Friday, December 04, 2009

Cerpen Catatan tragedi di bulan Juli

Catatan tragedi di bulan Juli

(selaksa sejarah yang terukir dengan darah)

Cerpen         : Meila R

 

Kabut kelabu di bulan ketujuh tak begitu terlihat bersahabat. Aku duduk termangu diberanda. Menerawang jauh kelangit jingga. Kudekap bayiku yang baru seminggu lalu kulahirkan. Dia diam saja. Mungkin ia sedang berceloteh dengan ayahnya di sorga. Apa yang bisa kulakukan selain tertawa. Mentertawakan apa saja yang ingin kutertawakan. Mentertawakan dunia. Mentertawakan diriku sendiri. Tapi aku tertawa dengan versiku sendiri. Tertawa dengan sejuta perih di tengah padang asing yang terlalu gersang. Hati malaikat mana yang bisa membawaku pada kedalaman telaga. Atau merpati mana yang bisa mengepakkan sayap sutranya agar aku bisa terbang. Mencari siapa dalang dibalik semua ini. Mencari apa saja yang bisa kucari di labirin-labirin kehidupan di bumi. Mencari siapa yang saat ini tengah tertawa dengan versi yang berbeda pula. Tertawa dengan kemenangan atas penderitaan ledakan itu. Bisakah mereka mengukir seutas jawaban saja atas apa yang mereka rancang dalam setiap sel pemikiran yang terlalu pintar mendeklamasikan diri sebagai kaum yang berbeda.. Teori saja tak cukup untuk semua ini. Teroris negeri bukan hanya permasalahan hidup dan mati. Tapi juga soal hati. Aku tak pernah perduli mereka yang bunuh diri dengan setiap inci yang berkeping hancur dalam lumpur. Tanah di perut bumi mungkin terlalu suci untuk dibenamkan dengan jasad mereka. Tapi bisakah mereka sebentar saja menyisihkan waktu pergi ke pasar. Bertanya tentang harga susu bayi. Sebandingkah harga yang seharusnya dikeluarkan suamiku dengan tawa versi mereka. Sebandingkah jalan mereka menuju sorga dengan puluhan hati yang harus menggali batas perih. Hingga bening air mata tak lekang oleh hari yang terus saja berlalu. Mungkinkah masih ada waktu yang tersisa sebait saja dibalik bukit putih awan langit. Sedetik saja bayiku bisa melihat ayahnya sebelum meregang nyawa.

***

Kurang lebih memang seminggu yang lalu angin bertiup semilir. Tak ada tanda-tanda badai dari isyarat langit di di lantai pagi. Tapi ternyata badai itu datang dari segenap arah yang tak pernah sama sekali kuduga sebelumnya. Badai datang dari suara benda rakitan manusia yang terlalu pintar. Mengguncangkan segenap penjuru hati, merapuhkan luka dan nyawa, menambah berita sejarah yang terukir dengan darah dari para insan pers beragam media dunia. Inikah sorga yang mereka teriakkan dalam genderang perang yang akan terus ditabuhkan. Lalu dimana? Dimana kuletakkan hati yang baru ingin mekar. Aku tinggal menghitung hari saja menunggu persalinan saat itu. Telah terbingkai wajah suamiku yang mungkin akan menyiratkan rona bahagia saat menggendong anak pertamanya. Beberapa hari sebelumnya ia sempat mengeluh, jiwa tanggung jawabnya yang sebentar lagi menjadi seorang ayah membekaskan kekhawatiran yang memang beralasan. Aku hanya menggoreskan senyum saat ia takut jika esok pekerjaanya yang hanya sebagi seorang lelaki perangkai bunga di sebuah hotel bintang lima tak kan bisa menghidupi bayi kami dengan layak. Tapi aku telah terbiasa dengan semua yang serba hemat. Aku tak pernah bermimpi janji politisi negeri saat kampanye akan terpenuhi. Masih terlalu klise bagi kami untuk berharap harga susu bayi bisa turun. Biarlah janji mereka abadi tergoreskan media kuli tinta. Aku, suamiku dan bayiku bisa melihat senja setiap hari saja sudah lebih dari cukup.

