Sekotak Cinta Buat Kotak
Cerpen : Meila R
“Kamuuu tak tahu, rasanya hatiku saat berhadapan kamu… kamu tak bisa bayangkan rasanya jadi diriku yang masih cintaaa…”
Kutipan reff lagu dari grup band kotak itu bertalu-talu diruangan studio radio ini sesaat baru saja kuhirup susu coklat hangat yang kubuat di pantry. Ingin rasanya tadi kuteriakkan lirik lagu itu dihadapannya. Saat presentasi tugas kuliah tadi pagi aku terpaksa harus berhadapan dengannya. Kelompoknya menjadi pembahas kelompokku. Setipa jengkal dan inci pertanyaannya harus kujawab dengan baik kalau tidak mau nilaiku jatuh pada mata kuliah ini. Mau tidak mau aku juga harus menatapnya bicara. Menatap mata coklatnya. Ya Tuhan, tahukah ia tentang suhu hatiku yang mungkin bisa saja mengalahkan suhu terdingin kutub Antartika saat harus berhadapan dengannya. Semua berlalu begitu cepat. Di saat-saat terakhir dia bilang teori tentang keegoisan. Memang terlalu manusiawi untuk bisa terdefinisi. Tapi toh dia sanggup menghancurkan hatiku menjadi puing-puing di atas fondasi yang telah terjalin. Aku seperti menyulam jaring-jaring dalam benang cinta, lalu tertusuk jarumnya. Sakit. Sakit sekali. Dia benar-benar meninggalkan aku tanpa aku bisa mempersiapkan hati terlebih dulu. Sekalipun aku bersikap biasa saja dihadapannya. Tapi sisa cinta dihatiku belum begitu saja luruh terhapus. Sulit. Sulit sekali.
“Tik… tik… air mataku biar terjatuh dalam hati… Mauku tak penting lagi… “
Lagu itu bertalu lagi. Persis saat aku baru saja menghapus bulir bening yang memang terjatuh tanpa terskenario. Terlalu lemahkah aku? Kukira aku bisa tegar untuk hal remeh temeh macam ini. Ah, untung saja sempat kuseka air mata tadi sebelum operator mendapatiku. “ kotak besok kesini!!” teriaknya dihadapanku. Aku hanya senyum simpul. Padahal aku memang telah lama menunggu band satu itu singgah di tanah
Entah kenapa aku diperkenalkan dengan sebuah kosakata bernama ego. Begitu naifkah aku? Ah, memang mungkin itu cinta.
Malam ini aku harus on air hingga pukul dua belas malam. Menjadi seorang announcer memang begini resikonya. Tapi aku mendapatkan banyak hal dari profesi ini. Termasuk juga fans yang menginspirasi tulisan-tulisanku, aku juga bisa istirahat ketika kunaikkan lagu atau iklan. Saat off air itulah biasanya aku melakukan pekerjaanku yang lain. Menulis berlembar-lembar artikel sebagai tugasku sebagai jurnalist part time di salah satu media cetak. Ya, itulah hidupku. Menjalani dua pekerjaan sekaligus. Ralat, tiga pekerjaan. Karena aku juga masih berstatus mahasiswi dengan sejuta tugas-tugas yang harus kugarap saban hari sebagai menu wajib di meja para dosen-dosenku yang terhormat.
Kembali lagi pada permasalah ego. Malam ini kuangakat tema tentang kosakata itu pada bahasan ringan radio. Masih terbingkai dibenakku saat ia menujukan kata-kata itu untukku. Egoiskah aku? Kurasa semuanya baik-baik saja. Kukira semuanya berjalan seperti semula. Lancar-lancar saja. Tapi dimatanya tadi siang aku melihat badai. Badai yang siap kapan saja menggulungku ketempat yang begitu asing dengan duri-duri dinginnya. Beberapa bulan kebelakang memang intensitas pertemuan kami terbilang jarang. Banyak deadline tulisan, bayak jadwal siaran, banyak tugas. Memang itu alasanku. Bukankah ia baik-baik saja selama ini dengan semua aktivitasku. Kenapa baru sekarang dikeluhkannya waktuku yang memang tak pernah ada habisnya.
***
Keesokannya, seperti biasa. Telat bangun lagi. Padahal sebelum kekampus aku harus ke kantor dulu. Menyerahkan tulisan untuk rubrik bagianku. Jam satu siang harus sudah stanbye di radio.
Di jalan si pinky malah ngadat kehausan. Pinky adalah nama skuter matic ku. Kuberi ia nama karena memang ia adalah sahabatku yang paling setia. Kuajak ia ke tempat pengisian BBM. Ya ampun, kenapa pinky mengajakku kesini? Apakah ia sengaja. Tertatih aku menata hati. Takut salah tingkah. Dia… ya dia orang yang berhasil meluluhlantakkan samudra hatiku ada di sebelah
***
“Okey, sahabat semua. Demikian tadi talkshow special bersama Kotak. Terimakasih atas kebersamaan kamu semua. Always remember, be fresh, keep smiling wherever you are, see you and good bye…” ujarku mengakhiri program acara. Kusalami mereka satu persatu. Lagu terakhir yang diputarkan operator adalah ‘masih cinta” kukatakan pada mereka bahwa aku menyukai lagu ini. Mereka tertawa renyah. Kemudian berlalu untuk segera menghadiri konsernya dari pihak sponsor.
Ponsel ku berbunyi. Sebuah pesan singkat dari temanku, Silo
“enak ya yang bisa ketemu kotak, aku iri”
Kubalas…
‘ngapain iri, kalo aku yang konser baru iri. He7”
Tak lama pula ia jawab
“kalo kamu yang konser, aku gak bakalan nonton”
Aku tertawa. Ya, aku masih bisa tertawa walaupun dengan hati yang baru saja berantakan. Pesan singkat dari Silo adalah sebagian kecil dari hal-hal yang akan bisa membuatku tetap tertawa. Tetap bahagia. Sekotak Cinta yang hancur tadi sempat ku jalin kembali. Kususun dari serpihan-serpihan yang patah. Menjadi sekotak cinta yang baru. Kuberikan pada kotak. Rasa yang wajar antara sang idola dan penggemarnya.
Esok, jika aku masih bisa melihat gemintang bulan sabit ditengah kanvas langit. ‘
No comments:
Post a Comment