Oktober Kelabu
Cerpen : Meila R
Oktober. Yang ku tahu bulan itu adalah bulan kesepuluh tahun dalam Kalender Gregorian. Kata ini diambil dari Bahasa Belanda yang mengambil dari bahasa Latin; octo yang berarti "delapan" karena dahulu kala tahun bermula pada bulan Maret. Bulan yang memiliki 31 hari bagi sebagian orang adalah biasa, tapi bagi ku lebih dari itu. Gwen Stevany, penyanyi Amerika Serikat yang terlahir di bulan itu mungkin hanya bisa memaknai bulan Oktober sebagai bulan kelahirannya. Bulan dimana ada tiupan lilin dan ‘make a wish’, Bulan dimana kita ‘
Kelabu. Kelabu memang bagian dari warna cintaku. Sebuah kisah yang harus pasrah di tangan malaikat maut. Menyerah kalah pada wangi melati dan nisan yang tertanam menimbun darah. Kalau saja aku bisa tak bertemu dengan bulan Oktober, mungkin aku tak pernah mengingatnya. Sebuah peristiwa tragis yang telah menggali sisi terdalam nuraniku. Dinding hati yang sempat runtuh kini meronta. Memaksa ku menghadapi bulan Oktober ini dengan membuka lapisan memori yang terekam dalam labirin sel otak ku. Walaupun disisiku kini terbaring Ardi yang kian lesu, tapi aku merindukannya. Seseorang yang pernah datang dalam rangkaian hidupku lalu. Kemudian pergi meninggalkan sisa cinta yang mampu ku kais kembali. Tuhan, adakah dia bersamamu saat ini?
Oktober tahun lalu seharusnya menjadi hari yang paling membahagiakan bagiku. Aku dan Surya tengah akan merenda mimpi dalam putik-putik cinta. Kami adalah insanNya yang baru ingin mereguk manis madu hati yang merah muda karena merona. Ikatan suci itu tengah kami rajut perlahan, menyusun satu persatu harapan akan indahnya pelaminan. Sembari menebak-nebak dengan lucu apa saja yang akan terjadi pada malam pertama dengan sakralnya selaput dara. Kami mungkin bagian dari kisah klise yang pernah tergores di langit yang jingga. Kisah yang terlalu rawan dengan perpisahan. Hei, bukankah pada setiap pertemuan itu ‘
Surya sempat menelfonku, “beibh, aku lagi OTW ke rumah kamu nih, bentar lagi aku jemput ya” ujarnya di seberang telfon. Kami memang menyediakan hari itu untuk membeli sepasang cincin. Telah kubayangkan rona kebingunganku jika nanti memilih deretan lingkar jari di tengah deretan yang lain. Surya mungkin akan memilihkan beberapa alternatif untuk ku pertimbangkan. Tapi semua itu tak terjadi. Something happened. Tak ‘kan ada cincin. Tak kan ada pernikahan. Hampir dua jam kutunggu hadirnya namun tak juga muncul. Tak juga ku dengar ketukan pintu mengucapkan salam sembari memanggil namaku “beibh, yuk berangkat”. Bak ilusi.
Ku hubungi ponselnya membunyikan tanda diluar jangkauan. Darah berdesir dari ubun-ubunku. Firasat yang agak lain. Ku coba alihkan pikiran dengan menunggunya sembari membaca-baca majalah yang sempat kubeli beberapa hari lalu. Ku bolak-balik halaman per halaman. Mencari inspirasi di tengah belantara kata penuh imajinasi. Atau sekedar mencoba menghibur diri dengan trend fashion terbaru. Walau memang harus kuakui. Cukup sulit untuk berkonsentrasi. Aku tak ingin berpikir tidak-tidak. Mencoba untuk sedikit positive thinking. Dentang jam berlari dalam rongrongan waktu. Malam telah larut. Cemas dihatiku mulai terbit. Hingga bulan sabit menjadi saksi dengan kilaunya tentang aku yang masih terjaga di malam buta.
Dan kemudian adalah suara ponselku yang berbunyi lagi. Meraung dengan nada cinta dan melodi wakilan suara hati. “Ada apa sepupu Surya menelfonku malam-malam begini?” ujarku membatin. Sang penelfon tanpa ba bi bu lagi langsung berkata bak gelegar petir di tengah gemuruh hujan “Ris, Surya kecelakaan”. Ya, benar-benar gelegar petir ditengah hujan, bahkan bukan hanya hujan yang mengguyur, tapi juga ada badai dihatiku. Siap untuk menggulungku ke sebuah negeri kering kerontang. Sarat kedukaan. Siapkah aku?
