Atau mengisi kehidupan dengan teman yang itu-itu saja. Aku tak seperti itu. Aku punya banyak mimpi yang ingin ku penuhi di masa-masa sendiri. Menguasai toefl, melewati tesis, menjadi dosen muda, kemudian terbang ke suatu kota untuk menuntaskan hasrat belajar S3. Jika sekarang pekerjaan sampinganku adalah menulis di harian pagi dan siaran mingguan  di radio sambil mengajar dan menyelesaikan studi magister. Maka pekerjaan sampingan yang ingin ku miliki ketika mengajar di universitas sambil menyelesaikan studi doktoral nanti –jika tercapai- adalah ingin menulis buku dan siaran mingguan di TV.

Tentu saja aku bertanya, apakah bisa ku tebus mimpi itu bersamaan dengan mimpiku yang lain setelah kutemui kau dalam hidupku. Tinggal bersamamu di sebuah daerah –yang katamu- mungkin tak bisa kukembangkan kemampuanku atas peluang terwujudnya mimpi-mimpi selanjutnya. Kau harus tahu sesuatu, mimpiku tak mutlak. Kita akan menjadi kaku jika tak mampu fleksibel pada setiap obsesi.



Dulu seorang yang sukses pernah berkata padaku, mimpi jangan terlalu dikejar. Yang terpenting doa dan usaha maksimal atas yang terbaik. Aku mulai sadar bahwa tak semua mimpi itu baik. Sama seperti gula, manis tapi belum tentu baik. Sama seperti murid kelas tiga SD yang mencoba berdamai atas cita-citanya menjadi presiden ketika ia mulai mengenal sebuah realitas di usia dewasa. Ada masa dimana kita memang harus optimis tanpa mengabaikan sikap realistis.
Aku mungkin akan bahagia jika kudapati mimpiku tuntas. Tapi bahagiaku belum tentu baik.

Maka dari itulah ku serahkan hatiku padaNya. Istikharah dan sujudku mungkin memang belum terlalu sempurna. Tapi atas semua itu kurasai hati berpasrah. Dialah yang menciptakan makhluknya berpasang-pasangan. Semua digariskan atas suatu yang kita sebut sebagai jodoh yang telah ia tentukan. Tapi seperti kataNya juga. Ia tak kan mengubah nasib seseorang kecuali atas usaha seseorang itu sendiri. Adapun aku ingin usahaku, usahamu menemukan jodoh dalam satu sama lain adalah usaha yang baik. Kepasrahanku padaNya bukan berarti aku menyerah pada harap dan cita yang telah kubangun. Tapi aku mencoba untuk tidak terlalu rakus pada mimpi keduniawian. Sementara pernikahan adalah ibadah, yang bisa dilakukan bagi mereka yang telah merasa mampu. Sungguh, kadang aku pun merasa abuabu atas kemampuanku.

Lihatlah Fahd Jibran, penulis favoritmu itu. Aku salut pada pilihannya menikah di usia muda. Ia pasti punya pertimbangan sendiri atas kemampuannya. Tapi setidaknya usia dan emosi yang labil ketika muda memang bukan alasan yang terlalu tepat untuk menunda. Apalagi terus bertahan dalam suatu konsep hubungan yang salah dalam penundaan itu.

Maka kita pun mengambil jalan tengah. Kita tinggalkan saja suatu konsep hubungan klise ini. Kita adalah teman sekarang. Sembari menunggu waktu itu tiba, kita tetap saja berteman dalam komitmen yang baru.
Tapi sungguh jika suatu hari nanti kau telah merasa siap, bicaralah padaku. Aku tak berkeberatan ikut denganmu ke sana. Ke sebuah daerah dimana kemandirianku bersamamu akan menjadi sesuatu yang harus. Jika menuntut ilmu dan bekerja adalah ibadah, maka menjadi seorang istri yang solehah juga ibadah, kan? Bagiku tak jauh beda nilainya jika kukejar mimpiku untuk diriku sendiri atau mimpiku untuk bersamamu. Toh, dengan tercapainya sesuatu nanti, kita sebagai manusia kadang tetap saja merasa kurang.






Aku mencintaimu, dan sedang menahan rindu di hari ini. Semoga cinta dan rindu ini adalah sesuatu yang baik, temanku.

