Friday, September 03, 2010

NAPAK TILAS MASA KAMPUSKU









Sebuah cerita di sebuah masa


Aku mengawali perkuliahan sebagai mahasiswa baru di Universitas Jambi atas kemauanku sendiri tahun 2006. Yah, walopun sempat beda pendapat dengan orang tua yang menyuruhku untuk memasuki program studi bahasa Inggris. Aku justru memilih masuk di prodi bahasa Indonesia. Bukan! bukan karena aku tak menyukai bahasa Inggris. Aku sangat menyukai bahasa Asing seperti Inggris, Jerman dan Mandarin. Tapi aku benar-benar ingin mendalami bahasa Indonesia, khususnya disiplin ilmu pragmatik. Pragmatik juga yang menjadi kajian pada skripsiku. Ah, tahukah kalian bahwa skripsiku ketika sidang tak diakui sebagai skripsi. Berkali-kali dewan penguji dan pembimbing menyebutnya sebagai tesis. Senang? Ya pasti. Karena aku mengerjakannya dengan sangat hati-hati. Bukan asal-asalan. Penuh dengan perjuangan dan semangat yang naik turun.


Organisasi kemahasiswaan


Aku ingin bercerita di salah satu masa-masa menjalani kuliah, kawan. Dulu, suatu ketika seorang dosen memanggilku saat perkuliahan selesai. Saat ku temui, beliau bertanya, “Meila, kamu ikut organisasi apa?”, “Tidak pak!” jawabku. Menit selanjutnya beliau berceramah bahwa ide dan gagasanku semasa kuliah terdengar briliant dan harus disumbangkan ke organisasi kampus. Wew, siapa yang tidak senang jika dipuji. Maka aku pun meluruhkan keinginanku untuk study oriented. Bak gayung bersambut, esoknya temanku, Syahrial menawarkanku agar menyalonkan diri menjadi ketua HMJ PBS (Himpunan Mahasiswa Jurusan Bahasa dan Seni). Siapa yang tidak mau! Maka sebagai kandidat yang baik, aku mengikuti prosedurnya dan bersaing dengan dua calon lain. Aku kalah suara! Kemudian aku hanya terpilih menjadi wakil ketua HMJ dan ketuanya adalah Theo. Tidak apa-apa bagiku. Toh, dalam hidup ada kalah maupun menang. Menjadi wakil sudah merupakan jabatan yang tidak terlalu buruk. HMJ juga yang membawaku pada organisasi ILMIBSI dan mengikuti kongres di Padang. Menyenangkan ketika aku bertemu para aktivis dari berbagai penjuru Indonesia dan merasa sebagai orang yang sangaaaat bodoh dibandingkan mereka.

Tidak puas di HMJ, aku kemudian mengikuti test menjadi anggota BEM. Lulus dan kemudian ditempatkan sebagai kepala divisi litbang. Selain itu aku juga aktiv di organisasi HIMABINDO. Banyak yang mengatakan kuliahku akan terganggu jika terlalu banyak mengikuti organisasi. Aku hanya mengatakan, “nggak tuh!”. Aku mengerjakan tugas kuliahku dengan baik, bahkan lebih dari itu, aku tak pernah membiarkan semua perkuliahan berjalan biasa. Aku ingin lebih dari yang biasa. Angka A plus pujian! Bahkan aku ingin semakin membuktikan bahwa mahasiswa aktiv memiliki banyak keuntungan ketimbang hanya datang, duduk, diam dan pulang. Namaku banyak diikutsertakan dalam kepanitiaan kegiatan kampus mulai dari ospek dan kegiatan hari besar lain. Bahagianya mempunyai banyak teman dan relasi. Aku tak pernah puas! Maka itu aku kemudian melebarkan sayap membangun jaringan pada dunia luar kampus. Kerja paruh waktu!


Kerja, kerja dan kerja


Jangan kira mudah meniti karirku sampai seperti sekarang. Aku mengawali di semester pertama dengan menjadi penjaga cuonter HP dengan upah yang sangaaaat pas-pasan. Tapi aku bersyukur dengan semua itu. Kemudian aku mulai beralih ke pekerjaan lainnya. Kalian pernah lihat karyawan mall mengepel dan mengipas lantai agar cepat kering ketika kalian berbelanja ke mall? Jika pernah seperti itulah pekerjaanku setelah berhenti menjadi penjaga counter. Selain mengepel, menyapu, dan mengipas lantai, aku juga bertanggung jawab menyusun aneka barang di rak pajangan salah satu mall besar yang ada di Jambi. Makanya aku berpesan pada kalian jangan pernah menginjak lantai mall yang baru saja dipel. Karena mengepel lantai itu sangat sulit dan menyebalkan jika ada pengunjung yang dengan seenaknya mengotori lantai itu. Aku bekerja paruh waktu dari jam empat sore sampai sepuluh malah sebagai karyawan mall. Malu? Tidak! Aku menyukai pekerjaanku ketika itu, juga menikmati sindiran teman-teman tentang keberanianku. Jika boleh jujur, orang tuaku memberiku uang cukup untuk jajan kuliahku tanpa harus bekerja sebagai ‘tukang bersih-bersih mall’. Lalu kenapa aku mau. Jawabnya adalah aku ingin mengawali semuanya dari bawah. Sebelumnya, aku bahkan juga pernah menjadi tukang cuci & setrika loh ;P