Gontai aku melangkahkan kaki menyusuri koridor rumah sakit. Mencari-cari letak kamar yang telah disebutkan sepupu Surya. Setelah kudapatkan nomor kamarnya, ku buka daun pintu perlahan. Disana, ya disana belahan jiwaku tengah berbaring. Masih belum terjaga dengan nafas yang satu satu. Lega. Ketika itu dia memang masih bernyawa. Sepucuk mimpi yang berantakan sempat ingin ku susun kembali. Tapi ketika kulihat lebih jauh lagi kearah tubuhnya, sungguh aku tak tahu dimana bisa kuletakkan hati. Surya kini hanya memiliki satu bagian tubuh yang biasanya bisa membuatnya berlari sekuat tenaga, berlari mengejar bintang semaunya. Ia harus menjalani amputasi ketika kecelakaan itu menimpanya. Mungkin di tengah alam bawah sadarnya belum menerima sepenuhnya, ada realita yang akan didapatnya ketika sadar nanti. Hidup dengan satu kaki.
Sang waktu kian berlalu. Datang sembunyikan pesan, pergi tinggalkan kenangan. Saat Surya tengah sadar dari koma sekian lama ia malah tak bersedia untuk kutemui. Ia menolak semua panggilan telfonku. Ia menolak dengan kasar ketika aku menjenguknya. Surya, bagaimana bisa cintamu begitu tipis. Aku telah menyiapkan sejuta jiwa untuk berbesar hati menerimamu dengan satu kaki. Telah kutanam dalam-dalam cinta yang sarat dengan penampilan fisik saja. Bukankah kau yang mengajarkanku untuk saling mencintai kekurangan kita. Kau bilang cinta itu bukan sekedar memiliki. Tapi saling mengisi. Mengisi kekosongan jiwa yang penuh dengan kekurangan. Aku siap untuk menjadi kaki keduamu. Tapi bahkan kau pun terlalu rapuh. Setiap hari yang kudengar dari sepupumu kau selalu saja menerawang ke angkasa, menatap ke langit jingga dan terpaku di kursi roda. Adakah kau teringat disana. Langit jingga itu adalah saksi. Tentang kau yang pernah menguatkan aku, tapi justru tak sanggup menguatkan hatimu sendiri.
“mungkin Surya butuh waktu, Ris” ujar Dina sahabatku pada suatu sore di coffe shop. Lagi-lagi aku berpositive thinking. Masih ada harapan bertunas di bagian terdasar hati. Gegap gempita rindu pada Surya ku yang dulu nyaris menyisakan ruang hampa udara. Aku butuh sebuah hati yang bisa kupinjam untuk menenangkan gemuruh ini. Dan di coffe shop itulah aku mengenal Ardi. Teman Dina yang bersedia kupinjam hatinya. “just for fun, guys” bisik Dina padaku saat mengenalkan Ardi. “it’s ok” jawabku.
***
Lebih tepatnya pada Sabtu pertama. Fajar Oktober tahun lalu yang baru saja datang ketika kabar itu ku dengar. Lengkap sudah semua. Hancur berkeping segalanya. Surya menggores nadinya menjadi darah. Bunuh diri. Kusadari, betapa kerdilnya jiwa lelaki yang pernah ku cintai itu. Aku marah pada setiap air mata yang ku tumpahkan. Ketika dalam keadaan terombang-ambing itu Ardi datang menawarkan sesuatu, dia disisiku, mencoba menenangkan. Sedikit memberi damai pada getirnya kisahku. Bak sebuah pelabuhan baru. Mungkin itulah yang dinamakan episode. Ada suka, ada pula duka. Mahakarya sang pencipta yang tak mengenal kata diskriminasi ataupun pilah-pilih dalam bertoleransi hati.
Aku dan Ardi mendatangi pemakamannya. Menabur aroma wangi bunga melati, liat tanah yang masih basah menyeruak berpadu menghiasi senja. Ada matahari yang hampir saja tenggelam dimakan langit. Adakah kau melihatku saat ini hai Surya, kau seperti matahari itu. tenggelam ketika langit telah mampu merapuhkanmu. Dan jangan tanya lagi tentang kesetiaanku. Aku pun telah lupa kapan terakhir kau lemparkan cerita-cerita tentang mimpi kita.
***
Kini, Oktober itu datang lagi. Telah kusemai dalam-dalam kisah yang membuatku terdampar. Aku telah benar-benar karam. Perahuku terombang-ambing oleh badai. Seharian aku menekuri sisi ranjang Rumah Sakit ini. Ardi terbaring disana. Aku kalut. Sungguh sangat takut. Pikirku melayang-layang pada Oktober lalu. Bulan dimana Surya tenggelam dan membuat segalanya menjadi pekat. Tapi juga bulan dimana Ardi datang melalui Dina. Menyusup diam-diam bagai teroris yang membom seluruh hati yang berantakan. Tak mudah bagiku ketika itu membagi hati yang baru saja ditinggal pergi. Tapi toh waktu yang membawaku pada semua ini. Ala bisa karena biasa. Ada cinta karena ada yang tiada.