Friday, October 07, 2011

Xpresi Jambi Ekspres

















Yep, besides being a radio announcer and teacher, my other job is writing for Xpresi JE. I am proud for that.

*Psst, a poem titled "Aku Merah Muda" above is created by me too ;) Keep reading on us everyday yak!

Friday, September 30, 2011

Jambi Beraroma Melati?

A bit shocked aja waktu denger dari Akbar kalo di seantero Jambi lagi bau melati kalo malem. Ah, apa iya? Iseng aja up-date status di FB Xpresi buat tahu lebih detail apa hal yang sama juga dirasain anak muda pembaca rubrik yang aku asuh. Eh, responnya ternyata antusias banget. Bukan cuma dirasain satu-dua orang aja. Ternyata banyak warga di Jambi yang emang udah ngerasa sering mencium aroma melati kalo malem. Hmm, serem juga sih ya. Dari beberapa komentar ada yang mencoba menganalisis bahwa melati emang sengaja ditanam di musim panas kayak sekarang untuk melawan gangguan pernafasan, akibat alergi debu. Ada juga yang mengatakan bahwa aroma melati ini udah menyebar sampe ke Batanghari.

Well, kayaknya kita masih nunggu analisis dari yang ahli seputar fenomena langka kayak gini. Atau kita bisa ambil positive benefit dari peristiwa ini? Yep, maybe we can enter a list of record-smelling jasmine town all night. Hehe.

*Btw, jadi takut pulang malem hari ini. Bau melatinya udah mulai muncul di kantor nih. Cabz dulu ya.

Thursday, September 15, 2011

Kekasih Gelap

Untukmu kekasihku yang berkulit gelap
atau selanjutnya disingkat menjadi kekasih gelap, haha
hari di sini tertali oleh pacu mimpi
aku masih berada diantara rimba harap yang terpatri antara sanggup atau mati
mati menenggelamkan beberapa opsi yang ku buat dengan sejuta sangsi dari suara sayup dunia sini

Tapi di sinilah aku, kekasihku yang gelap (atau lagi-lagi kekasih gelapku, haha)
mendengar alunan lagu Crazier-nya Taylor Swif dan membayang pula tentang gelapnya lingkar hati jika ekspektasi tak mampu mengisinya

I've never gone with the wind
Just let it flow
Let it take me where it wants to go

Begitu kata lagu itu
karena angin membuat segalanya menjadi tertuju pada sesuatu yang-entah- tak pernah pula ingin ku pikirkan
apa sebenarnya daya?tak ada!
aku hidup bukan cuma dengan harapan yang ku ciptakan sendiri di kawah ini
tapi juga dengan harapharap lain, harapharap orang lain

Til you open the door
There's so much more
I've never seen it before
I was trying to fly but I couldn't find wings
But you came along and you changed everything

apa aku tak suka?
suka, jelas saja
bagiku harap orang yang mengelilingiku bermakna bukan seperti inti atom atau molekul saja,
tapi lebih dari itu

 
You lift my feet off the ground,
Spin me around,
You make me crazier, crazier
Feels like I'm falling,
And I'm lost in your eyes,
You make me crazier, crazier, crazier


gilakah aku?
mungkin saja
aku gila untuk sejuta mimpi yang ingin ku tebus dengan sayap yang payah
kata temanku setiap orang itu gila, tapi yang membedakan adalah tingkat kegilaannya
ah, kau tahu sesuatu? selain gila dengan sejuta mimpi, aku juga gila untukmu

I watched from a distance as you
Made life your own
Every sky was your own kind of blue
And I wanted to know
How that would feel
And you made it so real
You showed me something that I couldn't see
You opened my eyes and you made me believe

aku setuju kita memaknai cinta bukan sesuatu yang berlebihan
dan tentu saja kita bukan bagian dari gila dengan cara yang salah
banyak yang gila tak mengaku gila
tapi bukankah banyak lagi yang tidak gila tapi bertingkah laku seperti orang gila
lalu kenapa raya takut pada kegilaan?
jika banyak di sana cinta di salah artikan

beberapa hari lalu di kertas koran ini terbaca
dia si mati yang meregang nyawa
janin yang diaborsi
dibunuh paksa!
darah yang sarat dengan cinta yang salah
tapi mereka tak mau mengaku gila

lalu ada pula tangis si tua tetanggaku
anaknya dibawa entah kemana

dan itu
baru saja ku dengar ada mati lagi
cinta yang salah
yang tak tahu memaknai gila