Ketika SMA, aku dikenal pendiam. Tapi entah kenapa bangku kuliah membuatku begitu bawel dan cerewet. Rasanya tak lega kalo satu mata kuliah kulewati tanpa berpendapat. Sifat banyak omong itu yang menumbuhkan keinganku menjadi seorang penyiar radio. Tidak mudah kawan! Aku berkali-kali ditolak stasiun radio lokal karena tidak bias melafalkan ‘R’ dengan baik. Ya, aku memang seorang cadel. Tapi aku tidak menyerah. Tiwi T2 yang cadel saja bisa jadi penyayi koook! Aku terus bangkit dan berusaha menjadi seorang penyiar. Doaku kemudian terjawab dengan diterimanya aku pada semester pertengahan menjadi announcer di radio El-John FM Jambi. Terlebih dengan format yang dominan berbahasa Mandarin menambah kecintaanku pada bahasa Asing.

Belum, aku belum merasa puas dengan itu semua. Bakat menulis yang sempat mati suri kemudian terasah lagi. Mimpi-mimpiku yang lain aalah menjadi seorang penulis. Maka aku memulainya dengan menjuarai sayembara penulisn cerpen. Selanjutnya, aku mulai keranjingan menulis. Awalnya, tulisanku hanya berupa fiksi yang kemudian diterbitkan di beberapa harian lokal Jambi. Tapi kemudian, kesempatan membawaku menjadi seorang redaktur rubrik anak muda Xpresi Jambi Ekspres. Ya, jika kalian berpikir bahwa sambil kuliah, aku bisa siaran, menulis dan juga berorganisasi itu mustahil. Maka tidak bagi seorang ranger. Aku rakus akan semua aktivitas yang padat. Semua membawaku ke mimpi-mimpi berikutnya. Bukankah seribu langkah di depan harus dimulai dari satu langkah hari ini?!


Tentang cinta, keluarga dan teman-teman


Tentu selama masa kuliah, aku tak hidup sendiri. Aku memiliki keluarga sederhana yang menyederhanakan. Satu mum, satu daddy dan dua adik yang bawel multifungsi. Aku juga bukan mahasiswi yang baik semasa kuliah. Punya teman-teman dari kalangan mana saja. Percaya atau tidak, selama kuliah aku juga mengenal dunia yang tak pernah ku duga. Dunia malam. Tidak, aku bukan masuk di dalamnya. Tapi aku memang tak membatasi diriku dalam berteman. Berteman dengan seorang ‘pemakai’, ‘wanita malam’, sampai berteman dengan anak-anak rohis pun ku jabanin. Itulah alas an kenapa aku tak menyebutkan satupun nama teman di dalam skripsi. Kebanyakan, Cing! Ya, aku sangat suka berteman. Aku punya solidaritas yang cukup dan tak pernah memilah. Sifat itu membuatku jarang sekali kesepian.

Let’s talking about love. Aku juga manusia normal yang pernah merasakan cinta. Tak dapat ku kisahkan disisni kisah cintaku semasa kuliah. Yang jelas, aku tak mengabaikan kehidupan cinta walaupun bagiku itu bukan prioritas saat itu. Aku pernah merasakan mencintai dan dicintai oleh orang lain dengan sikap dan sifat berlainan. Sedih, bahagia, putus, nyambung, berbunga, patah hati, semuanya memberiku pelajaran untuk kehidupanku di masa yang akan dating. Juz learn from the past! Sekarang, aku memilih sendiri dulu. Bukan karena aku anti-cinta. Tapi aku juga sedang mencari yang tepat. Tidak, jangan dengar jika ada yang mengatakan aku seorang pemilih. Sungguh, aku tidak memilih-milih. Aku hanya butuh waktu untuk… sendiri. *Maaf untuk jiwa-jiwa yang pernah ku sakiti. Adapun jiwaku yang juga pernah tersakiti, aku telah memafkan*


Dare to dream!

Jangan panggil aku ranger kalau tidak berani bermimpi. Lalu, siapa lagi yang berani bilang bahwa organisasi, kerja sampingan dan bergaul dengan siapa saja bisa membuat kita lama menamatkan kuliah, hah? Aku telah mempertaruhkan semuanya di meja sidang pada 25 Agustus 2010. Aku memang ingin cepat, tapi tidak asal. Cepat dan tepat dengan cara yang cerdas.
Aku masih punya sejuta mimpi setelah ini. Kenapa mesti takut untuk bermimpi. Ada Allah yang menemani langkah menuju mimpi. Remember: Mimpi juga butuh aksi. Jangan pernah biarkan dia mati. Jika satu mimpi pergi, tumbuhkan mimpi lain lagi. Kita berpikir, maka kita akan membuat orang lain juga bisa berpikir tentang kita. Aku bukan manusia sempurna, tapi aku sanggup bermimpi dengan sempurna.

With luv, Meila R

2 comments:

  1. I like this...
    Lanjutkan, tp jgn lupa sama sang khaliq dn restu ortu...
    Smua akan sia2 tanpa ridho dn restu mreka ber 2...

    ReplyDelete

Jatuh Cinta

  Jika ada perasaan yang paling indah di dunia, mungkin salah satunya adalah jatuh cinta. Perasaan ini membuat seseorang tersenyum tanpa ala...