Thursday, December 03, 2009

cerpen

Surya di bulan Mei

(Sebuah kado untuk pendidikan di Indonesia)

Cerpen : Meila R

Langit jingga di bulan Mei begitu teduh. Awan yang menggumpal memancarkan bias hangat merasuk. Surya mungkin memang bukan hanya cerita tentang hingar bingar dalam hikayat dongeng saja. Ia nyata membakar peluh ku. Bak monster tanpa tawa ranum sedikitpun. Jangan tanya soal energi yang terkuras. Habis sudah rasanya batas lelah tergali. Aku seperti seorang lelaki patah arah. Telah begitu rapuhkah aku melihat Surya di bulan Mei ini. Aku terlalu takut pada berkas cahayanya. Aku mati rasa. Hampa raga. Segalanya. Entah hati dewa yang mana yang bisa membawa damai atasnya.

Masih membekas aroma darah beku yang sempat ku hirup pada raga tak bernyawa itu. Entah ke sorga mana dia kini berada. Melayang jauh mengikuti sayap malaikat maut. Mungkin ia sedang dituntun membuka guratan episode hidup yang pernah ia ukir. Cinta,cita dan dosa adalah bagiannya. Itu pasti. Tuhan tak kan pernah luput sedikitpun memonitor jalan hidupnya. Ada begitu banyak cerita yang tersimpan. Dan aku seperti orang gila yang marah terhadap jasadnya. Dia diam saja. Aku masih tak percaya. Bertanya tentang rahasia yang terskenario sedemikian rupa sehingga sulit bagi ku menguaknya. Kematiannya.

Harum melati ku tabur pada pusara yang mulai mengering. Surya di bulan Mei membakar tanah dan menguapkan basah. Dua bulan lalu memang adalah hari-hari berlapis kepingan baja. Begitu sulit untuk memikulnya pada pundakku. Tuhan, kau dimana? Adakah dia bersamamu saat ini? Melihat namanya di nisan itu membuat hati tak tahu lagi harus ku tempatkan dimana.

Dia adikku. Setelah bertahun terpisah karena studinya di negara lain. Aku malah harus menjemputnya dalam tragedi. Memapah tubuh kaku itu pulang ke Indonesia bersama cerita yang sepenuhnya sulit ku terjemahkan sendiri. Bahkan bunda yang telah tujuh tahun menelan pil pahit sebagai single parent pun tak sanggup mengeja peristiwa yang terjadi tanpa konfirmasi ini. Jiwa bunda mungkin tak seharusnya rapuh. Tapi ibu mana yang tak perih melihat darah daging nya menyambut maut. Setidaknya hanya itu alasan yang membuat ku menerima saja ketika dokter bilang jiwa bunda terganggu. Belum sempat hatiku tenang diguncang badai. Badai baru kembali datang. Sejuta kekuatan kurepih satu persatu. Tak lama setelah mengantar adikku ke liang terakhir. Aku mengantar bunda ke Rumah Sakit Jiwa. Aku berenang sendirian pada kedalaman kubang air mata yang kujatuhkan pada dinding dalam dasar rawa hati. Ketika hampir saja tenggelam terseret arusnya, Sesuatu kusadari bahwa ada retorika yang harus ku perjuangkan. Kematiannya.

Tepatnya bulan Mei tahun lalu ia pergi meninggalkan Indonesia untuk melanjutkan studinya bidang teknologi di salah satu Universitas di Tokyo,Jepang. Sebagai seorang kakak aku bangga padanya bisa mejadi salah satu penerima beasiswa di negara yang berhias Gunung Fuji, bunga Sakura dan shinkansen sebagai simbol Negara. Bulan-bulan pertama ia bercerita tentang musim yang masih terlalu asing di kulitnya, tentang jalur kereta super ekspress Shinkansen yang ada gerbong khusus wanita, juga tentang Kainobori, sebuah festifal yang dikhususkan bagi keluarga disana yang mempunyai anak laki-laki dan mengibarkan bendera berbentuk ikan karper diluar rumah, juga memajang seperangkat boneka samurai dengan baju ziarah dan pedang di dalam rumah sebagai lambang kekuatan. Adikku bilang Kainobori hanya dilakukan setiap tanggal 5 Mei saja. Ya, bulan Mei lalu rasanya baru kemarin ketika aku mengantarnya ke bandara. Aku dan bunda mendengarnya berceloteh panjang seputar mimpinya yang ingin mengaplikasikan konsep teknologi canggih di Indonesia sepulang dari studinya di Jepang.

Ah, adikku, begitu banyak ceritamu tentang pendidikan disana. Seringkali aku masih merasa kau ada disana. Mengirimkan ceritamu lewat e-mail dan aku akan menceritakannya pada bunda. Sekarang, ceritakan aku satu hal saja. Kematianmu.

Mereka bilang kau bunuh diri dari lantai lima gedung megah kampus itu. Tapi bukti berkata lain adikku. Adalah Hanami* yang mengiringi langkah kaki ku menjemput jenazahmu di Jepang. Banyak hal terasa ganjal. Tentang cerita terkhirmu seputar teknologi dunia pendidikan yang baru saja kau ciptakan lahir dari tiap sel di otakmu. Akan kau banggakan di Indonesia sebagai temuan perdanamu yang langka di negeri sana. Tapi adikku, kenapa malah profesor di kampusmu baru-baru ini meluncurkan temuan teknologi pendidikannya. Jepang sebagai negara industri semakin maju pesat adikku. Dan kau di sorga pasti sangat ingin Indonesia tanah tumpah darah ini menjadi seperti itu. Bukan hanya kau saja adikku. Aku disini turut berdoa untuk Indonesia sembari doaku untuk mu. Walaupun di negeri yang kupijak ini tak kudapati pembelaan atas kematianmu, desakanku pada pemerintah untuk mengungkap kasusmu bak suara parau di tengah gemuruh. Seperti suara parau anak jalanan bernyanyi mengais receh pada bias lampu merah. Mereka menunggu akses kemudahan pendidikan adikku. Kalau saja kau ada, mungkin kau juga akan turun kejalan meneriakkan layaknya mahasiswa lain menolak UU BHP dengan sejuta wacana baru rancangan pasal-pasalnya.

Surya di bulan Mei masih terbit di sini, adikku. Bunda bilang kau disana sedang bercengkrama dengan Ki Hajar Dewantara. Berdiskusi tentang kado yang akan kalian berikan pada pendidikan di Indonesia..

*Hanami (Pesta menikmati Sakura) biasanya dilakukan pada akhir Maret/awal April. Waktu bunga Sakura bermekaran di pohonnya berbeda-beda dari satu daerah ke daerah lainnya, di mulai dari daerah paling selatan. Dengan demikian pesta memandang dan menikmati Sakura juga berlainan waktunya. Banyak rombongan berpiknik di bawah pohon.

No comments:

Post a Comment

Jatuh Cinta

  Jika ada perasaan yang paling indah di dunia, mungkin salah satunya adalah jatuh cinta. Perasaan ini membuat seseorang tersenyum tanpa ala...