heran

Baby you showed me what living is for
I don't want to hide anymore

jadi biar saja aku gila pada cintamu
pada sesuatu yang sering membuat kita jadi saling mengingatkan

pada kulitmu yang -walaupun gelap- tapi tetap saja memberi terang
di sini
di kegilaanku sendiri

hidup terlalu indah untuk digilakan dengan cara yang salah
juga terlalu sederhana untuk bermimpi secara biasa
teruslah perdengarkan aku pada kata-kata "... suatu hari"

aku dan kau berlari pada estetika mimpi namun tetap berteduh pada etika diri

sementara kita menunggu tentang "..suatu hari" yang kita tunda saat ini
suatu hari yang tak kalah indah dan tidak gila dengan cara yang kegilagilaan buatan

aku menyukai gelap pada kulitmu
juga untuk gelap yang kita tunda
sampai "... suatu hari"
sampai penghujung mimpi dan batas waktu untuk sendiri

Kabut



Pagi kemarin mungkin bukan hanya aku orang satu-satunya yang memutuskan untuk kembali menutup jendela setelah membukanya. Bukan hanya aku yang harus menggunakan masker saat beraktivitas di luar. Bukan hanya aku yang merasa sesak nafas, tapi juga mereka. Kabut belum jua berdamai di sini.

Kemarin ku ceritakan padamu tentang gusarku. Katakanlah penyebab kabut ini adalah alam, jumlah curah hujan ataupun kebakaran yang terjadi. Tapi bukankah data yang dirilis secara resmi pada harian pagi menemukan puluhan jumlah titip api tersebar di penjuru kota ini. Titik api yang bukan sekedar menjadikan alam sebagai penyebabnya. Titip api yang muncul karena dampak suatu kepentingan. Titip api yang sedemikian kasar terjamah untuk mencetak rupiah. Lalu, apakah bisa ranting pohon jadi saksi? Betapa diamdiam mereka melayat untuk sesama pohon yang mati. Dan mereka yang seharusnya bersuara justru ikutikutan diam. Sungguh nurani bisa saja kalah karena kedudukan, kekasihku.

Pasal 9 UU No 39 tahun 1999, “Setiap orang berhak atas lingkungan hidup yang baik dan sehat”. Dan lihatlah pasal serta muasal. Ironi yang memunculkan istilah baru dalam menara kehakiman hatiku, praduga (tak) bersalah. Bukankah setiap pelanggaran adalah kesalahan? Lalu mana si salah yang telah melanggar pasal itu? Si salah yang ada di balik kertas dengan nilai nominal? Si salah yang mengorbankan kepentingan banyak orang untuk dapat memiliki lingkungan yang sehat demi kepentingannya sendiri. Ya ya ya, si salah itu kini tertupi kabut yang ambigu. Kabut pertama menyesakkan nafas anak manusia yang lalu lalang di lantai pagi dan petang. Kabut kedua adalah anak manusia yang melindungi si salah dengan kekuasaan!

Tidak cukupkah cinta menjadi muara dari semua. Kita memang tak bisa melakukan apa-apa, kekasihku. Kita sekarang bukan siapasiapa. Tak jua kenal si salah ataupun tak tahu siapa lagi si sakit yang sesak nafas yang akan berbaring dengan perawatan. Tapi kita bisa bersuara, kan? Ku ajarkan muridku untuk mampu bersuara secara lisan dan tulisan. Begitupun kau. Kritik akan tetap tumpul jika hanya ada dalam pikiran.

Cinta kita tak kan habis jika dimakan hanya berdua.
Dan berbagi, membuat kita tetap akan merasa cukup.


Saturday, August 13, 2011

Komunitas Sahabat Ilmu Jambi


What: Sahabat Ilmu Jambi yang selanjutnya disingkat menjadi SIJ merupakan komunitas independen yang bergerak di bidang pendidikan, kepemudaan, dan peningkatan SDM anak2 dan remaja Jambi. SIJ merupakan komunitas relawan, kami bergerak untuk menebarkan ilmu dan membuka cakrawala. Kami berupaya meningkatkan minat baca dan tulis di kalangan anak2 kurang beruntung, seperti anak panti asuhan, anak jalanan, dan anak tidak mampu.


When: SIJ terbentuk pada 5 Agustus 2011.