Ardi terbaring disini bukan karena kecelakaan, kakinya tidak harus diamputasi, ia juga tak menolak untuk kubesuk setiap hari. Justru geliat manjanya sebagai kekasihku makin menjadi ketika sakit. Aku seringkali kesal barcampur kasihan padanya. Kebiasaanya yang melampaui batas dalam mengkonsumsi rokok menjadi alasan terbesar mengapa ia terbaring disini. Hati wanita mana yang tidak meringis waktu mendengar paru-paru kekasihnya telah kropos di usia yang masih sangat muda. “Kanker paru-paru mengambil porsi 90 persen dalam 24 persen penyakit penyebab kematian pria, disamping kanker prostat dan kanker kolorektal. Hal ini disebabkan pasien terlalu banyak merokok atau mengkonsumsi produk tembakau lainnya” ujar dokter padaku suatu ketika aku menanyakan penyakit yang diidap Ardi. Oh my God, tak pernah kubayangkan kondisinya seperti itu. Penyakit yang mengambil sekian persen menyebabkan kematian tengah bersarang ditubuhnya. Jauh di dinding nuraniku memberontak. Haruskah ini terjadi padaku lagi. Ditinggal pergi. Aku tak ingin lagi menabur melati pada pusara orang yang kusayangi. Memang benar bahwasanya filosofi tak ada yang abadi. Tapi bukankah waktu sangat kejam jika membiarkan kabahagiaan itu terlalu sejenak menghampiri nyanyian hidupku. Wahai malaikat maut, ku mohon dengarlah aku. Jangan dulu kau nyanyikan melodi kematianMu pada Ardi.
Semenjak penjelasan dari dokter yang mengurusi Ardi, setiap malam aku kian terjaga. Kalaupun sejenak terlelap aku selalu dihantui mimpi buruk. Nyaris seperti nyata. Halusinasi membawaku untuk bersiap hati melepas Ardi. Berpijak pada realita bahwasanya kondisi Ardi kian hari kian memburuk. Dalam mimpiku, Ardi bercahaya putih melambaikan tangannya, mengajakku untuk ikut dengannya menuju suatu cahaya yang berkilau-kilau. Tapi entah mengapa didalam mimpi itu aku tak mau mengikuti cahaya yang ditunjuk Ardi. Aku menepis tangan Ardi. Raut wajahnya mengisyaratkan kekecewaan. ”Ardi, maafkan aku, aku tak bisa ikut bersamamu”ujarku. (mungkin aku bermimpi sambil mengigau). Ardi tak berkata, diam berjuta bahasa.
“Ris.. Ris, kamu masih disini?..” eits, ada sebuah suara dari dunia nyata. Membuatku terjaga. Ardi yang di sisiku baru pula terjaga. Kubalas ucapannya dengan senyum saja. Untung semua itu hanya mimpi. Ardi kemudian menyuruhku pulang pagi ini ketimbang menungguinya di Rumah Sakit berlama-lama. Ada benarnya, pagi ini aku memang harus beraktivitas kembali setelah membolos dari kantor sekian lama mengurusi Ardi. Tapi berat. Sungguh berat rasannya pagi ini beranjak meninggalkan Ardi. Entah kenapa, aku rasanya tak ingin meninggalkannya walau alpa sedetik waktupun. Tapi Ardi terus saja memaksaku pulang. Tak ada pilihan. Aku harus pulang. Aku memang selalu kalah jika adu argumen dengannya. Sejuta alasan ia ketengahkan yang pada dasarnya menarik premis aku harus pulang. Aku pun mengiyakan setelah berjanji akan kembali lagi ke Rumah Sakit sore nanti. Kubisikkan barisan kata padanya sewaktu pamitan “ dear, I cant life without you…”. Ardi menatapku lirih, “my beloved dearest, I know that. But life must go on. With or without me. Ala bisa karena biasa. Ada cinta karena ada yang tiada” jawabnya dengan gurauan tawa.
