Friday, December 04, 2009

cerpen_SEMBILAN MOZAIK DETEKSI

SEMBILAN MOZAIK DETEKSI

Cerpen : Meila R

 

 “Aku suka angka sembilan, angka itu tuh angka yang paling besar! Nggak ada lagi angka setelah itu” ujar Bella pada kami ditengah riuh rendah rapat redaksi deteksi. Perempuan aktiv satu ini memang selalu membuat aku terkesima dengan ucapannya. Rambutnya berombak rapi. Bisa-bisa menggulung siapa saja yang bakal terpikat kecerdasannya dengan debur-debur cinta tentunya. Kalau saja aku lelaki, mungkin sudah kubuat ia jadi miliku. Tidaaak! No way !! Biar gini-gini aku masih perempuan normal, masih tertarik dan menunggu seorang kaum adam datang dengan malaikat cinta plus seikat mawar merah muda (lengkap dengan kuda putihnya). Kami mengiyakan perkataan Bella tanpa berpikir panjang seputar filosofi lebih jauh lagi tentang angka sembilan. Aku sendiri juga menyukai angka itu. Angka yang mistis berdaya magis. Banyak hal ditelurkan mengatasnamakan angka sembilan. Novel terkenal sembilan matahari, sembilan bulan janin dalam  kandungan, sepucuk Jambi sembilan Lurah, dst. Dan kini di tengah mimpi kaum muda yang heterogen. Sembilan diantaranya terdeteksi. Terkumpul dari mozaik-mazaik hati, Menggali potensi seadanya dengan bekal mimpi. Mencari-cari jati diri di tengah belukar tandus imajinasi. Tapi bukan hanya untuk diri, selaksa mimpi untuk Jambi. Kota nan teduh tempat dimana kami letakkan kanvas melukis semburat mimpi-mimpi. Entah itu dilangit jingga ataupun vanilla. Entah itu dikala senja ataupun fajar yang menjelma. Tetap saja naluri kami menggeliat menulis sesuatu, memberi sesuatu, mendeteksi sesuatu, hal-hal yang ingin kami tuju.

“ ada ide mei?” ujar ketua kami. Hhfff… pemuda berbadan ‘gede satu ini seringkali buat aku kaget. Kulitnya coklat plus ditambah tatapan yang seram sering membuat aku keder. Rasanya ingin saja kukirim ia ke planet Pluto. Biar disana ia bisa mengagetkan para alien. Entah bagaimana jadinya kalau para alien dikagetkan oleh suaranya. Mungkin ia akan ditawan untuk dijadikan raja alien yang cukup disegani. Eits, jangaaan!. Kalau dia jadi raja alien siapa yang akan jadi ketua dan fotografer kami. “belom ada, Lok” jawab ku. Jawabanku yang sederhana, tak berarti apa-apa. Sangat biasa-biasa saja. Ide brilian mungkin belum ingin menyapa sel-sel otakku yang ‘sedikit’ lemot. Hampa makna. ILok lalu menanyai yang lain. Di meja redaksi dia bak sutradara kawakan, dan kami adalah aktor-aktornya. Tapi benar-benar tak kusangka. Dibalik auranya yang cukup punya wibawa, ternyata setiap hari minggu ia tak pernah alpa menonton tayangan TV faforitnya. Doraemon.

Melly yang duduk disebelahku terlihat mencatat sesuatu. “jurnalis sejati ne anak” gumamku dalam hati. Aku terbilang jarang mencatat. Sepuluh jari yang telah dikaruniai Tuhan untukku malah sering kumanfaatkan untuk SMSan. Maklum anak muda yang sering berpenyakit semigila karana cinta. Dasar memang aku, jurnalis jadi-jadian. Di gedung biru ini mungkin aku cuma aktor figuran. Pelengkap alur. Hei! Tapi bukankah tanpa figuran sebuah film tak ‘kan lengkap? Yup, mungkin itulah kami. Tak lengkap bila tak berpelengkap yang saling melengkapi. Mozaik itu dari awal telah mendeteksi sembilan hati. Bagaimana bisa kalau satu saja diantaranya tak berdegup, tak bernafas, tak bergeming dan mencoba berpaling, mungkin mozaik bukan mozaik. Melainkan partikel atau atom-atom bak butiran pasir. Tak berarti. Ah, aku tak pernah membayangkan hal seburuk itu. Aku dan mereka sedang merenda putik-putik mimpi, mencium kuncup aroma wangi dunia muda. Rindu akan tawa dan sama sekali tak ingin menderita. Ada banyak cinta ditawarkan di luar sana. Tapi sembilan mozaik ini bagiku lebih dari itu. Bukan hanya cinta klise daun-daun kering yang akan gugur. Tapi cinta yang dilahirkan dari konsep mediator. Menjadi satu untuk memberi sesuatu. Berbeda dari yang telah beda. Bahkan kami selalu ingin tahu apa-apa saja yang t’lah tahu. Bukan untuk berlaga dungu. Tapi untuk maju.

