Friday, May 09, 2025

Gersang Kemarau Janganlah Risau

 

: Catatan Perjuangan dari Surau Tua

Resensi Buku oleh: Meila Rosianika

 


Identitas Buku

Judul Buku              : Kemarau

Penulis                    : A. A Navis

Penerbit                  : PT Grasindo (2018)

Tahun Terbit            : 1957 (Cetakan Pertama)

Jumlah Halaman     : 118 Halaman

 

 

“Engkau telah memilih hidup berjuang. Setiap perjuangan akan selalu menemui tantangan. Kalau kau kuat, engkau akan menang”

Kutipan tersebut ada di halaman delapan puluh karya A.A Navis pada novel berjudul Kemarau ini. Melalui kutipan tadi, dapat ditarik benang merah ikhtisar cerita ini adalah perjuangan. Perjuangan Sutan Duano tak hanya untuk dirinya. Ia turut berupaya memberdayakan warga kampung untuk berusaha menjemput takdir yang sedang mereka hadapi di musim kemarau panjang. Alih-alih menghabiskan waktu dengan hanya berdoa, ia memilih memikul belek untuk mengairi sawah dari danau. Hal ini ia lakukan sebagai ikhtiarnya menghadapi kekeringan berkepanjangan. Lelaki setengah baya itu tak gentar meskipun penduduk terheran-heran dengan apa yang ia lakukan. Ia hendak memberikan keteladanan lewat tindakan.

Sikap teguh Sutan Duano ini menarik hati beberapa perempuan di kampung untuk pergi mengaji ke surau. Sutan Duano juga dikenal sebagai guru agama. Beberapa perempuan kerap datang pada waktu-waktu tertentu untuk belajar. Namun ternyata, tak semua perempuan tersebut berniat murni untuk belajar. Ada yang hanya ingin menarik hati sang guru saja. Kisah Sutan Duano juga diwarnai oleh tokoh Gudam dan anaknya yang bernama Acin. Acin merupakan seorang bocah laki-laki yang kerap membantu Sutan Duano mengambil air dari danau ke sawah. Gudam, seorang janda yang juga merupakan ibu dari Acin, digosipkan warga kampung sebagai perempuan yang disukai oleh Sutan Duano. Meskipun pada akhirnya Gudam dan Sutan Duano menikah, awal ketertarikan Sutan Duano justru pada Acin.

Acin merupakan anak yang baik dan bisa dinasihati. Ia kerap berbincang bersama Sutan Duano sembari mengairi sawah. Acin menjadi pusat perwujudan kasih sayang Sutan Duano kepada anaknya yang Bernama Masri. Masri merupakan anak dari istri pertama Sutan Duano yang keberadaanya telah lama tak diketahuinya. Setelah ibu dari Masri meninggal, hidup Sutan Duano di masa muda tak tentu arah. Hal ini berimbas pula pada caranya menjalani hidup. Ia seperti kecewa pada takdir dengan menikah lagi-cerai-menikah-cerai sampai beberapa kali. Semakin ia ingin melampiaskan kekesalannya pada kepergian istrinya dulu, semakin ia gagal membina rumah tangga pada yang baru. Ia selalu teringat akan kebaikan ibunya Masri. Kegagalan berkali-kali ini pula yang membuat Masri semakin tidak jelas hidupnya. Sutan Duano memilih pergi untuk menepi di sebuah surau tua yang jauh, sedangkan keberadaan Masri sudah lama pula tak diketahuinya. Bagi Sutan Duano, belum ada yang sebaik istrinya yang pertama. Sampai ia bertemu Acin. Ia begitu tertarik pada anak itu dan harus melawan rasa traumanya pada pernikahan. Semakin ia menyayangi Acin, semakin ia ingin selalu bersamanya, semakin takut pula ia untuk menikahi Gudam. Konflik batin inilah yang menjadi fokus dalam cerita ini.

Kelebihan novel terlihat pada pemaparan penulis pada caranya mengaitkan masa lalu dan masa kini dalam alurnya. Awalnya pembaca diajak berpikir darimana Sutan Duano berasal, bagaimana masa lalunya, serta pertanyaan menggelitik mengenai apakah upayanya memberikan keteladanan pada warga kampung akan berhasil. Rasa penasaran pembaca dibawa lebih dulu pada kritik moral tentang prinsip hidup yang terlalu memuja doa tanpa melakukan upaya. Padahal kita sebagai manusia dikarunia akal budi, daya, rasa serta karsa untuk senantiasa berpikir dan berusaha. Penulis menuntun pembaca untuk lebih teliti pula dalam memilih usaha yang akan dilakukan. Sudahkah usaha itu benar-benar dimaksimalkan dengan sumber daya yang ada seperti melimpahnya air danau yang perlu dijemput dengan keringat dan tenaga? Ataukah usaha itu cukuplah saja dengan mengikuti kursus-kursus ke kota? Berbondong-bondong pergi merantau dan meninggalkan sawah mereka yang kekeringan karena kemarau? Musimkah yang kemarau? Atau justru upaya mereka dalam mengatasinya?

Bagian yang menjadi kekurangan isi cerita adalah penekanan pada kisah Masri, anak Sutan Duano yang akhirnya dapat ditemuinya pada bagian akhir cerita. Menjelang akhir kisah, penulis menceritakan keberadaan Masri yang ternyata telah menikah dengan seorang perempuan bernama Arni. Konflik justru kembali menukik tajam pada bagian ini karena ternyata istri Masri adalah anak dari Iyah. Iyah adalah salah satu istri Sutan Duano di masa lampau. Ia menikahi Iyah hanya sebentar saja sebagai pelampiasan sepeninggal ibu dari Masri. Sutan Duano tak tahu bahwa saat ia meninggalkan Iyah, perempuan itu sedang mengandung. Itulah anak kandungnya yang sudah tumbuh dewasa dan menikah dengan Masri, anak kandungnya juga. Penulis kurang mempertajam bagian ini sebagai salah satu akibat buruk perbuatan Sutan Duano di masa lalu. Rasa penyesalan Sutan Duano pada masa lalu itu berdampak mendalam pada anak-anaknya. Terlalu rumit untuk sekadar ditukar dengan kata maaf.

Buku ini layak dibaca untuk penikmat konflik batin dalam cerita. Pembaca diajak belajar filosofi hidup dari barisan kalimat penulis di cerita ini. Kesimpulan yang dapat diambil adalah perlunya kita melakukan inisiasi dengan tindakan nyata. Sutan Duano memberikan contoh pilihan untuk berdiri di atas prinsipnya sendiri. “Tapi ketahuilah, Gudam, meski betapa perasaan hatiku padamu, aku takkan mundur oleh prinsip-prinsip hidupku sendiri” tulis A.A Navis menegaskan watak tokoh Sutan Duano dalam kisah ini.

No comments:

Post a Comment

Jatuh Cinta

  Jika ada perasaan yang paling indah di dunia, mungkin salah satunya adalah jatuh cinta. Perasaan ini membuat seseorang tersenyum tanpa ala...