Di jalan pulang, pikirku melayang-layang pada Ardi. Ya Tuhan, sebuah isyaratkah yang Kau tunjukkan padaku tadi. Masih terngiang jawabannya tadi, saat ku utarakan bahwasanya aku tak ‘kan mungkin bisa hidup tanpanya. “with or without me”. Apa maksud kata itu pada ku. Dengan atau tanpanya tidaklah sama. Darahku kembali berdesir. Hari ini kusadari adalah Sabtu pertama di bulan Oktober. Aku seperti mengalami déjà vu. Seolah pernah merasakan ini sebelumnya. Apa makna semua ini. Apa makna mimpi-mimpiku tadi malam, apa makna ucapannya. Adakah ini suatu pertanda. Aku menimbang-nimbang sesuatu. Aku tidak boleh beranjak sedikitpun darinya. Aku tak ingin alpa di hari-hari terakhir hidupnya. Kanker paru-paru itu pasti akan merampas cintaku. Telah kubaca beberapa sumber tentang penyakit itu. Kematian. Yah, kematian. Aku seolah mempersiapkan diri menghadapi kata itu untuk Ardi. Mungkin memang terlalu naif. Tapi toh dalam nyata tak ada yang abadi. Dalam hati pasti aku akan menangis lagi. Tapi tak banyak yang bisa kulakukan selain ada didekatnya. Memberi kekuatan dan dorongan di saat dimana ia akan tertidur pulas. Selamanya. Aku berbalik lagi, kembali ke Rumah Sakit tempat dimana Ardi dirawat. Kubatalkan niatku pergi ke kantor. Sore nanti adalah waktu yang terlalu konyol untuk kembali kesana. Aku tak ingin melewatkan saat dimana ia membutuhkan aku. Saat dimana tubuhnya akan kaku setelah darah berhenti terpompa dari jantungnya. Surya, adakah kau menyimpan dendam padaku? Belum kering liat tanah pemakamanmu ketika Ardi telah datang padaku. Hingga kau pun mungkin sebentar lagi akan mengajak Ardi menjadi temanmu di alam sana. Ambil saja semuanya. I’ll survive. Mungkin memang belum waktunya ada cincin, belum waktunya ada pernikahan.
Suasana masih pagi. Semburat malu-malu menampakkan seberkas kilaunya. Langit berwarna vanila membingkai lantai udara. Ada deru kendaraan yang mulai hilir mudik kesana kemari. Pertanda aktivitas manusia penghuni bumi biasanya akan dimulai. Tapi deru didalam hati ku ternyata lebuh gamang. Tak kudengar lagi suara klakson ataupun deru nyata. Aku berjalan termenung. Terpaku menyibukkan diri dengan deru yang menggebu dihatiku. Aku akan kehilangan Ardi. Aku akan kehilangannya.
“Tidaaaaaak” aku berteriak sekuat tenaga saat menoleh ke arah kanan. Tak kurasa bahwasanya aku berada di badan jalan saat akan menyebrang. Tak kuperhatikan ada truk pengangkut barang yang siap menghantamku. Dan peristiwa itu pun terjadi begitu cepat. Aku terbius dalam kawah cakrawala sebuah dunia. Awalnya aku merasakan sakit yang luar biasa meremukkan sendi. Tubuhku terasa patah. Bukan hanya patah, tapi pada beberapa bagian kurasakan remuk menggilas nadiku. Tapi untuk kemudian aku tak merasakan apa-apa lagi. Hambar. Samar. Sayup-sayup masih kudengar teriakan orang-orang, “kecelakaan, kecelakaan”.
Ruh ku terbangun. Tubuhku terasa amat ringan melayang-layang. Kulihat jasadku kaku. Ada darah bercampur debu. Orang-orang membawaku ke Rumah Sakit terdekat. Ya, Rumah Sakit tempat dimana Ardi dirawat disana. Aku ingin berteriak lagi sekuat tenaga yang tersisa. Namun tak bersuara. Ingin ku meraung namun tak bergema. Udara terasa kosong. Ardi masih tertidur pulas dengan infusnya saat orang-orang mulai menutupi tubuhku dengan kafan putih. Selanjutnya ada cahaya putih datang menjemputku. Menuntunku ke sebuah tempat yang terasa gelap. Pekat. Tapi begitu luas terbentang. Tak ada siapa-siapa disana. Hanya ada guratan dosa yang mulai terbuka sepanjang hidupku. Satu persatu, perhitungan tentang dosa mungkin akan segera dimulai.
***
Hujan menyisakan pelangi. Badai menyisakan genangan. Ada malaikat pencabut nyawa dengan sayapnya mencari mangsa. Ada malaikat cinta dengan ceritanya mengukir romansa. Adakalanya kita mencintai, adakala pula kita dicintai. Ada kala kita membagi, adakala terbagi. Ada pula waktunya datang. Dan ‘kan ada pula waktunya pergi. Belum genap empat puluh hari. Ardi datang mengunjungi pusara tempat peristirahatku. Dia terlihat lebih sehat dibandingkan waktu terakhir aku melihatnya di pembaringan Rumah Sakit. Kukira kedatangannya karena ia belum bisa menerima kepergianku. Atau at least, ia merindukanku. Tapi tidak. Ia berbicara pada nisan bisu abu-abu lusuh yang tergores namaku. Meminta doa ‘tuk menikahi wanita yang dari tadi berdiri disampingnya. Tak asing wajah wanita itu dalam ingatanku. Dia Dina, sahabatku.
Ala bisa karena biasa. Ada cinta karena ada yang tiada.***
No comments:
Post a Comment