Bukankah mimpiku sangat sederhana? Aku tak pernah senewen menuntut apa-apa. Tak pernah aku berkhayal menuntut reformasi negeri lari dari batas yang tak pernah berbatas, para wakil kami di kursi parlemen yang menuntut jatah laptop atau perbaikan kelayakan rumah dinas. Majikanku yang tewas kecelakaan pesawat membuatku kehilangan pekerjaan sebagai pembantu rumah tangga, aku tak pernah mempermasalahkan alutsista yang terlalu udzur. Aku juga tak pernah bermasalah dengan satupun nama-nama yang tercantum sebagai tersangka berpredikat teroris kelas dunia. Apa salahku? Apa salah bayi ku hingga ia tak dapat ditemani ayahnya jikalau esok disuatu sore anak-anak yang lain ingin diayunkan dengan manja. Aku percaya pada takdir. Tapi setidaknya aku tak ingin melepasnya dengan cara yang begini, menangisi nisannya sembari berpikir jawaban apa yang akan kuberikan pada anakku kelak jika ia bertanya kenapa ayahku pergi. Terlalu miris jika kujawab ayahnya korban tewas ledakan bom. Bukankah itu jawabanb yang tragis?. Wahai teroris, kalian sungguh sadis.

***

Masih membekas aroma hangus yang beku itu. Saat tebujur kaku tubuhnya dihadapanku. Tak ada kosakata yang terlalu baku selain pilu. Nyaris aku tak mengenali jasadnya. Aku seperti tergulung oleh badai itu, membawaku ketempat asing yang sama sekali tak pernah kukenali sebelumnya. Satu-satunya penanda bahwa itu dirinya adalah jasad yang ditemukan pasca ledakan itu tergeletak diantara rangkaian bunga-bunga yang hampir hangus. Mungkin ia sedang merangkai putik-putik bunga pagi itu, hingga semua harus berakhir dengan suara dahsyat dan kepulan asap kelabu. Sekelabu jiwaku yang bergemuruh. Aku tak tahu harus marah pada siapa, bahkan rantingpun hanya bisa diam. Semua bisu ditengah gelegak sesal atas semua kelengahan. Bukan hanya aku yang harus merajut hati yang patah seperti ini, bukan hanya bayiku yang mungkin tak kan bisa mengenali raut wajah ayahnya selain dari kanvas foto, bukan hanya catatan dalam sepenggal episode hidupku saja yang mengukir tragedi bulan Juli, jauh sebelum ini telah banyak pula mili darah yang mengalir sia-sia. Bak zaman penjajahan sebelum bung Karno mendeklamasikan kemerdekaan di tanah yang begitu subur ini. Kita seperti ditindas. Tapi kali ini dengan cara yang sungguh ironis, bagaimana tidak. Ketika burung garuda berteguh hati atas bhineka tunggal ika, sebagian dari kita malah seperti predator ganas yang memangsa sebagian dari yang lain. Predator yang seolah tak mengerti tentang apa itu hidup, apa itu mati. Predator yang setiap jengkal pikiran terlalu cerdas merakit benda mematikan yang bergemuruh suara dahsyat. Hanya dengan hitungan menit, ledakan hebat mampu meluluhlantakkan segalanya. Tapi apakah masih bisa dikatakan cerdas jika kecerdasan itu digunakan untuk menanam kemurkaan, memupuk bibit kenistaan dan menanamnya atas nama yang memang tak terlalu pantas untuk diatasnamakan.

***

Aku melangkah gontai, beranjak dari beranda. Tuhan, aku merindukannya. Bayiku mulai menangis. Mungkin ia juga merindukan ayahnya. Peristiwa itu masih membekas walupun tlah beberapa hari berlalu. Lukanya memang talah kusepuh dalam-dalam. Tapi bisanya membuatku tak mampu melangkah tegar seperti dulu. Aku telah rapuh.

Aku datang lagi kenisannya, menagisi dengan rinai air mata. Bukan hanya untuk meratap dengan sejuta sesal saja. Tapi aku manusia, kadang ditengah tegar ada saja rapuh yang datang. Menghampiri dengan sapaan yang kadang membuatku menagis lagi. Aroma tanah yang basah disiram air langit menguap menjelang senja. Kutabur wangi melati dan rangkaian bunga. Ah, suamiku, dengan rangkaian bunga kita hidup, dan dengan rangkaian bunga pula kita mati. Kelak, jika anak kita mulai bertanya tentang engkau, kan kuceritakan catatan ku di bulan ketujuh ini. Kan kuceritakan padanya dongeng tentang predator yang pernah mati dalam sejarah. Terukir dengan darah.

 

1 comment:

Jatuh Cinta

  Jika ada perasaan yang paling indah di dunia, mungkin salah satunya adalah jatuh cinta. Perasaan ini membuat seseorang tersenyum tanpa ala...