Who: Kami saat ini memiliki hampir 20 anggota yang akan bersama2 menyebarkan virus membaca dan menulis. Terdiri dari kalangan pelajar, mahasiswa dan umum. Tidak tertutup kemungkinan untuk kalian semua yang juga ingin berpartisipasi dan peduli.

Why:  Kami percaya dengan membaca dan menulis, pendidikan di Jambi akan berkembang dengan baik. Namun, kami tidak hanya berada dalam ranah tersebut saja, kami juga berupaya meningkatkan skill, kreativitas, kepemudaan, hingga berbagi ilmu dari tentor2 yang secara sukarela datang di roadshow kami.

dan...
Kami menerima sumbangan buku dan majalah anak2/remaja untuk disumbangkan ke panti asuhan dan anak2 yang memerlukan.

How: Bantuan berupa buku/majalah bekas ataupun baru kami terima dengan sejuta doa. Silakan kirim bantuan kalian melalui konfirmasi lewat inbox akun FB saya pribadi melalui link ini, Fanpage FB SIJ di sini atau Twitter SIJ: please click here.

When: Now! Silakan berpikir sejenak, rencanakan pencarian buku lama/baru, kemudian tanya ke pada hati, apakah masih layak kita hidup ddi sinialam kebaikan jika tidak bermanfaat bagi orang lain? Percayalah bahwa kami berdoa untuk kalian dalam kebaikan yang kalian salurkan melalui buku.

Salam,
a.n SIJ

Meila Rosianika

Thursday, July 28, 2011

IMPLEMENTASI SELF CONTROL MODEL DALAM PEMBELAJARAN


Opini   : Meila Rosianika


Kontrol diri bisa diterjemahkan sebagai pakem yang akan menjadi rem terhadap perilaku tertentu. Kaitannya dalam pembelajaran bahasa Indonesia, model ini bisa menjadi salah satu cara membentuk perilaku serius dalam melakukan simulasi terhadap kompetensi dasar tertentu. Tentu saja, model pembelajaran ini bisa digabungkan dengan model pembelajaran simulasi. Tapi tanpa adanya kontrol diri, simulasi siswa terhadap kompetensi dasar tertentu bisa saja terkesan tidak serius dan main-main. Hal ini disebabkan tidak semua siswa mampu membentuk perilaku baru secara serta merta.

Hurlock (1990) mengatakan kontrol diri berkaitan dengan bagaimana individu mengendalikan emosi serta dorongan-dorongan dalam dirinya. Kemudian Kazdin (1994) menambahkan bahwa kontrol diri diperlukan guna membantu individu dalam mengatasi kemampuannya yang terbatas dan membantu mengatasi berbagai hal merugikan yang dimungkinkan berasal dari luar. Menurut Chaplin (2001) kontrol diri adalah kemampuan untuk membimbing tingkah laku sendiri dalam artian kemampuan seseorang untuk menekan atau merintangi impuls- impuls atau tingkah laku impulsif. Jadi, dapat disimpulkan bahwa kontrol diri merupakan upaya dari dalam diri seseorang untuk membentuk tingkah laku positif dan mengurangi tingkah laku yang negatif. Kontrol diri ini dapat diterapkan pada sebuah model pembelajaran yang dinamakan dengan model kontrol diri. Tujuannya adalah agar pendidikan bukan hanya menciptakan pengetahuan saja, tapi juga mampu membentuk perilaku positif dari sebuah pembelajaran melalui pengkontrolan diri pada perilaku yang negatif.

Salah satu kompetensi dasar yang ada pada pembelajaran bahasa Indonesia di kelas XI semester I adalah membacakan berita dengan intonasi, lafal, dan sikap membaca yang baik.  Dalam kompetensi tersebut tidak hanya cukup diterapkan dengan pemberian materi dan simulasi saja. Mengingat unit kebahasaan yang ada pada kompetensi adalah berbicara, maka pada akhirnya peserta didik harusnya mampu melakukan, bukan sekedar mengetahui saja. Tentu saja dalam melakukan simulasi pembacaan berita harus mendapatkan pedoman penguatan kontrol diri terlebih dulu agar peserta didik dapat benar-benar mampu praktik sebagai pembaca berita yang memiliki mental untuk tampil di depan publik.