Dan suara Akbar si design grafis kemudian menggema, si aktor utama yang baru saja menuai sukses dengan cerpen perdana karyanya. “persoalan mudah kawan, kita angkat tentang puasa, suka duka kegiatan remaja selama puasa, aktivitas puasa ‘N pandangan remaja tentang puasa” ujarnya. Si pemuda satu ini cukup bisa dikategorikan berwajah oriental. Hobby nge-band dan selalu tampil modis. Yah, bisa dibilang calon insan band masa depan. Calon pendatang baru di blantika musik Indonesia. Haha mungkin khalayan ku terlalu berlebihan. “boleh juga! Entar kita kumpulin datanya lewat survey lagi ke skolah-sekolah ‘N kampus-kampus” lanjut Dini, perempuan kalem yang kadang bikin adem ayem. Tapi kadang-kadang kalo liputannya belum selesai pas udah di deadline dia bisa lebih ‘sibuk’ ketimbang penyanyi yang sedang siap-siap mau konser. ‘grusa-grusu’ mungkin begitulah kosakata yang kupunya dan kurasa tepat untuknya.

Kemudian sang waktu pun berjalan mengitari kami. Sembilan nyawa yang mencari eksistensi. Ide dan gagasan muncul perlahan ke permukaan. Direvisi sedikit, ditambah sedikit, dikurang sedikit. Yes, masalah tematik untuk liputan khusus terselesaikan. Tujuh diantara kami akan survey di kampus-kampus. Dan dua diantara kami yang lain akan melancarkan aksi surveinya disekolah-sekolah. Dua orang itu memang masih anak sekolahan. Si Riska dan Tuti. Jangan kira pemikiran dua orang ini setara dengan pemikiran anak sekolahan biasa. Labirin-labirin sel otak yang memang cukup handal, hingga mereka mampu mengimbangi pemikiran2 para jurnalis part time lain di ruangan ini.

Hoho, ada satu orang lagi yang belum keperkenalkan. Disudut sana. Seorang lelaki kemudian beranjak dari tempat duduknya. Mengambil tempat duduk lain sesaat setelah rapat usai. Tanpa banyak bicara ia menekuri pekerjaannya didepan komputer. Dialah lay outer kami. Tobok. Kulit putih dengan rambut pirang plus sikap ‘introfert’ nya sedingin salju puncak gunung Fuji. Tapi kalau sudah diskusi soal tata letak halaman, barulah gunung es dihatinya kemudian meleleh, menjadi lahar panas yang melesat-lesat dengan ide kreatifnya.

By the way, teman-temanku di gedung biru itu selalu saja menjuluki ku penyuka pink. Padahal aku benci sekali warna itu. Warna yang menurutku kekanak-kanakkan. Hfff… kebetulan saja tas dan sepatu ku berwarna pink, kebetulan saja aksesori dan bajuku kebanyakan pink, kebetulan saja skuter ku berwarna pink. Kebetulaaaaan!!

Setelah rapat redaksi usai, kami masing masing menekuri komputer. Writing, browsing bahan atau sekedar One Line mencari inspirasi lewat barisan tulisan status FB (sekalian hunting-hunting). Satu persatu dari kami akan mulai fokus dengan rubrik garapan masing-masing. Tapi jangan kira hidup kami tak pernah dirundung duka. Maklum jurnalist part time. Logikanya saja bahwa Fasilitas kantor yang full time juga buat jurnalist yang full time. Prinsip efektifitas dan efisiensi kantor. Lagi pula memang rubric kami terbitan seminggu sekali. Siang itu. Aku sedang mencari-cari gambar rubrik resensi. Tiba-tiba seorang wanita menyapaku hangat “ misi ya mbaak, saya mau pake komputernya”. Sambil tersenyum tipis, aku beranjak dari kursi, “silakan mbaaaak”. Jawabku menurutinya. Kulirik teman-teman mozaik sembilan. Aku membagi tawa dan cerita sejenak. Setelah beberapa saat tak ada pilihan. Aku mengemasi peralatanku. Turun lift lalu pulang.

Dijalan ideku datang. Seperti teroris yang kemudian membom sebuah lahan di jengkal pikiranku. Dari sebuah keterbatasan aku ingin melahirkan sebuah kebahagiaan. Bukan kedukaan. Ini adalah bagian, yang akan kutakhlukkan.***

 

cerita ini hanyalah fiksi belaka.

Kesamaan cerita, nama tokoh dan tempat

Merupakan suatu ketidaksengajaan

yang tumbuh atas akulturasi imajinasi”.

(Dedicate for : sembilan mozaik di gedung biru

Yang siap mendeteksi)

No comments:

Post a Comment

Jatuh Cinta

  Jika ada perasaan yang paling indah di dunia, mungkin salah satunya adalah jatuh cinta. Perasaan ini membuat seseorang tersenyum tanpa ala...