Cerita
Dongeng oleh: Meila Rosianika
Alkisah di sebuah
desa bernama Desa Lubuk Resam yang ada di Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi,
berdirilah sebuah kerajaan di bawah aliran Sungai Saluang. Kerajaan itu disebut
dengan Kampung Tekuyung. Tekuyung adalah hewan air sejenis siput yang memiliki
cangkang lebih keras. Hewan ini hanya di
temui di beberapa tempat. Salah satunya di Desa Lubuk Resam. Kampung Tekuyung
dipimpin oleh raja yang arif bijaksana. Sang Raja sangat dicintai oleh
rakyatnya. Ia juga dikenal sebagai seorang raja yang rajin berderma dan
membantu sesama. Raja menggunakan kekuasaan dan kekayaannya untuk berbagi jika
ada rakyat di kampungnya yang kelaparan.
Namun ternyata, suatu
hari sekumpulan labi-labi menyerang Kampung Tekuyung. Kampung terlihat
porak-poranda. Rumah-rumah warga tekuyung hancur tak bersisa. Sang Raja yang
kebingungan lalu memanggil penasihat istana.
“Apa yang terjadi
di kampungku?” tanya raja pada penasihatnya. Penasihat istana bercerita
mengenai kronologi penyerangan labi-labi di kampungnya. Kemakmuran Kampung
Tekuyung tersebar ke seluruh kampung di bawah aliran sungai. Tak semua warga
kampung senang mendengarnya. Sekumpulan labi-labi ternyata telah lama
menghimpun kekuatan untuk melakukan penyerangan. Raja di kampung sana
sepertinya semena-mena. Hidup sekumpulan labi-labi penyerang tak semakmur warga
tekuyung.
Penasihat istana menawarkan
dua solusi atas permasalahan yang dihadapi di Kampung Tekuyung. Solusi pertama
adalah melakukan serangan balas dendam pada labi-labi. Kerusakan yang dialami
beberapa rumah warga tekuyung cukup parah. Harta istana akan terkuras untuk
memperbaiki hunian para warga tekuyung yang terkena dampak serangan ini. Warga
labi-labi harus diberikan pelajaran atas tindakannya ini.
Penasihat istana
juga menawarkan solusi kedua. Solusi tersebut adalah fokus pada membangun
kembali rumah-rumah warga tekuyung yang hancur dengan mengajak mereka saling
bergotong-royong. Penasihat juga menyarankan raja bernegosiasi dengan raja di
kampung labi-labi. Meminta raja labi-labi memberikan konsekuensi pada
sekumpulan warganya yang menyerang kampung tekuyung. Penasihan berpikir tindakan
tersebut akan memberikan efek jera pada sekumpulan labi-labi yang melakukan
penyerangan.
“Aku marah sekali
atas kejadian ini.” ungkap Raja Tekuyung. “Bagaimana bisa aku memaafkan
penyerangan itu?” ungkap Sang Raja dengan geram.
Sang raja kemudian
meminta waktu sejenak untuk berdiam diri di perpustakaan kerajaan. Ia harus
memikirkan solusi yang akan ia ambil dalam keadaan tenang. Setelah tak berapa
lama, Raja Tekuyung keluar dari perpustakaan istana. Ia menghampiri penasihat
istana.
“Kita akan
bergotong royong saja.” ujar Sang Raja pada penasihatnya. Raja Tekuyung
memberikan imbauan kepada rakyatnya untuk saling bahu-membahu dalam membangun
kembali rumah-rumah warga yang hancur akibat penyerangan labi-labi. Ia juga
melakukan negosiasi dengan mendatangi Kampung Labi-Labi untuk membicarakan
permasalahn tersebut. Menurutnya, para penyerang harus diberikan konsekuensi
atas tindakannya sendiri. Raja Tekuyung juga menawarkan donasi ke Kampung
Labi-Labi yang berasal dari dana kerajaannya.
Raja Tekuyung
berpikir daripada uangnya dihabiskan untuk melakukan serangan balas dendam,
lebih baik ia fokus pada akar masalahnya. Penyerangan terjadi karena perbedaan
kemakmuran hidup antara rakyat tekuyung dan labi-labi. Siapa tahu, dengan
berdonasi secara rutin ke Kampung Labi-Labi, kemakmuran warga di sana dapat
terbantu. Sehingga tak ada lagi kecemburuan sosial di antara warga kampung yang
satu dan lainnya.
Peristiwa
penyerangan ini juga membawa hikmah yang besar bagi Kampung Tekuyung. Begitu
mendengarkan imbauan Sang Raja, rakyat tekuyung saling bahu-membahu untuk
mendirikan kembali rumah-rumah warga yang rubuh akibat penyerangan. Ketika Sang
Raja meninjau langsung kondisi warga, mereka semua terlihat saling menghibur
dan menyemangati satu sama lain.
Memang, ada
beberapa warga tekuyung yang datang menemui Sang Raja. Beberapa tekuyung
tersebut menyatakan kehendaknya untuk memberikan serangan balasan pada warga
labi-labi. Namun, hal ini masih bisa diatasi dengan memberikan pengertian
kepada rakyatnya bahwa penyerangan kali ini masih bisa dimaafkan karena tak ada
korban jiwa. Lagi pula, jika kita ikuti kehendak untuk membalas penyerangan,
tak menutup kemungkinan warga labi-labi lainnya akan menyerang kembali.
Tindakan saling
menyerang antara warga tekuyung dan labi-labi hanya akan memicu kehancuran yang
lebih banyak. Jika tekuyung dan labi-labi saling menyerang terus-terusan,
kondisi bawah Sungai Saluang akan semakin kacau. “Kita harus saling bekerjasama
menjaga kedamaain sungai ini,” ungkap Sang Raja. “Musuh sejati kita adalah
manusia-manusia penambang illegal di atas sana.” tambahnya.
Menurut Sang Raja,
manusia-manusia penambang illegal adalah perusak sungai yang sesungguhnya. Raja
Tekuyung dan Raja Labi-Labi harus berkonsentrasi pada masalah yang lebih besar.
Mereka perlu saling bekerja sama untuk menciptakan kedamaian dan kebersihan
Sungai Saluang. Bukan malah memperkeruh keadaan yang diakibatkan oleh beberapa
oknum labi-labi.
Semenjak saat itu,
suasana kampung mulai berangsur membaik. Rumah-rumah warga yang menjadi korban
penyerangan mulai tegak berdiri kembali. Proses pembangunan ini terjadi begitu
cepat kerena warga tekuyung saling berkolaborasi dan bergotong-royong dalam membangunnya.
Raja akhirnya juga memutuskan untuk memanggil penasihatnya kembali.
Menurut Sang Raja,
kurikulum bergotong-royong perlu dimasukan dalam sekolah-sekolah yang ada di
Kampung Tekuyung. Budaya ini sangat baik dan positif. Sang Raja tak ingin
budaya yang damai ini hilang ditelan zaman. Budaya bergotong royong perlu
ditanamkan sedini mungkin bagi para penerus dan anak-anak tekuyung di bangku
sekolah. Ide ini juga disambut baik oleh penasihat istana. Penasihat
menyebarkan informasi ini ke seluruh sekolah-sekolah di Kampung Tekuyung.
Kampung Tekuyung
semakin makmur. Warga Kampung Labi-Labi tak pernah melakukan penyerangan
kembali. Mereka hidup damai berdampingan di bawah tenangnya arus Sungai
Saluang.
No comments:
Post a Comment