Monday, July 28, 2025

Thoughts while being sick..

A few weeks ago, I served as an evaluation team member for 20 village libraries in Sarolangun. I was paid decently for this work. Now I’m thinking about which tablet or iPad would be a suitable way to stash (or invest) that honorarium, hehe

Saya pernah memukul tangan saya ke tembok sewaktu sakit. Waktu itu saya masih usia sekolah. Saya merasa kesal karena sakit membuat saya tak produktif. Saya jadi tak bisa belajar. Bahkan sewaktu sedang diinfus pun semasa sakit saat sedang kuliah, saya tetap membawa buku-buku saya ke rumah sakit. Rasanya sayang waktu terbuang untuk menatap termenung dan tidur berkali-kali. 

Tapi hari ini, saya sakit. Saya semakin pintar. Orang pintar tugasnya bukan hanya belajar tapi juga menyayangi dirinya sendiri. Saya memilih izin kerja, istirahat dan hanya melamun seharian. Sore hari semakin gabut akhirnya membuka laptop dan menuliskan ini. Sebenarnya masih sedikit pusing. Tapi isi kepala saya mau pecah rasanya. Makna pusing secara konotatif dan denotatif bercampur menjadi satu, jadi saya harus mengurangi keduanya. Sakit kepala konotatif dengan menulis, dan denotatif dengan obat. 

Beberapa teman bilang saya workaholic. Sebutan untuk orang-orang yang suka kerja. Mereka sebenarnya salah. Saya hanya bekerja untuk bertahan hidup. Saya sukanya belajar. Belajar apa saja setiap hari. Tanpa harus ditanya apa manfaat dan asesmennya. Namanya juga hobi. Mau hobi yang gak manfaatpun akan tetap melepaskan hormon bahagia saat kita melakukannya. Ya kan?

Dulu, semasa sekolah saya bekerja apa saja. Iya pekerjaan kasar sampai dorong gerobak juga pernah saya lakukan. Saya jualan tissue dan aqua sewaktu konser/acara besar di kota. Menawarkan dagangan di bawah terik matahari atau dinginnya malam. Bukan hanya itu, saya juga beberapa kali menjadi pembantu rumah tangga, menhandle setrikaan dan cucian dari pintu ke pintu. Zaman dulu belum familiar tempat laundry. Jadi masih banyak yang memperkerjakan tenaga manusia. Lahan cuan bagi kami pejuang mimpi. Saya juga pernah menjadi penjaga counter handphone dan cleaning service di mall. Lalu saat hidup lebih baik dengan menjadi penyiar radio dan penulis media saat kuliah. Sekarang, walau hidup sudah lebih baik, saya kerap melakukan pekerjaan rumah sendiri. Saya bangun pukul empat pagi untuk memasak sambil menggiling cucian di mesin cuci. Memang kalau hal masak saya agak kurang jago. Tapi kalau soal tumis-tumisan atau goreng dikit-dikit bisalah. Kalau weekend biasanya gantian seterika baju bareng suami. Kadang diselang-seling membersihkan rak buku. Jadi rasanya hari ini kurang produktif karena saya tidak melakukan apa-apa dan hanya istirahat. Tapi istirahat itu juga sama pentingnya dengan berkarya. Sekarang hidup jauh lebih baik. Kalau sedang tak produktif, uang akan tetap ada. Alhamdulillah. Saya tak perlu mengkhawatirkan masa depan terlalu berlebihan seperti dulu. Paling ya itu, ada rasa empty karena tak melakukan apa-apa. Semua makanan terpaksa beli hari ini. Gakpapalah sesekali ya :)

Kadang suka heran sama yang bilang ke saya, "Tangan kayak gitu mana pernah kerjain pekerjaan rumah.." Tapi ada senengnya sih dibilang kayak gitu. Saya yang kadang insecure dengan bentuk bibir yang memble ternyata punya kelebihan dikit terlahir dengan warna kulit agak terang. Agak agak putih lah ya untuk ukuran wong jowo tulen kayak saya. Jadi tidak terekam pernah jadi orang susah di kulit ini. Mereka mungkin mengira saya terlahir kaya jadi tak pernah bekerja kasar. Atau mungkin mereka juga mengira bahwa saat sudah menjadi istri dan ibu seperti sekarang, cucian di rumah bisa bersih sendiri, lantai bisa berkilau sendiri, dan debu bisa menghilang sendiri tanpa dikerjakan. Wah keren. 

Maaf ya tulisan kali ini agak ngalor ngidul. Tadi malam demam tinggi sampai mengigau dua kali. Salam sehat semuanyaaa :)

NB: Sambil menulis ini saya mendengarkan podcast Pram. Ada kutipa menarik yang juga ingin saya tulis di sini >> Kalau mau pintar harus tahu diri. Apalagi untuk kita yang terlahir miskin. Banyaklah membaca. Hidup ini tidak menyenangkan untuk orang miskin kayak saya dulu. 

Ohya, kurang lengkap rasanya tak melampirkan dokumentasi hidup di blog ini. This blog is already exist since i was single and it is so much fun when remembering those past moments through writing and images, they come alive here!

beberapa waktu lalu hari anak nasional, kita beliin ini untuk anak-anak. ini untuk kakak :)

ini untuk adek, kebetulan abis nyetak foto anak2. hari gini siapa yang masih rajin dan rutin nyetak foto ke studio dan buat album keluarga?? sayaaaa...

kenyang makan mie ayam buatan sobat gokil siapa lagi kalau bukan sist Lintang Siwi Gunawan. doi temen yang awet sejak kuliah sampe sekarang masih temenan no drama drama

pak iing pulang joging gak tahu metik bunga darimana

zoom pendampingan dan persiapan keberangkatan exchange

adek dan temen-temennya di sekolah

cu amattt bocil udah SD

officemate yang semangat 45 mau senam


nemu foto bareng si kakak waktu liburan ke Bandung euy

si adek sekarang lagi suka warna biruuu, kakak mah apa aja skrg

ngezoom sambil makan roti bakar buatan kakak

foto dulu abis nyerahin laporan nilai-nilai mahasiswa pejuang Pink Ranger semuanyaa

day 1 adek jadi anak esde :)




simulasi riset dulu sebelum riset beneran di Korsel


gak pernah ngebayangin bakal punya passport biru, kemaren punya passport hijau waktu berangkat umroh aja rasa masih gak nyangka. Ya Allah terimakasih :)

nyicil dokumen keberangkatan satu2. ini izin keberangkatan dari kementerian luar negeri

happy faces both of you

my workmates, again 

mengisi sore dengan nongrong bahas buku

belajar sambil ngupas bawang dan labu agar waktu masak semakin sat set



Rest is medicine. Sometimes the bravest thing you can do is allow your body to pause and heal. Well, see you guys, byeee!!

No comments:

Post a Comment

Jatuh Cinta

  Jika ada perasaan yang paling indah di dunia, mungkin salah satunya adalah jatuh cinta. Perasaan ini membuat seseorang tersenyum tanpa ala...