Self control model atau model kontrol diri memiliki empat tahap, (Jocye dan Weil, 1986 : 363). Tahap pertama dalam model ini adalah memperkenalkan prinsip perilaku. Kegiatan pembelajaran dapat diawali dengan guru mengkomunikasikan prinsip bahwa kontrol diri merupakan fungsi dari lingkungan. Hal-hal yang dapat dikaitkan dalam kompetensi membaca berita adalah guru membangun apersepsi siswa bahwa seorang pembaca berita yang hebat adalah mereka yang mampu mengontrol dirinya sendiri. Selanjutnya guru menjelaskan prinsip-prinsip khusus pengontrolan  diri, dimana pembaca berita tidak akan menjadi handal jika tidak mempunyai prinsip dalam kontrol diri yang membedakan perilakunya saat membaca berita dengan kegiatan membaca nyaring lainnya. Kemudian guru membangun kemauan peserta didik untuk berpartisipasi dengan menawarkan beberapa siswa untuk membaca berita, dilanjutkan dengan koreksi lisan pembacaan berita tersebut bersama-sama dengan siswa lainnya.
Tahap kedua dalam urutan sintakmatik model kontrol diri adalah membangun landasan berpijak. Guru mengajak siswa secara klasikal untuk  merumuskan dengan jelas target perilaku yang khusus. Perilaku khusus yang dimaksud adalah perilaku serius yang diperlihatkan oleh pembaca berita. Guru bisa saja melakukan pemodelan terlebih dulu agar pengetahuan peserta didik dapat terkonstruksi untuk menetapkan langkah dan jadwal pengukuran. Pengukuran pembelajaran dalam model ini berupa lembar observasi untuk mencatat kendali rangsangan, penguatan dan juga respon. Lembar observasi bisa berisi penskoran intonasi, lafal dan sikap peserta didik saat membaca berita. Rentang skor disepakati secara bersama.

Tahap ketiga adalah menyusun program kontrol diri. Guru membimibing siswa untuk menetapkan lingkungan yang akan menjadi rangsangan dan penguat yang akan dipakai. Misalnya guru menugaskan siswa untuk menyimak pembacaan berita melalui media video mini ataupun lewat TV. Tujuan jangka pendek dapat dirumuskan dengan mengisi lembar observasi yang mereka buat untuk pengukuran hasil pembacaan berita yang mereka simak dari video mini/video dan lembar observasi kedua untuk pengamatan terhadap teman mereka yang membacakan berita. Dalam hal ini, siswa dalam petemuan berikutnya akan bergiliran sebagai pembaca berita yang menginformasikan sesuatu kepada lingkup mikro kelas mereka sendiri. Sementara tujuan jangka panjang, siswa diarahkan untuk memiliki kemampuan dan mental sebagai seorang pembaca berita dalam lingkup makro. Minimal, kalaupun peserta didik tidak akan berprofesi sebagai pembaca berita, mereka mampu melatih artikulasi dan keberanian untuk berbicara dengan ragam formal di depan umum untuk mengkomunikasikan ide dan gagasan tertentu yang memiliki muatan informasi. Sebagai tambahan dalam tahap ketiga ini, guru bersama dengan siswa membuat program tertulis pengontrolan dirinya dan melakukan kesepakatan untuk mampu mengontrol diri pada pertemuan berikutnya yang telah dijadwalkan.

Tahap keempat yang menjadi tahap terakhir dari model kontrol diri adalah memantau dan memperbaiki program. Masing-masing peserta didik dilibatkan dalam program dengan cara menjadi pembaca berita sekaligus menilai pembacaan berita dari temannya pada saat yang berlainan. Tahap refleksi pada model ini dapat dimanfaatkan oleh guru dengan mereview kemajuan siswa sebelum dan sesudah menerapkan prinsip kontrol diri dalam pembacaan berita dan menarik kesimpulan sebagai perbaikan dan bahan koreksi bersama.

Sunday, July 17, 2011

Batas


Pernah pada suatu malam yang hitam kulihat matamu. Ah, hitam. Sama sepertimu juga warna malam itu, ya? Oke oke. Aku tahu kau tak kan marah.

