: Catatan Perjuangan dari Surau Tua
Resensi Buku oleh: Meila Rosianika
Identitas Buku
Judul Buku :
Kemarau
Penulis :
A. A Navis
Penerbit :
PT Grasindo (2018)
Tahun Terbit :
1957 (Cetakan Pertama)
Jumlah Halaman :
118 Halaman
“Engkau telah memilih hidup berjuang. Setiap perjuangan
akan selalu menemui tantangan. Kalau kau kuat, engkau akan menang”
Kutipan tersebut ada di halaman delapan
puluh karya A.A Navis pada novel berjudul Kemarau ini. Melalui kutipan tadi,
dapat ditarik benang merah ikhtisar cerita ini adalah perjuangan. Perjuangan
Sutan Duano tak hanya untuk dirinya. Ia turut berupaya memberdayakan warga
kampung untuk berusaha menjemput takdir yang sedang mereka hadapi di musim
kemarau panjang. Alih-alih menghabiskan waktu dengan hanya berdoa, ia memilih
memikul belek untuk mengairi sawah dari danau. Hal ini ia lakukan sebagai
ikhtiarnya menghadapi kekeringan berkepanjangan. Lelaki setengah baya itu tak
gentar meskipun penduduk terheran-heran dengan apa yang ia lakukan. Ia hendak
memberikan keteladanan lewat tindakan.
Sikap teguh Sutan Duano ini menarik hati
beberapa perempuan di kampung untuk pergi mengaji ke surau. Sutan Duano juga
dikenal sebagai guru agama. Beberapa perempuan kerap datang pada waktu-waktu
tertentu untuk belajar. Namun ternyata, tak semua perempuan tersebut berniat
murni untuk belajar. Ada yang hanya ingin menarik hati sang guru saja. Kisah
Sutan Duano juga diwarnai oleh tokoh Gudam dan anaknya yang bernama Acin. Acin
merupakan seorang bocah laki-laki yang kerap membantu Sutan Duano mengambil air
dari danau ke sawah. Gudam, seorang janda yang juga merupakan ibu dari Acin,
digosipkan warga kampung sebagai perempuan yang disukai oleh Sutan Duano.
Meskipun pada akhirnya Gudam dan Sutan Duano menikah, awal ketertarikan Sutan
Duano justru pada Acin.
Acin merupakan anak yang baik dan bisa
dinasihati. Ia kerap berbincang bersama Sutan Duano sembari mengairi sawah.
Acin menjadi pusat perwujudan kasih sayang Sutan Duano kepada anaknya yang
Bernama Masri. Masri merupakan anak dari istri pertama Sutan Duano yang
keberadaanya telah lama tak diketahuinya. Setelah ibu dari Masri meninggal,
hidup Sutan Duano di masa muda tak tentu arah. Hal ini berimbas pula pada caranya
menjalani hidup. Ia seperti kecewa pada takdir dengan menikah lagi-cerai-menikah-cerai
sampai beberapa kali. Semakin ia ingin melampiaskan kekesalannya pada kepergian
istrinya dulu, semakin ia gagal membina rumah tangga pada yang baru. Ia selalu
teringat akan kebaikan ibunya Masri. Kegagalan berkali-kali ini pula yang
membuat Masri semakin tidak jelas hidupnya. Sutan Duano memilih pergi untuk
menepi di sebuah surau tua yang jauh, sedangkan keberadaan Masri sudah lama
pula tak diketahuinya. Bagi Sutan Duano, belum ada yang sebaik istrinya yang
pertama. Sampai ia bertemu Acin. Ia begitu tertarik pada anak itu dan harus
melawan rasa traumanya pada pernikahan. Semakin ia menyayangi Acin, semakin ia
ingin selalu bersamanya, semakin takut pula ia untuk menikahi Gudam. Konflik
batin inilah yang menjadi fokus dalam cerita ini.
Kelebihan novel terlihat pada pemaparan
penulis pada caranya mengaitkan masa lalu dan masa kini dalam alurnya. Awalnya
pembaca diajak berpikir darimana Sutan Duano berasal, bagaimana masa lalunya,
serta pertanyaan menggelitik mengenai apakah upayanya memberikan keteladanan
pada warga kampung akan berhasil. Rasa penasaran pembaca dibawa lebih dulu pada
kritik moral tentang prinsip hidup yang terlalu memuja doa tanpa melakukan
upaya. Padahal kita sebagai manusia dikarunia akal budi, daya, rasa serta karsa
untuk senantiasa berpikir dan berusaha. Penulis menuntun pembaca untuk lebih
teliti pula dalam memilih usaha yang akan dilakukan. Sudahkah usaha itu
benar-benar dimaksimalkan dengan sumber daya yang ada seperti melimpahnya air
danau yang perlu dijemput dengan keringat dan tenaga? Ataukah usaha itu
cukuplah saja dengan mengikuti kursus-kursus ke kota? Berbondong-bondong pergi
merantau dan meninggalkan sawah mereka yang kekeringan karena kemarau? Musimkah
yang kemarau? Atau justru upaya mereka dalam mengatasinya?
Bagian yang menjadi kekurangan isi cerita
adalah penekanan pada kisah Masri, anak Sutan Duano yang akhirnya dapat
ditemuinya pada bagian akhir cerita. Menjelang akhir kisah, penulis
menceritakan keberadaan Masri yang ternyata telah menikah dengan seorang
perempuan bernama Arni. Konflik justru kembali menukik tajam pada bagian ini
karena ternyata istri Masri adalah anak dari Iyah. Iyah adalah salah satu istri
Sutan Duano di masa lampau. Ia menikahi Iyah hanya sebentar saja sebagai
pelampiasan sepeninggal ibu dari Masri. Sutan Duano tak tahu bahwa saat ia
meninggalkan Iyah, perempuan itu sedang mengandung. Itulah anak kandungnya yang
sudah tumbuh dewasa dan menikah dengan Masri, anak kandungnya juga. Penulis
kurang mempertajam bagian ini sebagai salah satu akibat buruk perbuatan Sutan
Duano di masa lalu. Rasa penyesalan Sutan Duano pada masa lalu itu berdampak
mendalam pada anak-anaknya. Terlalu rumit untuk sekadar ditukar dengan kata
maaf.
Buku ini layak dibaca untuk penikmat
konflik batin dalam cerita. Pembaca diajak belajar filosofi hidup dari barisan
kalimat penulis di cerita ini. Kesimpulan yang dapat diambil adalah perlunya
kita melakukan inisiasi dengan tindakan nyata. Sutan Duano memberikan contoh
pilihan untuk berdiri di atas prinsipnya sendiri. “Tapi ketahuilah, Gudam,
meski betapa perasaan hatiku padamu, aku takkan mundur oleh prinsip-prinsip
hidupku sendiri” tulis A.A Navis menegaskan watak tokoh Sutan Duano dalam kisah
ini.
No comments:
Post a Comment