Untukmu, hitamku satu-satunya.
Tulisan ini ku buat pada sebuah jeda. Ketika waktu enggan berkenalan dengan batas, dan aktivitas semakin membuat sesak nafas. Namun untukmulah ku sisakan jeda itu. Aku berhitung pada jarum jam agar tetap damai. Agar bisa ku setor hadirku di dekatmu saat kau pulang. Kita akan pergi ke sebuah acara, bersama orang-orang yang ada di hidupku, atau orang-orang di hidupmu. Ini hidup kita, dan kita berkreasi untuk mengisinya.

Kau tahu, omelet yang pernah ku buat setengah gosong itu, atau cerita tentang monster tiang listrik dan beberapa rajukku adalah cara lain mengatakan... aku mencintaimu.

Pada batas itu,
aku tetap melihat cintamu pada empat kaleng bear brand yang kau bawa ke rumahku. Aku menyukai rasa terkejut saat pernah kulihat tulisan 'Love You' di layar monitorku. Atau sekedar rasa nyaman saat menunggumu turun dari travel, singgah di kantorku sebelum kita pulang.

Pada batas itu,
tentu saja kita seperti anak muda biasa. Kadang cinta ini membuat kita sedikit mabuk. Kita tetap saja manusia. Tapi percayalah, aku menyukai saat dimana menunggumu selesai berwudhu, membentangkan sajadahmu kemudian menunggu kau menjadi imam.

Dan pada yang berbatas itu,
kita tak boleh lupa. Ada banyak cara untuk saling mengingatkan. Aku percaya  justru karena batas itulah, cinta kita tetap indah. Sampai pada suatu waktu, yang juga tak kalah indah.
Semoga.

Friday, July 08, 2011

Fertilizer of Love


For you my black ranger,

I want to love you like flowers
fragrant and make the world a more beautiful
but of course
I need a fertilizer
of love
so that when one flower petal wither
I still love you with other my flowers petals...

Saturday, July 02, 2011

One Afternoon

(a note when people i love being sick)
  
...
once a day i remember our first encounter
when you've sat in front of me
a cafe
one afternoon
a story through a friend
;your friend

maybe i don't know how to love
to be lost first
before i realized that
there is another side of you in the untapped

it feels funny
i spent time away
without a pause i remember when i was tired of being hurt
by the love that is too short

i also still clearly remember my dear
how do i don't think i love you
The first time you shake hands
i just think you're a good friend
friends to share stories

and now
i want to be a friend of your life
just let's be friends
because i don't want to end
you're true friend
for me
forever
and never end

Note: get well soon ya black ranger, i gain your pain when you're sick.
i love you.

Monday, June 20, 2011

KAUM ELITE PUN PERLU BELAJAR BAHASA INDONESIA


Opini: Meila Rosianika

Manusia hidup dan tinggal dalam lingkungan yang heterogen. Setiap individu dipisahkan oleh berbagai kepentingan, baik itu kepentingan pribadi maupun kelompok. Antara kepentingan satu orang tentu saja berbeda dengan kepentingan orang lain. Adakalanya kepentingan yang berbeda-beda itu memunculkan konflik, namun adakalanya juga kepentingan tersebut dapat saling mengisi dengan simbiosis mutualisme. Salah satu cara untuk mengetahui perbedaan dan persamaan antara kepentingan kita dengan kepentingan orang lain adalah dengan menggunakan bahasa. Bahasa sebagai sistem lambang bunyi yang arbitrer bersifat menjadi perantara untuk mengajukan suatu maksud atau menjadi media yang  menyatukan berbagai macam heterogenitas individu. Dalam lingkup makro, bahasa Inggris -yang secara konvensional adalah bahasa internasional- dapat menyatukan satuan komunikasi individu dari berbagai negara. Begitu juga dalam ruang lingkup mikro, bahasa Indonesia sebagaimana tercantum dalam sumpah pemuda, telah menyatukan komunikasi antara beberapa orang dari berbagai daerah yang terpisah oleh kondisi geografis, adat istiadat, budaya dan lain sebagainya.
Dalam dunia pendidikan, harusnya menjadi hal yang wajar jika penguasaan bahasa seseorang dapat terlihat dari kemampuan berbahasanya. Dalam bahasa Inggris, siswa disajikan materi seperti reading, writing, speaking dan juga listening. Sebuah asumsi penulis bahwa seseorang itu baru akan dikatakan memiliki kemampuan suatu bahasa jika memiliki empat kemampuan tersebut. Lalu bagaimana dengan bahasa Indonesia? Bahasa yang digaungkan sebagai pemersatu tumpah darah ini juga memiliki empat kemampuan yang menjadi ukuran atas penguasaannya. Dua macam kemampuan produktif seperti menulis dan berbicara, dan dua macam kemampuan reseptif seperti seperti menyimak dan membaca. Seseorang dikatakan mampu berbahasa Indonesia bukan hanya ketika mereka mampu berbicara dengan bahasa Indonesia. Tapi juga bagaimana mereka mampu menyimak dengan penguasaan intisari, fasih menggunakan berbagai jenis kemampuan membaca, mampu berbicara dengan pertimbangan etika dan estetika serta juga mampu mengomunikasikan pembicaraan dalam bahasa tulisan dengan mengatakan tidak pada plagiarisme.
Tidak perlu menjabarkan terlalu banyak tentang penguasaan empat kemampuan tersebut yang harusnya dikuasai oleh masyarakat Indonesia. Utamanya kaum elite DPR RI yang merupakan perwakilan dan menjadi contoh bagi rakyatnya. Ricuhnya sidang dan kegagalan mengatasi perbedaan pendapat sampai dengan adu fisik di kalangan elite membuktikan rendahnya kemampuan menyimak mereka. Ada masa dimana kita harus mampu ‘mendengar’ orang lain jika ingin suara kita didengar. Namun yang kerap terjadi adalah hujan interupsi terjun bebas. Seolah-olah ingin mengatakan bahwa pendapatnyalah yang paling baik. Tanpa kemampuan menyimak ini, tidak akan mungkin seseorang bisa menghargai perbedaan pendapat. Padahal, dalam komunikasi dua arah saja tidak akan mungkin terjadi jika keduanya sama-sama berbicara. Perlu ada yang menyimak, baik itu menyimak dalam makna semantik, atau dalam makna pragmatik dengan tolak ukur mampu menyimak “suara hati rakyat”. Belum lagi tidur masal dan kasus menonton video porno yang semakin mempertanyakan kemampuan menyimak mereka pada bahasan sidang yang tengah berlangsung.
Lain lagi dengan kemampuan berbicara. Salah satu pertimbangan yang layak diperhitungkan adalah kemampuan bicara dengan etika dan estetika. Lalu, apakah beretika bila ketua DPR RI Marzuki Alie pernah berbicara “Cuma orang elite yang bisa bahas ini. Rakyat biasa nggak bisa dibawa. Rakyat biasa yang penting perut terisi” (www.detiknews.com,1/4,2011) ditengah-tengah panasnya pro-kontra pembangunan gedung baru dengan fasilitas yang diluar logika. Mungkin dapat dikatakan esensi pembicaraannya benar, mengingat mereka kaum elite adalah kalangan berpendidikan yang mampu membahas suatu usulan dan rancangan. Tapi cara bicaranya dengan diksi yang sedemikian kasar memperlihatkan si pembicara tidak mempertimbangkan perasaan pebicara dan subjek yang sedang dibicarakan. Bicara tanpa etika dan estetika sangat tidak layak dituturkan oleh penutur berjas rapi yang notabenenya adalah wakil rakyat.
Kemampuan menulis mereka pun patut untuk diragukan. Plagiarisme yang harusnya diberantas malah tumbuh serupa benih yang mungkin subur jika tanpa pakem dari rakyat. Indonesia Corruption Watch (ICW), Pusat Studi Hukum dan Kebijakan Indonesia (PSHK) dan Indonesia Budget Centre (IBC) melaporkan investigasi bahwa yang hasil studi banding ke luar negeri anggota DPR adalah hasil copy-paste dari situs asing (www.id.berita.yahoo,8/5/2011).  Tulisan yang diduga hasil jiplak adalah hasil kunjungan Panitia Kerja RUU Kepamukraan ke Afrika Selatan dan studi banding etika parlemen ke Yunani. Dugaan ini tak mungkin muncul jika tak ada yang menghidupkan api kecurigaan publik terhadap kinerja mereka.  Jadi, sepertinya layak untuk dipertimbangkan bahwa belajar bahasa Indonesia bisa saja menjadi suatu usulan yang didaftarkan sebagai program kerja anggota DPR.

Jatuh Cinta

  Jika ada perasaan yang paling indah di dunia, mungkin salah satunya adalah jatuh cinta. Perasaan ini membuat seseorang tersenyum tanpa ala...